Ending 'Dead or Alive' di JoJo Steel Ball Run Picu Kontroversi, Warisan Musik Anime Terancam
Baca dalam 60 detik
- Penggemar JoJo's Bizarre Adventure kecewa dengan lagu ending Steel Ball Run yang dinilai menyimpang dari tradisi lagu Barat.
- Peralihan produksi musik ke Warner Music Japan dan wafatnya produser Hiroyuki Omori menjadi akar perubahan kebijakan.
- Kontroversi ini berpotensi memaksa revisi ending atau bahkan mengubah arah musik anime di masa depan.

Penggemar setia JoJo's Bizarre Adventure dikejutkan oleh keputusan produksi Steel Ball Run yang mengganti lagu ending dari tradisi lagu Barat menjadi lagu hip-hop Jepang berjudul "Dead or Alive" karya Yuki Chiba. Perubahan ini tidak hanya memicu perdebatan sengit di media sosial, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang arah artistik anime yang telah lama dikenal dengan kurasi musiknya yang ikonik.
Sejak adaptasi anime JoJo's Bizarre Adventure pertama kali tayang pada 2012, serial ini telah menjadi fenomena budaya pop global. Salah satu elemen yang paling melekat adalah penggunaan lagu-lagu Barat sebagai tema penutup, mulai dari "Roundabout" oleh Yes, "Walk Like an Egyptian" dari The Bangles, hingga "Distant Dreamer" milik Duffy. Tradisi ini lahir dari keterlibatan langsung pencipta manga, Hirohiko Araki, yang merekomendasikan lagu-lagu yang ia dengarkan saat menggarap setiap bagian cerita. Produser Warner Bros. Japan, Hiroyuki Omori, kemudian mewujudkan visi tersebut dengan melisensi lagu-lagu tersebut meski biayanya tidak murah.
Keputusan untuk beralih ke lagu Jepang kontemporer tidak lepas dari perubahan lanskap industri. Menurut diskusi di kanal YouTube Anime Music Journal yang melibatkan produser musik Akihiro Tomita, penulis musik Ryuichi Sumikawa, dan penulis anime Hisashi Maeda, tanggung jawab produksi musik JoJo's Bizarre Adventure yang sebelumnya dipegang Warner Bros. Japan beralih ke Warner Music Japan mulai dari Steel Ball Run. Perubahan ini terjadi setelah Yuki Chiba menandatangani kontrak besar dengan Warner Music Japan pada 2025 untuk mempercepat karier globalnya, yang salah satunya diwujudkan melalui kolaborasi anime.
Bagi sebagian penggemar, keputusan ini dianggap sebagai pengkhianatan terhadap identitas JoJo. Mereka berpendapat bahwa tanpa Omori, anime ini kehilangan salah satu pilar penting yang membuatnya unik. Namun, di sisi lain, langkah Warner Music Japan untuk mempromosikan artisnya di panggung internasional adalah strategi bisnis yang masuk akal, terutama mengingat pertumbuhan pasar musik anime global. Sayangnya, strategi ini tampaknya meremehkan besarnya basis penggemar JoJo di luar Jepang yang sangat vokal.
"Ini bukan sekadar soal lagu 'Dead or Alive' bagus atau tidak, tetapi tentang ekspektasi penggemar Barat terhadap musik JoJo yang selama ini konsisten," ujar Ryuichi Sumikawa dalam diskusi tersebut.
Kontroversi ini juga berdampak pada jadwal rilis. Setelah premiere dua bagian Steel Ball Run pada Maret 2026, Netflix tidak segera mengumumkan kelanjutan serial. Barulah setelah gelombang protes penggemar, Netflix mengumumkan jadwal rilis mingguan untuk tahap kedua. Tekanan publik yang besar ini menunjukkan bahwa penggemar tidak hanya menonton, tetapi juga memiliki kekuatan untuk mempengaruhi keputusan produksi.
Ke depan, apakah Warner Music Japan akan mempertahankan "Dead or Alive" atau menggantinya dengan lagu lain demi meredam kritik? Jika kontroversi berlanjut, bukan tidak mungkin Steel Ball Run akan mengalami revisi ending, seperti yang pernah terjadi pada beberapa anime lain yang mengubah lagu temanya karena tekanan penggemar. Yang jelas, kasus ini menjadi preseden tentang bagaimana warisan kreatif sebuah serial dapat berbenturan dengan kepentingan komersial di era globalisasi musik anime.



