Disney Pinjamkan Percy Jackson ke Netflix demi Dongkrak Musim Ketiga
Baca dalam 60 detik
- Disney melisensikan dua musim pertama Percy Jackson and the Olympians ke Netflix selama tiga bulan, mulai 4 Oktober, menjelang perilisan musim ketiga pada 20 November.
- Langkah ini menandai pertama kali serial original Disney+ hadir di platform pesaing, sebagai strategi pemasaran silang untuk menjangkau penonton baru.
- Musim ketiga akan mengadaptasi The Titan's Curse, memperkenalkan karakter baru dan dewa-dewi tambahan, namun Disney belum mengonfirmasi perpanjangan musim keempat.

Disney untuk pertama kalinya membuka akses serial originalnya ke platform streaming pesaing. Dua musim awal Percy Jackson and the Olympians akan tersedia di Netflix mulai 4 Oktober 2025, sebagai bagian dari kesepakatan lisensi konten yang juga mencakup sejumlah judul lain dari katalog Disney. Langkah ini diambil untuk membangun basis penonton sebelum musim ketiga tayang perdana pada 20 November mendatang.
Kesepakatan ini bersifat sementara: kedua musim hanya akan tersedia di Netflix selama tiga bulan, cukup untuk memberi kesempatan bagi pelanggan Netflix mencoba serial tersebut sebelum musim baru hadir di Disney+. Selain Percy Jackson, Disney juga menghadirkan seluruh film Ice Age ke Netflix pada tanggal yang sama, serta judul-judul seperti Will Trent, Soul, Elio, Revenge, dan Fresh Off the Boat. Langkah ini menunjukkan strategi Disney memanfaatkan jangkauan Netflix untuk mempromosikan properti yang akan segera memiliki kelanjutan.
Musim ketiga menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya kisah The Titan's Curse diadaptasi ke layar. Dua buku sebelumnya pernah difilmkan oleh 20th Century Fox, tetapi buku ketiga belum pernah disentuh. Alur cerita musim ini akan mengikuti Percy yang mencari Annabeth dan dewi Artemis yang hilang, sekaligus memperkenalkan kakak-beradik di Angelo yang akan berperan besar di sisa serial. Walker Scobell, Leah Sava Jeffries, dan Aryan Simhadri kembali memerankan Percy, Annabeth, dan Grover.
Dari sisi industri, langkah Disney ini mencerminkan pergeseran taktik dalam persaingan streaming. Alih-alih menahan konten secara eksklusif, Disney meminjamkan katalognya ke pesaing untuk memicu rasa penasaran. Model ini mirip dengan strategi yang pernah dilakukan beberapa studio lain, di mana season lama dipakai sebagai lead-in untuk perilisan season baru. Bagi Netflix, kehadiran Percy Jackson dapat menarik demografi keluarga dan remaja yang selama ini menjadi target pasar Disney+. Kerja sama semacam ini juga berpotensi mengurangi churn di kedua platform, meski efek jangka panjangnya masih perlu diuji.
"Kami ingin memastikan sebanyak mungkin orang mengetahui petualangan Percy sebelum musim ketiga dimulai," ujar seorang sumber di Disney, seperti dikutip Variety. "Ini adalah kesempatan untuk memperluas audiens di luar basis pelanggan kami sendiri."
Meski demikian, Disney belum memberikan kepastian mengenai perpanjangan musim keempat. Serial ini memiliki basis penggemar setia, tetapi keputusan untuk melanjutkan produksi biasanya bergantung pada performa musim ketiga, baik dari sisi jumlah penonton maupun respons kritikus. Jika musim ketiga sukses, bukan tidak mungkin Disney akan mempercepat produksi musim berikutnya, terlebih karena masih banyak buku dalam seri Riordan yang belum diadaptasi.
Bagi penonton Indonesia, kesepakatan ini bisa menjadi angin segar. Netflix tersedia luas di Indonesia, sementara Disney+ Hotstar juga memiliki basis pelanggan yang besar. Dengan hadirnya Percy Jackson di Netflix, penonton yang belum berlangganan Disney+ Hotstar dapat menikmati dua musim pertama secara legal. Ini juga dapat mendorong diskusi di media sosial dan komunitas penggemar lokal, yang selama ini aktif membahas adaptasi karya Rick Riordan. Namun, perlu dicatat bahwa ketersediaan konten di Netflix Indonesia tetap bergantung pada lisensi regional, sehingga jadwal dan katalog bisa berbeda dari Amerika Serikat.
Ke depan, apakah model lisensi silang ini akan menjadi tren baru di industri streaming? Jika Disney sukses mendongkrak jumlah penonton musim ketiga melalui Netflix, bukan tidak mungkin studio lain akan mengikuti jejak serupa. Di sisi lain, penonton perlu mencermati apakah kehadiran konten di platform pesaing akan mengurangi eksklusivitas yang selama ini menjadi daya tarik utama layanan streaming. Yang jelas, persaingan antarplatform semakin cair, dan batas antara 'rumah' bagi sebuah waralaba menjadi kabur.



