Mekies Dianggap Akhiri Kutukan Kursi Kedua Red Bull, Hadjar Kini Bersinar
Baca dalam 60 detik
- Will Buxton menilai budaya tim yang dibangun Laurent Mekies menghapus tekanan ekstrem yang selama ini menghantui pendamping Max Verstappen.
- Isack Hadjar tampil impresif setelah kembali dari cedera pergelangan tangan, finis ketiga di Grand Prix Azerbaijan.
- Pendekatan kepemimpinan yang lebih suportif berpotensi mengubah cara Red Bull mengelola pembalap muda di masa depan.

Red Bull Racing diklaim telah mengakhiri kutukan kursi kedua yang selama bertahun-tahun menjadi momok bagi rekan setim Max Verstappen. Penilaian itu datang dari komentator Formula 1, Will Buxton, yang menyoroti peran kepala tim Laurent Mekies dalam mengubah budaya kerja di tim asal Milton Keynes tersebut.
Selama ini, kursi di samping Verstappen dikenal sebagai posisi paling tidak nyaman di grid. Sergio Perez, yang kini membela Cadillac, tersingkir pada 2025 dan digantikan Liam Lawson. Namun, pembalap Selandia Baru itu hanya bertahan dua pekan balapan sebelum dikembalikan ke Racing Bulls. Yuki Tsunoda kemudian mengisi kursi tersebut hingga akhir musim 2025, sebelum Isack Hadjar dipromosikan pada 2026 dan langsung menunjukkan performa menjanjikan.
Dalam podcast Up To Speed, Buxton berargumen bahwa gaya manajemen Mekies yang lebih modern memberi ruang bagi Hadjar untuk berkembang. "Mungkin kutukan ini hilang bukan karena apa yang dilakukan Isack, melainkan karena apa yang dilakukan Laurent dan budayanya di tim," ujarnya. Ia membandingkan dengan era Christian Horner dan Dr Helmut Marko yang menerapkan filosofi "berlian ditempa di bawah tekanan".
Pendekatan Mekies yang lebih suportif—memberi dukungan alih-alih tekanan berlebihan—dinilai memungkinkan Hadjar pulih secara mental dan fisik. Pembalap Prancis itu bahkan kembali dengan kontrak baru di kantongnya, bukan dengan beban tambahan. "Mungkin itu yang membuat Isack bisa mengeluarkan potensi maksimalnya," kata Buxton.
"Dengan menghilangkan tekanan dan mungkin merangkul serta menciptakan ruang yang aman, Isack bisa pergi hampir dua bulan, memulihkan diri, dan kembali dengan kontrak baru di kantongnya, bukan dengan tekanan tambahan."
— Will Buxton, komentator F1
Perubahan budaya tim ini menjadi sorotan karena Red Bull selama ini dikenal dengan pendekatan keras terhadap pembalap muda. Jika Mekies mampu mempertahankan suasana kondusif, bukan tidak mungkin Red Bull akan menjadi tujuan yang lebih menarik bagi talenta muda di masa depan. Dampaknya tidak hanya pada performa di lintasan, tetapi juga pada stabilitas jangka panjang tim.
Meski demikian, keberhasilan Hadjar masih perlu diuji konsistensinya sepanjang musim. Tekanan dari dalam dan luar tim tetap ada, terutama dengan ekspektasi tinggi dari manajemen. Namun, sinyal positif dari Azerbaijan setidaknya memberi harapan bahwa era "kursi panas" di Red Bull mulai meredup.
Ke depan, publik F1 akan menantikan apakah pendekatan humanis Mekies benar-benar menjadi standar baru di paddock, atau hanya fenomena sementara. Jika terbukti sukses, cara ini bisa ditiru tim lain yang selama ini mengandalkan tekanan sebagai alat pendorong performa.



