Bono Ungkap Penolakan Ed Sheeran Berpolitik di Balik Kolaborasi 'Yours Eternally'
Baca dalam 60 detik
- Bono mengungkapkan bahwa Ed Sheeran secara eksplisit meminta agar kolaborasi mereka tidak dijadikan alat politik.
- Kontroversi penurunan Macklemore dari tur AS Ed Sheeran memicu perdebatan tentang batas keterlibatan artis dalam isu politik.
- U2 menegaskan bahwa tekanan dari promotor atau pemilik venue tidak boleh mengintervensi kebebasan berekspresi musisi di atas panggung.

Vokalis U2, Bono, mengungkapkan bahwa Ed Sheeran menolak menjadikan lagu kolaborasi mereka, "Yours Eternally", sebagai kendaraan politik. Dalam wawancara dengan Rolling Stone UK, Bono menceritakan percakapan saat keduanya menggarap trek tersebutโyang liriknya berbentuk surat seorang tentara Ukraina dari garis depanโdi mana Sheeran dengan tegas mengatakan, "Kamu tidak akan membawaku ke politik, kan?"
Permintaan itu muncul ketika Bono menjelaskan bahwa sosok tentara dalam lagu tersebut adalah penggemar berat Sheeran. Penyanyi asal Inggris itu menjawab, "Ya, tapi aku hanya ingin menjaga kebebasanku." Bono pun menegaskan bahwa ia tidak ingin memperbesar insiden yang menimpa Sheeran dan Macklemore, dengan mengatakan, "Kita tidak boleh mempersonalisasi apa yang sedang terjadi."
Kontroversi bermula ketika Macklemore, yang menjadi pembuka konser Sheeran di MetLife Stadium, New Jersey, September lalu, menyampaikan pidato "Free Palestine". Akibatnya, promotor konser Robert Kraft dilaporkan melarang Macklemore tampil di stadionnya dan diduga mengimbau pemilik venue lain untuk melakukan hal serupa. Kraft membantah tuduhan tersebut dan justru bekerja sama dengan Sheeran untuk menggelontorkan dana bantuan kemanusiaan.
Menanggapi tekanan terhadap artis, Bono menegaskan, "Kita tidak bisa mendikte orang lain." Ia juga mengingatkan bahwa bintang pop hanyalah "ikan kecil di lautan besar kekuatan politik dan agama," mengutip pernyataan Brian Eno. Sikap ini diperkuat oleh drummer U2, Larry Mullen Jr., yang menyatakan bahwa setiap musisi berhak memilih untuk terlibat atau tidak dalam isu politik, dan bukan tugas pihak lain untuk mengkritik keputusan tersebut.
"Kami sangat jelas soal promotor atau pemilik miliarder dan gagasan bahwa mereka bisa memengaruhi apa yang Anda katakan atau lakukan di panggung. Jika logika itu diterapkan pada U2, kami sudah bangkrut saat 'Sunday Bloody Sunday'."
โ Larry Mullen Jr.
Pernyataan U2 ini menyoroti ketegangan yang kerap muncul di industri musik global: antara kebebasan artistik dan tekanan komersial dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan bisnis. Di Indonesia, fenomena serupa juga mengemuka ketika musisi menyuarakan pandangan politik di atas panggung, sering kali memicu reaksi dari penyelenggara atau sponsor. Meski skala dan konteksnya berbeda, prinsipnya tetap sama: sejauh mana seorang artis boleh menyuarakan sikap tanpa harus kehilangan panggung?
Kasus Sheeran dan Macklemore menjadi cermin bagaimana dinamika kekuasaan di balik layar konser dapat membentuk narasi publik. Bono dan U2 memilih untuk tidak memperkeruh situasi, namun tetap menggarisbawahi pentingnya ruang bagi ekspresi artistik. Ke depan, publik akan menantikan apakah Sheeran akan mempertahankan sikap apolitisnya, atau justru semakin terdorong untuk bersuara mengingat tekanan yang ada. Yang jelas, batas antara musik dan politik semakin sulit ditarik ketika panggung menjadi arena pertarungan nilai.



