Instagram Uji Mode Read-Only, Pengguna Bisa Intip Profil Tanpa Jejak
Baca dalam 60 detik
- Instagram tengah menguji fitur read-only yang memungkinkan pengguna melihat profil tanpa bisa berinteraksi.
- Fitur ini kabarnya akan menjadi bagian dari paket berlangganan Instagram Plus, memicu perdebatan soal privasi dan potensi penyalahgunaan.
- Langkah ini bisa mengubah perilaku pengguna dalam menjelajah media sosial, namun menimbulkan kekhawatiran soal penguntitan.

Instagram dikabarkan sedang menguji sebuah fitur baru yang memungkinkan pengguna melihat profil orang lain dalam mode read-only, tanpa bisa melakukan interaksi apa pun. Fitur ini pertama kali terungkap melalui cuitan peneliti aplikasi Alessandro Paluzzi, yang membagikan tangkapan layar opsi tersebut. Jika diimplementasikan, pengguna dapat menelusuri unggahan tanpa takut tidak sengaja menekan tombol suka atau meninggalkan komentar.
Mode read-only ini disebut akan menjadi bagian dari paket berlangganan berbayar Instagram Plus. Artinya, hanya pelanggan yang membayar yang bisa menikmati fitur ini. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya Instagram untuk menambah nilai jual layanan premiumnya, di tengah persaingan platform media sosial yang semakin ketat dalam memonetisasi basis pengguna.
Secara teknis, ketika seseorang mengaktifkan mode ini, mereka tidak akan bisa menyukai, mengomentari, mengirim pesan, mengikuti, atau bahkan melihat Stories dari profil yang sedang diintip. Fitur ini jelas menyasar perilaku 'lurking'โistilah untuk mereka yang gemar menjelajah konten orang lain tanpa ingin diketahui. Bagi sebagian orang, ini bisa menjadi solusi untuk memuaskan rasa penasaran tanpa risiko meninggalkan jejak digital.
Namun, kemudahan ini menimbulkan pertanyaan etis. Di satu sisi, fitur ini bisa membantu seseorang yang ingin mengorek informasi tentang gebetan atau mantan tanpa ketahuan. Di sisi lain, mode read-only berpotensi menjadi alat bagi penguntit untuk memantau korban tanpa interaksi yang mencurigakan. Instagram pun dihadapkan pada dilema: apakah mereka ingin secara aktif mendukung perilaku semacam itu?
"Mode read-only bisa jadi pedang bermata dua. Di satu sisi memberi kenyamanan, di sisi lain membuka celah penyalahgunaan," ujar seorang pengamat media sosial.
Meski demikian, belum ada konfirmasi resmi dari Instagram mengenai kapan fitur ini akan diluncurkan secara global. Jika benar-benar hadir, fitur ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi pengguna yang selama ini enggan berinteraksi karena takut salah pencet. Namun, dampaknya terhadap privasi dan keamanan pengguna masih perlu dicermati.
Di Indonesia, di mana Instagram menjadi salah satu platform media sosial terpopuler, kehadiran fitur ini bisa memicu diskusi serupa. Banyak pengguna Tanah Air yang aktif mengintip profil tanpa berinteraksi, dan mode read-only bisa menjadi solusi praktis. Namun, literasi digital dan kesadaran akan batasan privasi tetap menjadi kunci agar fitur ini tidak disalahgunakan.
Ke depan, menarik untuk melihat bagaimana Instagram menyeimbangkan antara inovasi fitur dan tanggung jawab sosial. Apakah mode read-only akan menjadi standar baru dalam menjelajah media sosial, atau justru memicu kontroversi yang lebih besar? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: batas antara privasi dan eksplorasi semakin kabur.



