Berkshire Hathaway Kembali Borong Saham Lennar, Tapi Laju Beli Melambat
Baca dalam 60 detik
- Berkshire Hathaway menambah kepemilikan di Lennar menjadi 11,2% setelah pembelian senilai US$53,6 juta sepanjang pekan ini.
- Laju akuisisi menyusut tajam dari rata-rata US$58 juta per hari menjadi sekitar US$13,5 juta per hari.
- Langkah Buffett ini kontras dengan sikap Morgan Stanley yang justru memulai coverage dengan rekomendasi underweight.

Berkshire Hathaway memperbesar taruhannya di sektor properti Amerika Serikat. Konglomerat yang dipimpin Warren Buffett itu menambah porsi kepemilikan di Lennar Corp. menjadi 11,2%, kendati intensitas pembeliannya menurun drastis dibandingkan pekan sebelumnya.
Berdasarkan dokumen yang diserahkan ke Securities and Exchange Commission (SEC), Berkshire membeli saham Kelas A Lennar senilai US$53,6 juta dan saham Kelas B senilai US$329 ribu pada Senin hingga Rabu. Total kepemilikan kini mencapai 26,6 juta lembar dengan nilai pasar US$2,1 miliar berdasarkan harga penutupan Jumat.
Langkah ini memperpanjang akumulasi yang sudah berlangsung sejak awal tahun. Pada akhir kuartal II, Berkshire menggenggam 13,4 juta lembar atau setara 5,4% saham Lennar. Jumlah itu naik hampir 30% dari posisi kuartal I sebanyak 10,3 juta lembar, yang sebelumnya juga melonjak 43% dari 7,2 juta lembar pada akhir tahun lalu.
Meski tetap menambah posisi, tempo pembelian Berkshire melambat signifikan. Sepanjang 17โ25 September, perusahaan menggelontorkan hampir US$349 juta dalam enam dari tujuh hari perdagangan, setara US$58 juta per hari kalender. Pekan ini, rata-rata pembelian hanya di bawah US$18 juta per hari hingga Rabu, dan turun lagi menjadi US$13,5 juta per hari jika dihitung empat hari. Tidak ada indikasi pembelian pada Kamis, dan aktivitas Jumat baru akan terungkap lewat filing Senin depan.
Perlambatan ini muncul di tengah tekanan pada pasar properti AS. Tingkat bunga kredit pemilikan rumah (KPR) fixed 30 tahun telah naik enam pekan berturut-turut menjadi 7,30%, level tertinggi sejak akhir 2023. Bunga yang tinggi membuat calon pembeli menahan diri, sementara harga rumah justru lebih mahal dibandingkan tahun lalu. Kondisi ini menekan prospek jangka pendek emiten pembangun rumah, termasuk Lennar.
Pandangan pesimistis datang dari Morgan Stanley. Bank investasi itu memulai cakupan atas saham Lennar dengan rating underweight dan target harga US$65 per saham, sekitar 19% di bawah harga penutupan Jumat. Artinya, Morgan Stanley melihat risiko penurunan lebih lanjut dalam waktu dekat, berbeda dengan Buffett yang bertaruh pada pemulihan jangka panjang.
"Kami memperkirakan pasar perumahan AS masih menghadapi tantangan dari sisi keterjangkauan, dan pemulihan akan berjalan bertahap," tulis analis Morgan Stanley dalam laporan risetnya, seperti dikutip CNBC.
Di sisi lain, posisi Buffett dalam daftar orang terkaya dunia kembali naik. Forbes menempatkannya di peringkat ke-10 setelah menggeser Amancio Ortega, pendiri Inditex (Zara), yang sahamnya turun hampir 8% dalam sebulan terakhir. Hingga Jumat sore waktu setempat, kekayaan bersih Buffett diperkirakan US$143 miliar, unggul US$3 miliar dari Ortega. Ia menjadi satu-satunya nama non-teknologi di jajaran sepuluh teratas.
Bagi investor Indonesia, manuver Berkshire ini bisa menjadi sinyal tidak langsung. Sektor properti dalam negeri juga menghadapi tantangan serupa: suku bunga acuan yang masih tinggi dan daya beli yang belum pulih sepenuhnya. Namun, berbeda dengan AS, pasar properti Indonesia memiliki faktor pendorong seperti insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk rumah tapak, yang dapat menjaga minat konsumen di segmen menengah. Langkah Buffett mengakumulasi saham pembangun rumah di tengah kelesuan bisa dibaca sebagai keyakinan pada siklus pemulihan jangka panjang, bukan sekadar spekulasi jangka pendek.
Yang perlu dicermati, perlambatan laju pembelian Berkshire bisa menandakan dua hal: ruang akumulasi yang semakin terbatas atau kehati-hatian menjelang rilis kinerja kuartalan. Jika pekan depan tidak ada filing baru, pasar akan menganggap Berkshire menahan diri. Sebaliknya, jika pembelian berlanjut dengan tempo lebih cepat, sinyal bullish bagi sektor properti AS kian menguat. Pertanyaannya, apakah investor ritel Indonesia akan mengikuti jejak Buffett dengan melirik emiten properti domestik yang valuasinya tertekan?



