PSIM Dukung Insentif Pemain Muda I.League: Kebebasan Pelatih dan Masa Depan Talenta Lokal
Baca dalam 60 detik
- I.League BRI Super League 2026/2027 menghapus kewajiban pemain U-23 di starting eleven, digantikan skema bonus finansial bertingkat bagi klub yang memberi menit bermain pemain muda.
- Manajer PSIM Iksan Mahar menilai kebijakan ini positif karena memberi pelatih keleluasaan menentukan komposisi terbaik tanpa batasan usia, namun tetap mengapresiasi insentif sebagai dorongan pengembangan talenta.
- PSIM telah memberi menit bermain kepada bek muda Raka Cahyana Rizky dan Muhammad Alwi Fadilah (22 tahun) pada tiga laga awal, menunjukkan komitmen terhadap pembinaan meski tanpa kewajiban regulasi.

PSIM Yogyakarta menyambut baik kebijakan I.League yang memberikan insentif finansial kepada klub BRI Super League 2026/2027 yang memberikan menit bermain kepada pemain muda. Kebijakan ini menggantikan aturan wajib pemain U-23 di starting eleven yang telah dihapus musim ini.
Manajer PSIM, Iksan Mahar, menilai perubahan tersebut sebagai langkah maju bagi profesionalisme liga. Menurutnya, tidak adanya batasan usia dalam komposisi awal memberikan keleluasaan bagi pelatih untuk memilih pemain terbaik di setiap pertandingan. "Liga profesional seyogianya tidak perlu ada batasan umur," ujarnya kepada Bola.com, Rabu (30/9/2026).
Meski kewajiban U-23 dihapus, I.League tetap mendorong pengembangan talenta melalui skema bonus bertingkat. Semakin muda usia pemain yang diturunkan, semakin besar insentif yang diterima klub. Kebijakan ini dinilai sebagai terobosan untuk menjaga regenerasi tanpa mengorbankan daya saing tim.
PSIM sendiri tetap memberikan kesempatan kepada pemain muda meski tidak ada kewajiban. Pada tiga pertandingan awal, duo bek Raka Cahyana Rizky dan Muhammad Alwi Fadilah yang kini berusia 22 tahun mendapat menit bermain. Iksan menyebut langkah ini sebagai bentuk apresiasi terhadap potensi lokal. "Kami sangat mengapresiasi rencana insentif, terutama untuk tim yang memberi menit bermain kepada pemain di bawah 23 tahun," kata Iksan.
"Menurut kami ini menjadi motivasi bagi para pemain untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka karena tim pelatih sangat terbuka dengan kemampuan seluruh pemain tanpa memandang usia," ujar Iksan Mahar.
Bagi PSIM, kesempatan tampil tidak ditentukan oleh usia. Iksan menegaskan semua pemain memiliki peluang sama untuk mendapatkan kepercayaan dari tim pelatih yang dipimpin Jean-Paul van Gastel. Hal ini diharapkan memacu pemain muda Laskar Mataram untuk terus berkembang dan bersaing secara sehat di dalam skuad.
Kebijakan insentif ini juga menjadi sinyal bagi klub-klub lain di Indonesia untuk lebih serius membina pemain muda. Dengan insentif finansial, klub didorong untuk tidak sekadar memenuhi regulasi, tetapi menjadikan pengembangan talenta sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Liga yang kompetitif membutuhkan keseimbangan antara prestasi instan dan investasi masa depan.
Ke depan, efektivitas kebijakan ini akan bergantung pada implementasi dan pengawasan. Jika berjalan konsisten, BRI Super League dapat menjadi contoh bagaimana liga profesional mengintegrasikan pembinaan usia muda tanpa mengorbankan kualitas kompetisi. Pertanyaannya, akankah klub lain mengikuti jejak PSIM dalam memberi ruang bagi talenta muda?



