DoorDash Uji Coba Pesan Makanan Lewat AI di Apple Messages, Langkah Awal Belanja Tanpa Aplikasi
Baca dalam 60 detik
- DoorDash meluncurkan asisten AI di Apple Messages yang memungkinkan pengguna memesan makanan hanya dengan percakapan teks, tanpa membuka aplikasi.
- Pilot ini menyasar iPhone di AS, dengan daftar tunggu dibuka di doordash.com/text, dan menandai pergeseran AI dari sekadar menjawab pertanyaan menjadi agen transaksi.
- Keberhasilan uji coba ini bergantung pada akurasi dan kepercayaan pengguna, karena DoorDash sendiri mengakui AI dapat membuat kesalahan.

DoorDash tengah menguji asisten berbasis kecerdasan buatan yang tertanam di dalam Apple Messages, memungkinkan pengguna iPhone di Amerika Serikat memesan makanan dari restoran lokal hanya melalui percakapan teks. Inisiatif ini membuka babak baru dalam belanja digital: AI tidak lagi sekadar menjawab pertanyaan, tetapi mengeksekusi transaksi nyata. Pendaftaran daftar tunggu telah dibuka di doordash.com/text, meski fitur ini masih terbatas untuk perangkat iOS di AS.
Dalam praktiknya, pengguna cukup mengirim permintaan dalam bahasa alami, misalnya "pesan protein bowl biasa ke kantor", dan asisten akan mencari restoran terdekat, menyusun keranjang, lalu mengajukan pesanan untuk dikonfirmasi. Nomor telepon yang terhubung dengan akun DoorDash menjadi jembatan antara percakapan dan riwayat pesanan. Foto makanan juga muncul langsung di utas percakapan, mengurangi keharusan berpindah aplikasi. Bahkan, pengguna dapat mengirim foto isi kulkas dan asisten akan menyarankan resep atau item belanjaan yang kurang.
Langkah ini merupakan perluasan dari Ask DoorDash, alat pencarian percakapan dalam aplikasi yang diperkenalkan pada Juni untuk eksplorasi restoran dan belanja bahan makanan. Dengan memindahkan pengalaman ke Messages, DoorDash berupaya menghilangkan friksi pada pesanan berulang yang rutin. Namun, ada sejumlah catatan penting: dukungan Android direncanakan tetapi belum ada tanggal pasti, personalisasi mengandalkan riwayat pesanan dan data pembayaran tersimpan, sementara kontrol privasi spesifik untuk pilot ini belum diungkap ke publik.
Bagi industri teknologi global, uji coba ini menegaskan arah baru: AI agent yang membantu pembelian, bukan sekadar chatbot informasional. Jika berhasil, model serupa berpotensi diadopsi platform lain, termasuk di Indonesia. Aplikasi seperti GoFood, GrabFood, atau ShopeeFood memiliki basis pengguna besar dan ekosistem super-app yang mapan. Mengintegrasikan asisten AI ke dalam WhatsApp atau SMS bisa menjadi langkah efisien untuk menjangkau pengguna di daerah dengan koneksi terbatas, tanpa harus mengunduh aplikasi tambahan. Namun, tantangan utamanya tetap sama: akurasi, keamanan data, dan kepercayaan konsumen.
"Pertanyaan terbuka adalah kepercayaan. Menyerahkan pemilihan restoran kepada AI yang diakui DoorDash sendiri dapat membuat kesalahan menuntut pengguna untuk tetap waspada saat checkout," demikian inti peringatan dalam sumber tersebut.
Di Indonesia, di mana transaksi makanan online sudah menjadi kebiasaan harian, kehadiran AI agent semacam ini bisa mengubah lanskap kompetisi. Platform yang mampu menawarkan kemudahan ekstra—misalnya memesan lewat chat tanpa membuka aplikasi—berpotensi merebut hati konsumen. Namun, regulasi perlindungan data pribadi yang semakin ketat menuntut transparansi soal bagaimana AI mengakses riwayat pesanan dan metode pembayaran. Tanpa itu, adopsi bisa melambat.
Ke depan, keberhasilan pilot DoorDash akan diukur dari seberapa mulus penanganan kasus-kasus sulit: alamat yang ambigu, preferensi diet khusus, atau perubahan pesanan mendadak. Jika AI terbukti andal, kita mungkin segera melihat pesan teks sebagai antarmuka belanja standar. Pertanyaannya, apakah pengguna siap menyerahkan keputusan kuliner kepada algoritma, atau akurasi tetap menjadi harga mati sebelum kenyamanan diadopsi luas?



