Filipina Tumbangkan Thailand 2-1 di Laga Dramatis yang Tertunda 40 Menit, Indonesia Sudah Menanti di Final
Baca dalam 60 detik
- Filipina menutup fase grup dengan kemenangan mengejutkan 2-1 atas Thailand di Stadion Si Jalak Harupat, meski pertandingan sempat dihentikan 40 menit akibat cuaca ekstrem.
- Hasil ini tidak mengubah posisi klasemen: Thailand tetap juara Grup B dengan enam poin, sementara Filipina finis ketiga dengan empat poin.
- Thailand akan menghadapi Timnas Indonesia di partai puncak FIFA ASEAN Cup 2026 pada Senin (5/10/2026) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Timnas Filipina menutup petualangannya di Grup B FIFA ASEAN Cup 2026 dengan kemenangan dramatis 2-1 atas Thailand di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Bandung, Jumat (2/10/2026). Laga yang sempat terhenti sekitar 40 menit akibat cuaca buruk itu tidak mengubah posisi klasemen, tetapi menjadi sinyal bahwa The Azkals bukan sekadar pelengkap turnamen.
Sejak awal, Filipina tampil mengejutkan. Kristensen Bjorn Martin membuka keunggulan saat laga baru berjalan tiga menit, memanfaatkan celah di lini belakang Thailand yang tampak belum panas. Gol cepat itu memaksa Thailand bermain mengejar sepanjang babak pertama, namun rapatnya pertahanan Filipina membuat skor 1-0 bertahan hingga turun minum.
Masalah datang bukan dari lapangan, melainkan dari langit. Hujan deras yang mengguyur kawasan Bandung membuat wasit menghentikan pertandingan sebelum babak kedua dimulai. Setelah penundaan sekitar 40 menit, laga dilanjutkan. Thailand langsung merespons lewat gol indah Sanron Iklas pada menit ke-55, menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
Namun, Filipina tak tinggal diam. Pada menit ke-68, Kristensen Bjorn Martin kembali mencatatkan namanya di papan skor, mencetak gol kedua sekaligus membawa The Azkals unggul 2-1. Keunggulan itu bertahan hingga peluit panjang, meski Thailand terus menekan di sisa waktu.
Kemenangan ini memang tidak mengubah nasib Filipina di klasemen. Mereka tetap finis di peringkat ketiga dengan empat poin, sementara Thailand kokoh di puncak dengan enam poin. Namun, bagi Thailand, kekalahan ini menjadi pukulan mental menjelang partai puncak. Pelatih Thailand, Mano Polking, mengakui bahwa kondisi cuaca dan gangguan pertandingan memengaruhi ritme timnya. "Kami kehilangan konsentrasi setelah jeda panjang, dan Filipina memanfaatkannya dengan baik," ujarnya dalam konferensi pers usai laga.
Bagi Indonesia, hasil ini menjadi peringatan sekaligus peluang. Thailand tetap menjadi lawan yang tangguh, tetapi kekalahan dari Filipina menunjukkan bahwa lini belakang mereka bisa goyah ketika menghadapi serangan cepat. Tim asuhan Shin Tae-yong tentu sudah menganalisis celah tersebut. Final yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin (5/10/2026), akan menjadi ujian sesungguhnya bagi kedua tim.
Di sisi lain, Filipina pulang dengan kepala tegak. Meski gagal melaju, kemenangan atas Thailand membuktikan bahwa sepak bola Asia Tenggara semakin kompetitif. The Azkals telah menunjukkan bahwa mereka mampu mengalahkan tim yang secara peringkat lebih diunggulkan. Ini bisa menjadi fondasi bagi pengembangan sepak bola Filipina ke depan.
Pertanyaan besarnya kini: apakah Thailand mampu bangkit dari kekalahan ini, atau justru Indonesia yang akan memanfaatkan momentum untuk merebut gelar di hadapan pendukung sendiri? Final nanti bukan hanya soal trofi, tetapi juga gengsi dan pembuktian siapa yang layak menjadi raja sepak bola ASEAN.



