Solano Tantang Vietnam: Pakistan Bukan Sekadar Pelengkap di FIFA ASEAN Cup 2026
Baca dalam 60 detik
- Pakistan menahan imbang Filipina 2-2 dan masih berpeluang memberi kejutan di laga terakhir Grup B melawan Vietnam.
- Selisih peringkat FIFA sangat mencolok, Vietnam di posisi 99 dan Pakistan ke-198, namun Solano menolak timnya dianggap tanpa harapan.
- Laga di Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi ujian kredibilitas Pakistan sekaligus kesempatan Vietnam bangkit setelah kalah dari Thailand.

Timnas Pakistan akan menghadapi Timnas Vietnam pada laga pamungkas Grup B FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Laga ini menjadi sorotan karena jarak peringkat FIFA kedua tim yang sangat lebar: Vietnam berada di posisi 99, sementara Pakistan tertahan di peringkat 198.
Meski demikian, Pakistan datang dengan modal kepercayaan diri setelah menahan imbang Filipina 2-2 di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, beberapa hari sebelumnya. Hasil itu membuktikan bahwa tim asuhan Nolberto Solano bukan sekadar pelengkap turnamen. Pelatih asal Peru itu menegaskan bahwa anak asuhnya tidak akan gentar menghadapi Vietnam, yang secara statistik jauh lebih unggul.
"Kami tahu ini akan menjadi pertandingan yang berat. Sejauh ini kami sudah menghadapi Thailand dan Filipina, tetapi laga melawan Vietnam punya arti tersendiri. Mereka ingin mengakhiri turnamen dengan hasil baik," ujar Solano dalam sesi konferensi pers di Stadion Madya, GBK, Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Solano mengakui bahwa secara peringkat, Vietnam jauh di atas Pakistan. Namun, ia menolak anggapan bahwa hasil pertandingan sudah bisa diprediksi hanya dari angka. "Sepak bola itu dinamis. Baru di kompetisi ini mereka mulai kalah dalam beberapa pertandingan. Kami sangat menghormati mereka, tetapi kami tidak takut pada siapa pun," tegasnya.
Pernyataan Solano mencerminkan filosofi yang ia tanamkan sejak mengambil alih kursi pelatih pada Juli 2025. Mantan pemain Newcastle United itu ingin membangun mentalitas kompetitif di skuad Pakistan, yang selama ini lebih sering menjadi underdog di kancah Asia. Menurutnya, peringkat FIFA hanyalah indikator, bukan penentu akhir. "Jika Anda memenangkan pertandingan, posisi Anda akan naik. Itu sebabnya kami fokus pada setiap laga," tambahnya.
"Kami tidak takut pada siapa pun. Kami harus kuat dan melihat apa yang terjadi Jumat nanti." โ Nolberto Solano
Di sisi lain, Vietnam datang dengan tekanan besar. Kekalahan 0-2 dari Thailand membuat peluang mereka untuk lolos dari fase grup menjadi lebih rumit. The Golden Star Warriors dituntut meraih kemenangan atas Pakistan untuk menjaga asa, sekaligus membuktikan bahwa peringkat 99 FIFA bukanlah jaminan. Laga ini juga menjadi ajang pembuktian bagi pelatih Vietnam untuk mengembalikan momentum tim.
Bagi Pakistan, pertandingan ini adalah peluang emas untuk mencuri perhatian. Kiprah mereka di turnamen ini, terutama setelah menahan imbang Filipina, menunjukkan bahwa sepak bola Asia Tenggara tidak lagi bisa diremehkan. Kehadiran Solano sebagai pelatih berlisensi Eropa turut mengangkat profil tim, meski secara infrastruktur dan pembinaan Pakistan masih tertinggal jauh dari Vietnam.
Dari kacamata tuan rumah, Indonesia patut menyimak duel ini. Sebagai penyelenggara FIFA ASEAN Cup 2026, Indonesia memiliki kepentingan untuk memastikan turnamen berjalan kompetitif dan menarik. Kejutan yang diciptakan Pakistan bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton, sekaligus mengirim pesan bahwa persaingan di kawasan semakin ketat. Apalagi, stadion utama GBK akan menjadi saksi apakah Pakistan mampu melampaui ekspektasi atau justru Vietnam yang bangkit.
Pertanyaan besarnya, apakah Pakistan bisa konsisten tampil disiplin selama 90 menit menghadapi tim sekelas Vietnam? Jika mereka mampu, bukan tidak mungkin kejutan besar tercipta. Sebaliknya, Vietnam yang lebih berpengalaman akan berusaha keras menghindari hasil buruk yang bisa mempermalukan mereka. Laga Jumat nanti akan menjawab apakah jarak peringkat FIFA benar-benar mencerminkan kualitas di lapangan.



