Jorge Kahwagi, Petinju Tak Terkalahkan yang Juga Politisi dan Pengusaha Media, Tutup Usia di 58 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Mantan petinju Meksiko Jorge Kahwagi Macari meninggal dunia pada 30 September dalam usia 58 tahun, dikonfirmasi Presiden WBC Mauricio Sulaimán.
- Sepanjang karier profesional 2001–2015, ia menorehkan rekor sempurna 12 kemenangan KO tanpa pernah kalah dan meraih tiga sabuk juara.
- Kepergiannya menutup babak unik seorang figur yang bergerak simultan di ring, parlemen, dan ruang redaksi surat kabar nasional Meksiko.

Dunia tinju Meksiko kehilangan salah satu figur paling tidak lazim dalam sejarahnya. Jorge Kahwagi Macari, mantan petinju yang juga advokat, politisi, dan pengusaha media, meninggal dunia pada 30 September di usia 58 tahun. Kabar duka itu pertama kali mencuat melalui media sosial sebelum dikuatkan oleh pernyataan Presiden World Boxing Council (WBC) Mauricio Sulaimán.
Kahwagi bukan petinju biasa. Ia menekuni tinju profesional dari 2001 hingga 2015 dan pensiun dengan catatan sempurna: 12 kemenangan, seluruhnya lewat knockout, tanpa sekali pun menelan kekalahan. Ia bertarung di berbagai penjuru dunia—Rusia, Filipina, Spanyol, Amerika Serikat, dan tentu saja Meksiko—sekaligus mengoleksi tiga gelar: WBC International Cruiserweight, WBC Latino Cruiserweight, dan Mexican National Cruiserweight.
Namun reputasinya di atas ring hanya satu lapis dari sosok yang jauh lebih kompleks. Kahwagi adalah putra pengusaha terkemuka Jorge Kahwagi Gastine dan Sonja Macari Chalhub. Sang ayah, yang pernah memimpin surat kabar La Crónica de Hoy, meninggal pada Maret 2026 di usia 85 tahun—sebuah detail yang menambah nuansa kehilangan berturut-turut di keluarga itu.
Di dunia politik, Kahwagi menapaki jalur yang tak kalah mencolok. Ia duduk sebagai deputi federal dan sempat menjadi kader Partai Hijau Ekologis Meksiko (PVEM) pada 2001–2006. Ia kemudian hengkang dan bergabung dengan Partai Nueva Alianza, menjabat Sekretaris Jenderal sebelum dipercaya memimpin partai tersebut dari 2007 hingga 2011.
Kiprahnya di ruang redaksi juga tak bisa diabaikan. Selain menjadi Wakil Presiden La Crónica de Hoy, ia kemudian diangkat sebagai Presiden Grupo Editorial Crónica dan harian nasional Crónica. Ia juga menulis buku berjudul La tragedia de la envidia (Tragedi Kecemburuan), semacam refleksi atas dinamika sosial yang ia amati dari dalam lingkar kekuasaan dan bisnis.
"Kabar ini mengejutkan banyak pihak, terutama karena Kahwagi dikenal sebagai sosok yang menghubungkan dunia olahraga, politik, dan pers di Meksiko," ujar seorang pengamat tinju Meksiko, seperti dikutip dari laporan media setempat.
Bagi publik Indonesia, sosok Kahwagi mungkin terdengar jauh dari pemberitaan sehari-hari. Namun jejaknya relevan sebagai cermin bagaimana atlet di berbagai belahan dunia kerap merambah sektor lain—politik, media, hingga bisnis—setelah atau bahkan selama berkarier di arena. Di Indonesia, fenomena serupa muncul pada sejumlah mantan atlet yang beralih ke dunia usaha, penyiaran, atau politik praktis, meski jarang yang menembus tiga ranah sekaligus seperti Kahwagi.
Yang membuat kisahnya kian menarik adalah kombinasi antara prestasi olahraga yang nyaris tanpa cela dan posisi sosial yang strategis. Rekor 12-0 dengan 100 persen knockout adalah capaian yang jarang terulang, terlebih bagi seorang petinju yang tidak sepenuhnya mengabdikan hidupnya pada olahraga. Ia bertarung sambil mengelola partai politik dan surat kabar—sebuah manuver yang menuntut manajemen waktu dan jaringan luar biasa.
Ke depan, warisan Kahwagi akan diuji bukan hanya lewat catatan tinju, melainkan juga melalui institusi yang pernah ia pimpin. Akankah Grupo Editorial Crónica dan Nueva Alianza melanjutkan arah yang ia rintis, atau justru mengalami pergeseran orientasi? Dan di atas semua itu, mampukah dunia tinju Meksiko melahirkan kembali figur multidimensi seperti dirinya—atau era petinju-pengusaha-politisi semacam ini sudah benar-benar berakhir?



