England Hancurkan Kroasia 7-0 di Rijeka, Kane dan Bellingham Pimpin Pesta Gol Nations League
Baca dalam 60 detik
- Inggris mencatat kemenangan terbesar atas Kroasia dengan skor 7-0 di Stadion HNK Rijeka, memperkuat posisi kedua Grup Nations League.
- Harry Kane mencetak dua gol dalam penampilan ke-124, sementara Jude Bellingham menyumbang satu gol dan tiga assist dalam performa dominan.
- Kekalahan ini menjadi yang terburuk dalam sejarah Kroasia dan memperbesar peluang Inggris melaju ke perempat final tahun depan.

Inggris menorehkan kemenangan bersejarah 7-0 atas Kroasia dalam laga Nations League di Stadion HNK Rijeka, Sabtu (3/10/2026) dini hari WIB. Hasil ini tidak hanya memperkokoh posisi Inggris di peringkat kedua grup, tetapi juga mengirim sinyal bahwa skuad asuhan Thomas Tuchel siap bersaing di fase gugur tahun depan.
Kroasia, yang di atas kertas masih dihuni nama-nama berpengalaman seperti Luka Modric dan Mateo Kovacic, tidak mampu mengimbangi intensitas dan kecepatan Inggris. Sejak menit awal, tim tamu mendikte permainan. Marc Guehi memotong umpan longgar Josko Gvardiol, lalu Jude Bellingham mengirim bola terobosan kepada Harry Kane yang dengan tenang menaklukkan Dominik Livakovic pada menit kedelapan.
Keunggulan cepat itu membuka keran gol. Bellingham menggandakan skor pada menit ke-21 setelah memanfaatkan umpan silang rendah Anthony Gordon. Gordon kemudian mencatat namanya di papan skor lewat sundulan memanfaatkan umpan silang Jarell Quansah. Bukayo Saka menutup babak pertama dengan gol keempat, memanfaatkan assist Bellingham.
Di babak kedua, Inggris tidak mengendurkan tekanan. Kane mencetak gol kelimanya di laga ini setelah menerima umpan silang Elliot Anderson. Saka kembali mencatatkan namanya di menit ke-68, kali ini diatur oleh Kane. Morgan Rogers melengkapi pesta gol menjadi 7-0 setelah menerima bola terobosan Bellingham di akhir pertandingan.
Penampilan Alex Scott menjadi sorotan tersendiri. Gelandang Bournemouth berusia 23 tahun itu menjalani debut penuh pertamanya untuk timnas senior dan tampil impresif. Keberanian Tuchel menurunkan Scott melawan Modric, yang kini berusia 41 tahun, membuahkan hasil. Scott beberapa kali memenangkan duel di lini tengah dan menciptakan peluang, termasuk umpan terobosan indah yang melepaskan Gordon.
"Kami tahu kualitas Kroasia, tetapi kami percaya pada pemain muda. Scott menunjukkan bahwa ia pantas berada di sini," ujar Tuchel dalam konferensi pers usai laga, seperti dikutip dari laporan pertandingan.
Kemenangan ini juga mengingatkan pada pertemuan kedua tim di Piala Dunia, ketika Inggris menang 4-2 setelah tertinggal lebih dulu. Bedanya, kali ini tidak ada drama. Inggris tampil efisien, agresif dalam pressing, dan klinis di depan gawang. Kroasia yang dilatih Slaven Bilic untuk periode kedua tampak kewalahan sejak awal.
Bagi Kroasia, kekalahan ini menjadi pukulan berat. Mereka tidak hanya kehilangan poin, tetapi juga kehilangan muka di hadapan 6.200 penonton anak-anak yang diizinkan masuk gratis sebagai bagian dari sanksi UEFA. Sanksi tersebut seharusnya membuat laga digelar tanpa penonton, namun regulasi memperbolehkan tiket diberikan kepada anak-anak lokal. Sorakan nyaring mereka justru menjadi latar kontras bagi kehancuran tim tuan rumah.
Dari kacamata taktik, Tuchel berhasil memaksimalkan kedalaman skuad. Rotasi lima pemain tidak mengurangi kualitas. Jordan Pickford kembali ke posisi kiper utama dan melakukan penyelamatan penting saat skor masih 1-0. Anderson dan Scott, yang pernah bersama-sama membawa Inggris menjuarai Euro U-21, mendominasi lini tengah melawan duet veteran Modric-Kovacic.
Kemenangan ini memperbesar peluang Inggris lolos ke perempat final Nations League. Dengan sisa pertandingan melawan Ceko pada Selasa mendatang, Inggris hanya butuh hasil positif untuk mengunci posisi. Kane, yang akan menyamai rekor penampilan Peter Shilton jika ia bermain melawan Ceko, menegaskan bahwa ia belum berpikir untuk pensiun.
Pertanyaannya kini: apakah performa ini bisa dipertahankan konsisten? Inggris sempat kesulitan mereplikasi level permainan seperti saat mengalahkan Kroasia di Piala Dunia. Namun, jika Tuchel mampu menjaga intensitas dan memadukan pengalaman Kane dengan energi pemain muda seperti Scott dan Anderson, bukan tidak mungkin Inggris menjadi ancaman serius di turnamen mendatang.



