Prediction Market Meledak di AS, Kalshi dan Polymarket Berebut Dominasi
Baca dalam 60 detik
- Kalshi dan Polymarket menjadi dua platform prediction market terbesar di AS dengan volume perdagangan kontrak acara yang terus melonjak.
- Regulasi CFTC dan likuiditas menjadi pembeda utama, sementara bonus pendaftaran agresif gencar ditawarkan untuk menarik pengguna baru.
- Industri ini diprediksi tumbuh pesat, tetapi risiko kerugian besar dan keterbatasan akses di sejumlah negara bagian tetap menjadi tantangan.

Pasar prediksi (prediction market) di Amerika Serikat sedang mengalami pertumbuhan eksplosif. Platform seperti Kalshi dan Polymarket kini menawarkan ribuan kontrak perdagangan harian, termasuk untuk acara olahraga seperti pertandingan MLB postseason dan NHL. Keduanya bersaing ketat memperebutkan posisi sebagai bursa kontrak acara terbesar di Negeri Paman Sam.
Kalshi mencatatkan diri sebagai bursa keuangan pertama yang diatur oleh Commodity Futures Trading Commission (CFTC) untuk perdagangan kontrak acara. Sementara Polymarket, yang sempat hengkang dari AS pada 2022 karena belum terdaftar, kembali setelah mengakuisisi bursa teregulasi pada 2025. Kini, keduanya mendominasi volume perdagangan kontrak acara di AS, dengan model peer-to-peer yang memungkinkan pengguna bertransaksi langsung satu sama lain.
Menurut analis industri, daya tarik utama prediction market terletak pada kemampuannya menawarkan kontrak Yes/No yang sederhana, mirip dengan taruhan olahraga namun dibungkus sebagai instrumen keuangan. Harga kontrak mencerminkan probabilitas suatu peristiwa terjadi. Misalnya, jika seseorang membeli 100 saham dengan harga $0,60 per saham, itu berarti pasar mengasumsikan peluang 60% untuk hasil yang diinginkan. Jika benar, saham tersebut membayar $1,00 per lembar, sehingga total imbal hasil mencapai $100.
Persaingan tidak hanya soal biaya. Masing-masing platform menawarkan keunggulan spesifik. Kalshi unggul dalam hal kemudahan penggunaan, setoran instan, dan penarikan cepat, serta katalog pasar olahraga yang luas. Namun, jumlah prop pemain masih terbatas dan likuiditas di pasar niche menjadi kendala. Di sisi lain, Polymarket memiliki variasi pasar yang lebih beragam dan biaya terendah, tetapi tidak semua pasar global tersedia di aplikasi AS-nya.
Platform lain seperti Underdog dan PrizePicks juga meramaikan pasar dengan menggandeng mitra strategis. Underdog, yang bermitra dengan Crypto.com, menawarkan bonus deposit match hingga $1.000 dan permainan Keep Your Million. Sementara PrizePicks bekerja sama dengan Kalshi untuk menyediakan kontrak acara melalui aplikasi mereka, memberikan akses likuiditas yang lebih baik. Novig, meski kurang dikenal, fokus eksklusif pada perdagangan kontrak olahraga dan telah diatur CFTC.
"Prediction market adalah industri yang berkembang pesat dengan peluang pertumbuhan serius, tetapi Anda harus memahami cara kerjanya dan potensi risikonya sebelum bertransaksi," ujar seorang analis pasar keuangan.
Meskipun menawarkan potensi keuntungan, prediction market menyimpan risiko signifikan. Perdagangan kontrak acara dapat menyebabkan kerugian besar dan tidak cocok untuk semua orang. Selain itu, ketersediaan platform sangat bergantung pada yurisdiksi masing-masing negara bagian. Beberapa negara bagian seperti Texas memberikan akses ke sebagian besar platform, sementara yang lain membatasi atau bahkan melarangnya.
Bagi investor Indonesia, fenomena ini patut dicermati. Meskipun prediction market belum diizinkan secara resmi di Indonesia, pertumbuhan pesatnya di AS dapat menjadi indikator arah inovasi instrumen keuangan berbasis probabilitas. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bappebti mungkin perlu mengkaji potensi dan risiko instrumen serupa jika suatu saat masuk ke pasar domestik, terutama terkait perlindungan konsumen dan pencegahan judi berkedok investasi.
Ke depan, persaingan prediction market diprediksi semakin ketat. Kalshi dan Polymarket akan terus memperluas katalog pasar dan meningkatkan likuiditas, sementara pemain baru seperti FanDuel Predicts dan Underdog berusaha memanfaatkan basis pengguna yang sudah ada. Pertanyaannya, akankah model ini bertahan sebagai instrumen keuangan yang diakui, atau justru tersandung regulasi yang lebih ketat? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: inovasi di sektor ini tidak akan berhenti.



