Pilpres Brasil: Lula vs Bolsonaro Jr, Pertaruhan Iklim dan Demokrasi yang Menyentuh Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Pemilu Brasil 2026 mempertemukan petahana Lula da Silva dengan Flavio Bolsonaro, putra eks presiden Jair Bolsonaro yang dipenjara karena upaya kudeta.
- Skandal Banco Master dan polarisasi ekstrem membuat elektabilitas keduanya nyaris imbang, dengan isu ekonomi, kejahatan, dan iklim sebagai penentu.
- Kemenangan Bolsonaro Jr berpotensi melemahkan demokrasi dan mempercepat deforestasi Amazon, yang berdampak pada iklim global termasuk Indonesia.

Pemilihan umum Brasil yang digelar Minggu ini menjadi salah satu kontestasi paling ketat dalam sejarah demokrasi terbesar Amerika Latin itu. Presiden petahana Luiz Inácio Lula da Silva bersaing ketat dengan Senator Flávio Bolsonaro, putra mantan presiden Jair Bolsonaro yang kini menjalani hukuman 27 tahun penjara karena merancang kudeta untuk melanggengkan kekuasaan setelah kalah pada pemilu sebelumnya. Hasilnya belum dapat diprediksi, tetapi taruhannya jelas: arah demokrasi dan kebijakan iklim Brasil, yang akan berdampak jauh melampaui perbatasan negara itu.
Bagi banyak pengamat, pemilu ini bukan sekadar pertarungan ideologi, melainkan referendum terhadap masa lalu yang kelam. Jair Bolsonaro, yang mendalangi serangan terhadap institusi demokrasi pada 2023, masih memiliki pengaruh besar melalui putranya. Flávio berkampanye sebagai versi yang lebih halus dari ayahnya, namun tetap membawa agenda ekstrem: membebaskan sang ayah dan para pendukung yang terlibat dalam kerusuhan, serta melanjutkan kebijakan yang mengancam hak-hak minoritas dan lingkungan.
Meski sempat diprediksi menang mudah, posisi Lula justru tergerus oleh sejumlah faktor. Usianya yang menginjak 80 tahun dan keinginan untuk masa jabatan keempat menjadi sorotan, meski ia masih energik. Program sosialnya luas, tetapi pertumbuhan ekonomi yang melambat dan tingkat kejahatan yang tinggi membuat sebagian pemilih ragu. Yang lebih mengguncang adalah skandal keuangan Banco Master yang menyeret nama Flávio Bolsonaro. Dalam rekaman yang beredar, ia terdengar meminta hampir US$27 juta kepada pemilik bank gagal tersebut, Daniel Vorcaro, untuk membiayai film tentang ayahnya. Flávio membantah melakukan kesalahan.
Skandal itu kian membesar setelah terungkapnya pesan-pesan antara Vorcaro dan hakim Mahkamah Agung yang memimpin penuntutan terhadap Jair Bolsonaro. Alih-alih merusak citra Bolsonaro, kasus ini justru memperkuat narasi bahwa seluruh politikus Brasil korup, sekaligus memberi amunisi bagi klaim tak berdasar bahwa Jair Bolsonaro dijebak. Flávio juga berhasil meredam konflik publik dengan ibu tirinya, Michelle, sosok berpengaruh di kalangan evangelis yang dukungannya krusial.
Yang menjadi perhatian utama adalah komitmen Flávio terhadap hasil pemilu. Ia menyatakan akan menghormati hasilnya, tetapi keluarga Bolsonaro telah bertahun-tahun merongrong kepercayaan pada sistem pemungutan suara elektronik Brasil yang diakui secara internasional. Jika Lula menang tipis di putaran pertama, hasilnya kemungkinan besar akan digugat. Dengan adanya kandidat lain di kanan, Flávio juga berpotensi unggul di putaran kedua. Ia telah menjanjikan privatisasi, pemotongan belanja publik dan pajak, serta mengisi Mahkamah Agung dengan hakim konservatif anti-aborsi—yang juga akan berperan dalam sengketa pemilu mendatang. Ia juga berjanji menerapkan tindakan anti-kejahatan agresif yang di negara lain telah melanggar hak asasi manusia.
Dari luar, bayang-bayang Amerika Serikat ikut mewarnai. Presiden Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio diprediksi akan semakin agresif mencampuri urusan belahan bumi barat jika Flávio menang. Kebijakan tarif tinggi AS terhadap Brasil justru dimanfaatkan Lula untuk tampil sebagai pembela kedaulatan nasional. Namun intervensi AS tetap mengganggu stabilitas kawasan.
Masa jabatan kedua Trump yang lebih brutal juga menjadi cermin bagaimana pemerintahan Bolsonaro berikutnya mungkin berjalan. Pada era Jair Bolsonaro, deforestasi Amazon mencapai rekor tertinggi, eksploitasi sumber daya ilegal merajalela, dan tanah masyarakat adat diinvasi. Semua itu menurun drastis ketika Lula kembali menjabat. Kemenangan Bolsonaro Jr akan merugikan perempuan, orang miskin, dan minoritas. Demokrasi akan menjadi korban pertamanya, tetapi iklim juga akan menjadi korban berikutnya—dengan konsekuensi bagi kita semua.
"Bagi banyak pemilih di kedua kubu, ini adalah suara menolak sosok yang mereka benci, bukan dukungan tulus terhadap kandidat sendiri," demikian catatan The Guardian dalam analisisnya.
Bagi Indonesia, pemilu Brasil ini bukan sekadar tontonan politik. Sebagai sesama negara demokrasi berkembang dengan hutan tropis luas, Indonesia memiliki kepentingan langsung pada kebijakan iklim Brasil. Deforestasi Amazon yang tidak terkendali akan memperparah krisis iklim global, memengaruhi pola cuaca ekstrem, harga pangan, dan komitmen internasional terhadap pengurangan emisi. Jika Brasil di bawah Bolsonaro Jr mundur dari komitmen lingkungan, tekanan pada Indonesia untuk memikul beban iklim global akan meningkat. Selain itu, ketegangan geopolitik yang dipicu intervensi AS di Amerika Latin dapat mengalihkan perhatian dan sumber daya dari isu-isu Selatan Global, termasuk negosiasi perdagangan dan pendanaan iklim.
Pertanyaannya kini: akankah Brasil memilih melanjutkan demokrasi yang rapuh namun berkomitmen pada iklim, atau kembali ke jalur otoriter yang mengabaikan lingkungan? Keputusan pemilih Brasil akan bergema jauh melampaui Amerika Latin—dan Indonesia perlu mencermati setiap gejolaknya.



