Marc Marquez Bantah Marah di Podium Sprint Austria: Saya Hanya Hemat Energi
Baca dalam 60 detik
- Marc Marquez menjelaskan ekspresi seriusnya di podium sprint Austria sebagai strategi penghematan energi, bukan kemarahan.
- Jadwal balapan beruntun dan cedera bahu membuat Marquez harus mengelola stamina secara ketat, terutama menjelang paruh akhir musim.
- Marquez menyatakan akan mengubah pendekatannya dari bertahan menjadi menyerang, dimulai dari GP Jepang di Motegi.

Marc Marquez akhirnya buka suara soal raut wajahnya yang terlihat masam saat berdiri di podium sprint MotoGP Austria, beberapa waktu lalu. Pembalap Repsol Honda itu menegaskan tidak ada kemarahan atau kekecewaan yang tersimpan. Semua hanya soal strategi bertahan hidup di tengah jadwal balapan yang padat.
Dalam sprint di Sirkuit Spielberg, Marquez finis kedua di belakang Jorge Martin dari Aprilia. Alih-alih merayakan hasil tersebut, ia tampak enggan tersenyum dan cenderung menghindari interaksi. Sikap itu memicu spekulasi di kalangan penggemar dan media, mengingat Marquez biasanya dikenal kompetitif namun tetap sportif. Beberapa pihak menduga ada masalah internal atau kekecewaan tersembunyi.
Namun, berbicara kepada media Spanyol menjelang GP Jepang akhir pekan ini, juara dunia MotoGP bertahan itu memberikan penjelasan sederhana. Menurutnya, menahan emosi adalah bagian dari manajemen energi. "Kadang-kalau kita merasa begini, tidak perlu disembunyikan, kan? Saat itu saya fokus, serius, mengatur napas, berusaha menghemat tenaga sebanyak mungkin untuk hari Minggu, karena saya tahu balapannya akan panjang," ujarnya.
"Jika tersenyum atau tertawa lepas menghabiskan energi, saya memilih untuk tetap serius. Jadi saya tidak marah atau apa pun. Target saya di sprint sudah tercapai, tapi hari Sabtu secara mental sangat menguras tenaga."
Marquez juga menyoroti bahwa rangkaian balapan Eropa, terutama setelah GP San Marino di Misano, benar-benar menguji ketahanan fisik. Sirkuit Spielberg yang memiliki banyak tikungan ke kanan memang tidak ideal untuk kondisi bahunya yang masih dalam pemulihan. Meski suhu udara tidak ekstrem, tekanan mental dan fisik dari sesi latihan, kualifikasi, sprint, hingga balapan utama tetap terasa.
"Itu akhir pekan yang melelahkan, apalagi setelah Misano. Yang saya lakukan, dan selalu saya lakukan setiap pekan, adalah menghemat energi sebanyak mungkin. Bukan hanya yang terlihat di lintasan, tapi juga saat masih memakai balap dan tetap berkeringat," tambahnya. Prosesi podium dan wawancara media, lanjut Marquez, turut menguras stamina yang sudah terkuras habis.
Pernyataan Marquez ini juga menepis anggapan bahwa ia sedang tidak puas dengan performa motor atau tim. Ia menegaskan bahwa fokus utamanya adalah menjaga kebugaran hingga akhir musim. Dengan sisa kalender yang padat, termasuk dua balapan beruntun dan kemungkinan tiga balapan beruntun, pengelolaan energi menjadi kunci untuk tetap kompetitif.
Menariknya, Marquez mengisyaratkan perubahan pendekatan. Jika sebelumnya ia memilih taktik bertahan untuk meminimalkan kerugian di sirkuit yang kurang menguntungkan, kini ia akan beralih ke mode menyerang. "Mulai sekarang, semuanya tentang menyerang. Oke, mungkin jika terjadi sesuatu seperti di Austria hari Minggu kemarin, Anda harus menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. Tapi setiap poin penting di seluruh kejuaraan," tegasnya.
Dengan sepertiga musim tersisa, Marquez menegaskan fokusnya adalah menyerang di Motegi, sirkuit yang secara historis bersahabat baginya. Namun, ia enggan berkomentar banyak soal sirkuit-sirkuit yang dianggap kurang menguntungkan, termasuk Mandalika. Sikap ini menunjukkan bahwa ia tidak ingin terjebak dalam pembicaraan defensif dan lebih memilih fokus pada balapan yang akan dihadapi.
Bagi penggemar MotoGP di Indonesia, pernyataan Marquez ini menjadi sinyal bahwa ia tidak akan menyerah dalam perebutan gelar. Meski tengah dilanda cedera, tekadnya untuk tampil agresif di sisa musim patut dinantikan. Akankah strategi menyerang ini membuahkan hasil di Motegi dan Mandalika? Kita tunggu aksinya di lintasan.



