Pendiri Verona Sebut Ketakutan AI Doomsday Lebih soal Bisnis daripada Nyawa Manusia
Baca dalam 60 detik
- Anthony Anzalone menilai narasi kiamat AI sebagian besar didorong oleh insentif korporasi, bukan ancaman nyata terhadap eksistensi manusia.
- Ia menyoroti pola berulang di mana perusahaan AI besar mendorong regulasi yang justru menghambat pesaing baru, mirip dengan dinamika di industri kripto.
- Verona mengembangkan sistem verifikasi kriptografis untuk memerangi konten AI palsu, dengan ambisi memberi pengguna kendali dan kompensasi atas data mereka.

Anthony Anzalone, pendiri dan CEO Verona, menolak narasi kiamat kecerdasan buatan yang kerap digaungkan raksasa teknologi. Dalam wawancara dengan Coinage, ia menegaskan bahwa sebagian besar peringatan dramatis tentang AI lebih mencerminkan kepentingan bisnis ketimbang ancaman nyata terhadap umat manusia. "Saya tidak termasuk yang percaya kita semua akan mati," ujarnya, seraya menyoroti bahwa retorika menakutkan sering kali datang dari perusahaan yang diuntungkan jika kompetitor melambat.
Anzalone melihat pola siklikal dalam industri AI: generasi pengembang sebelumnya memperingatkan risiko, lalu meluncurkan produk baru, dan akhirnya mengeluarkan peringatan serupa. Ia mencontohkan OpenAI yang lahir dari kekhawatiran terhadap dominasi Google, dan Anthropic yang didirikan oleh mantan karyawan OpenAI. Kini, perusahaan-perusahaan terkemuka justru menjadi suara paling lantang yang menyerukan kehati-hatian. "Setiap pengumuman selalu seperti, 'Kami baru membuat sesuatu. Itu menghancurkan internet, tapi kami tidak akan menunjukkannya,'" candanya.
Pekan lalu, Presiden Trump mengundang sejumlah pemimpin AI ke Gedung Putih, termasuk Mark Zuckerberg dan CEO Anthropic Dario Amodei. Mereka menandatangani pakta keamanan sukarela yang bertujuan mengatur diri sendiri. Zuckerberg menyebut kesepakatan itu sebagai "seperangkat prinsip dan komitmen untuk membangun kontrol internal yang kuat, deteksi masalah, serta audit berlapis." Namun bagi Anzalone, pertanyaan krusialnya adalah bagaimana peringatan tersebut memengaruhi regulasi.
Anzalone mengaitkan fenomena ini dengan pengalaman industri kripto. Ketika Bitcoin berkembang, konsumsi listriknya menjadi senjata utama untuk menyerang teknologi tersebut. Kini, kekhawatiran serupa diarahkan pada kebutuhan energi pusat data AI. "Setiap kali ada teknologi baru, selalu ada orang yang sangat takut," katanya. Ia menilai regulasi yang dirancang untuk melindungi konsumen sering kali justru menaikkan hambatan bagi pemain baru, seperti yang terjadi di sektor kripto.
"Jika saya perusahaan yang sedang tumbuh pesat dan akan IPO, mungkin saya akan mendatangi pemerintah dan meminta perlambatan pertumbuhanโbahkan secara wajib," ujar Anzalone, memberi contoh hipotetis.
Perbandingan dengan Tiongkok memperkuat skeptisismenya. Selama sebulan di sana, ia merasakan antusiasme dan pembangunan infrastruktur AI yang masif, kontras dengan narasi Amerika yang terlalu fokus pada risiko. "Mentalitas di sana sangat berbeda. Ada teknologi baru, semuanya sedang dibangun," ujarnya. Hal ini membuatnya waspada terhadap percakapan di AS yang mengabaikan perlunya membangun komputasi, energi, dan pusat data untuk bersaing.
Di tengah banjir konten AI, Verona berupaya menghadirkan solusi berbasis kriptografi. Anzalone menjelaskan bahwa produk mereka memungkinkan pengguna membuktikan informasi tentang diri mereka dan memutuskan di mana membagikannya. Ambisi jangka panjangnya adalah sistem di mana pengguna membawa data terverifikasi dan mendapat bayaran ketika perusahaan menginginkan akses. "Ada begitu banyak sampah di dunia, Anda tidak tahu apa yang nyata," tegasnya. Konvergensi kripto dan AI ini dinilai semakin relevan karena AI membuat pemalsuan dokumen, identitas, dan pengguna menjadi sangat murah.
Ke depan, pertanyaan yang tersisa: ketika para pembangun sistem AI paling kuat meminta publik untuk takut, siapa sebenarnya yang diuntungkan dari rasa takut itu? Jawabannya mungkin akan menentukan arah regulasi dan inovasi di tahun-tahun mendatang.



