Selat Hormuz Pulih, Tapi Krisis Bahan Bakar Global Mengintai Ekonomi Dunia
Baca dalam 60 detik
- Ekspor minyak mentah melalui Selat Hormuz kembali ke level sebelum perang, namun pengiriman produk olahan masih jauh di bawah normal.
- Harga diesel di AS mencetak rekor, memicu kekhawatiran inflasi dan tekanan politik menjelang pemilu sela.
- Ketegangan AS-Iran belum mereda; kesepakatan damai gagal dan eskalasi militer pasca pemilu menjadi risiko utama.

Arus minyak mentah melalui Selat Hormuz telah kembali ke tingkat sebelum konflik Iran, tetapi pasokan bahan bakar olahan tetap terhambat, menciptakan ketidakseimbangan yang mengancam stabilitas ekonomi global. Data dari Kpler menunjukkan rata-rata tujuh hari pengiriman minyak mentah mencapai 13,5 juta barel per hari (bph) per Senin, setara dengan baseline praperang. Namun, pengiriman produk olahan seperti diesel dan bensin hanya 677.000 bph, anjlok dari 3,6 juta bph sebelum perang.
Pemulihan yang timpang ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang belum surut. Iran masih mengklaim menguasai Selat Hormuz dan beberapa kali mendeklarasikan penutupan, tetapi volume kargo yang melintas menunjukkan pengaruhnya melemah. "Pasar minyak mentah sebagian besar telah normal, namun pasokan produk olahan tetap terbatas," ujar Natasha Kaneva, kepala strategi komoditas global di JPMorgan. Menurut Kpler, total pengiriman minyak mentah dan produk olahan melalui Hormuz kini sekitar 14,2 juta bph, atau 80% dari baseline praperang.
Krisis bahan bakar global diperparah oleh serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia, yang mengurangi pasokan dari salah satu eksportir utama. Harga diesel di Amerika Serikat melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah, memberikan tekanan besar pada ekonomi. Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan larangan ekspor untuk meredam harga domestik, sebuah langkah yang menurut analis hanya akan memberikan kelegaan sementara. "Sumber rasa sakit terbesar adalah pasar diesel," kata Francisco Blanch, kepala komoditas global di Bank of America, kepada CNBC.
Di sisi lain, ekspor minyak mentah Iran justru merosot tajam akibat blokade Angkatan Laut AS. Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan Iran akan melakukan pengiriman terakhir ke China dalam dua minggu, meninggalkan mereka tanpa komoditas untuk diperdagangkan. Namun, tekanan ekonomi belum tentu mengubah posisi politik Tehran. "Tidak ada bukti kuat bahwa tekanan AS akan mengubah sikap Iran secara fundamental," ujar Scott Modell, CEO Rapidan Energy dan mantan perwira CIA.
"Sistem shuttle sangat mahal dan merupakan komitmen militer AS yang besar. Negara-negara Teluk tidak melihat pengaturan tambal sulam ini sebagai pengganti yang dapat diterima untuk Hormuz yang terbuka," tegas Helima Croft, kepala strategi komoditas global di RBC Capital Markets.
Untuk mengatasi hambatan, negara-negara Teluk mengandalkan pipa minyak Saudi dan UEA. Sekitar 40% minyak mentah Teluk kini melewati pipa, naik dari 17% sebelum perang. Namun, infrastruktur ini juga rentan terhadap serangan. Pipa East-West Saudi sempat ditutup awal bulan ini setelah serangan drone dari Irak, meskipun pengiriman dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah telah pulih. Ketergantungan pada rute alternatif dan perlindungan militer AS menimbulkan kerentanan jangka panjang.
Bagi Indonesia, krisis energi global ini berpotensi memukul neraca perdagangan dan anggaran subsidi. Sebagai importir minyak mentah, kenaikan harga minyak mentah dan produk olahan akan meningkatkan biaya impor, menekan nilai tukar rupiah, dan memperlebar defisit transaksi berjalan. Pemerintah mungkin perlu menyesuaikan subsidi energi atau menaikkan harga BBM dalam negeri, yang dapat memicu inflasi dan gejolak sosial. Selain itu, ketidakpastian pasokan global dapat mengganggu rencana transisi energi Indonesia jika harga bahan bakar fosil tetap tinggi.
Ke depan, arah konflik AS-Iran akan sangat menentukan. Trump dikabarkan berencana melanjutkan serangan setelah pemilu sela, sementara Iran menawarkan pembukaan Hormuz dalam tujuh hari jika AS kembali ke nota kesepahaman Juni. Namun, kesepakatan itu telah gagal dan kedua belah pihak saling meningkatkan retorika. "Arah pergerakan menuju eskalasi," kata Modell. Jika ketegangan kembali memuncak, pasokan minyak global bisa terganggu lagi, dan harga energi akan melonjak. Dunia menunggu apakah diplomasi dapat mencegah perang yang lebih luas, atau justru sebaliknya.



