Kenaikan Suku Bunga Australia Picu Krisis Kesehatan Mental: Ketika Hidup Tak Lagi Terjangkau
Baca dalam 60 detik
- Survei HILDA mengungkap lonjakan tekanan perumahan dan kerawanan pangan di Australia, dengan 17,9% rumah tangga kesulitan akses makanan layak pada 2024.
- Para ahli dari University of Melbourne menilai krisis biaya hidup bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan darurat kesehatan publik yang memicu depresi dan kecemasan.
- Petani, pekerja, dan orang tua tunggal terpaksa mengubah pola hidup drastis—dari mengurangi jadwal pengobatan hingga menunda memiliki anak—seiring kenaikan suku bunga tertinggi sejak 2011.

Kenaikan suku bunga acuan Australia ke level 4,6%—tertinggi sejak 2011—menjadi pukulan telak bagi rumah tangga yang sudah lama bertahan di bawah tekanan biaya hidup. Data terbaru dari Household, Income and Labour Dynamics in Australia (HILDA) menunjukkan bahwa tekanan perumahan, penurunan kesejahteraan finansial, dan kerawanan pangan kini menjangkiti lebih banyak keluarga. Yang lebih mengkhawatirkan, para pakar kesehatan publik menilai situasi ini telah melampaui persoalan ekonomi dan berubah menjadi krisis kesehatan jiwa.
Survei HILDA yang melacak lebih dari 17.000 warga Australia setiap tahun menemukan bahwa kerawanan pangan—ketidakmampuan kronis membeli makanan layak—melonjak dari 13,7% pada 2020 menjadi 17,9% pada 2024. Angka ini dikumpulkan sebelum rangkaian kenaikan suku bunga dan lonjakan harga bahan bakar tahun ini, sehingga dampak sesungguhnya diperkirakan lebih dalam. Satu dari empat rumah tangga melaporkan setidaknya satu masalah arus kas dalam setahun terakhir, dan untuk orang tua tunggal, angka itu hampir dua kali lipat.
Dr Lay San Too dan Dr Yamna Taouk, peneliti senior di sekolah kesehatan populasi dan global University of Melbourne, dalam makalah terbaru mereka menyimpulkan bahwa kesulitan finansial kini berkorelasi lebih kuat dengan buruknya kesehatan mental dibanding sebelum krisis. “Pengalaman kesulitan yang sama tampaknya lebih merusak kesehatan mental selama krisis biaya hidup dibanding sebelumnya,” ujar Taouk. Ia menambahkan bahwa ketika tabungan dan bantalan finansial habis, seseorang kehilangan kendali atas hidupnya, yang dapat memicu depresi dan kecemasan berkepanjangan.
“Ketika orang merasa semua semakin mahal dan kerja keras tidak lagi cukup, stres berkepanjangan dan hilangnya rasa kendali muncul. Seiring waktu, ini menggerus rasa aman dan meningkatkan risiko gangguan mental yang lebih serius.” — Dr Yamna Taouk
Dampaknya terlihat nyata pada individu. Taylor, seorang terapis yang menyewa rumah di Parramatta, Sydney, mengaku tidurnya terganggu setiap kali tagihan kartu kredit jatuh tempo. Ia dan suaminya kini berbelanja malam hari hanya untuk membeli daging diskon, mengubah pertemuan sosial menjadi jalan kaki, dan meminta hadiah ulang tahun berupa voucher supermarket. Yang paling memilukan, ia mengurangi konsumsi obat resep menjadi dua hari sekali untuk menghemat biaya. “Saya merasa putus asa,” ujarnya.
Lauren Bennett, ibu tunggal dengan pekerjaan tetap di pemerintahan, menggambarkan kondisinya sebagai “hidup dari gaji ke gaji”. Ia telah membatalkan keanggotaan gym, langganan streaming, dan mengurangi jadwal medisnya sendiri demi membiayai spesialis anaknya. “Kota ini tidak dirancang untuk rumah tangga berpendapatan tunggal, apalagi orang tua tunggal,” katanya. Sementara Erin Richardson, 31, menunda kehamilan karena khawatir biaya membesarkan anak akan menghancurkan kapasitas kreditnya. “Ini terasa seperti wilayah tak bertuan,” tuturnya.
Di sektor pertanian, Justin Everitt, petani generasi ketiga di New South Wales selatan, menyebut kenaikan suku bunga sebagai “tendangan ke ulu hati”. Biaya bahan bakar memengaruhi setiap aspek operasional, dari panen hingga distribusi. “Jika kami tidak bisa panen tepat waktu, tidak ada gandum untuk roti atau jelai untuk bir,” ujarnya. Ia menilai titik kritis telah terlewati. “Ini seperti hujan pukulan setelah Anda terkapar. Anda tidak bisa mematikan krisis biaya hidup.”
Krisis ini juga tercermin dalam survei Lowy Institute yang untuk pertama kalinya menunjukkan lebih banyak warga Australia pesimistis terhadap kinerja ekonomi negaranya. Sementara itu, data General Social Survey mengonfirmasi peningkatan stres finansial yang signifikan. Para peneliti memperingatkan bahwa tanpa intervensi kebijakan yang menyeluruh—bukan sekadar bantuan tunai jangka pendek—kesehatan mental masyarakat akan terus merosot. Pertanyaannya kini: seberapa dalam lagi lapisan masyarakat harus tertekan sebelum pemerintah menganggap ini sebagai darurat kesehatan publik, bukan sekadar angka inflasi?



