PSS Sleman Genjot Fisik Dua Pekan, Huistra: Kami Harus Kejar Ketertinggalan
Baca dalam 60 detik
- PSS Sleman memanfaatkan jeda FIFA Matchday dengan latihan intensitas tinggi selama dua pekan untuk membenahi kondisi fisik pemain.
- Pelatih Pieter Huistra menilai respons skuad positif, namun menegaskan masih banyak aspek permainan yang harus diperbaiki sebelum melawan PSM Makassar.
- Laga pekan keempat BRI Super League 2026/2027 di Stadion Maguwoharjo menjadi momentum krusial bagi PSS yang belum meraih poin dan berada di ambang zona degradasi.

PSS Sleman memanfaatkan jeda FIFA Matchday untuk menggenjot fisik pemain selama dua pekan terakhir. Pelatih Pieter Huistra menilai program latihan berat itu sebagai fondasi penting sebelum Super Elja kembali berlaga di BRI Super League 2026/2027, menghadapi PSM Makassar di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Minggu (11/10/2026).
Jeda kompetisi menjadi kesempatan bagi Huistra untuk memberikan porsi latihan lebih besar, terutama pada aspek kebugaran. Menurut pelatih asal Belanda itu, pemain harus berada dalam kondisi fisik prima untuk mengarungi jadwal padat setelah periode internasional. "Kami menjalani dua pekan pertama dengan kerja keras, terutama fisik. Itu penting agar pemain benar-benar siap menghadapi pertandingan berikutnya," ujar Huistra, Sabtu (3/10/2026).
Setelah fase fisik, fokus latihan PSS mulai bergeser ke aspek teknis dan taktik. Beberapa hari ke depan akan digunakan untuk mengembalikan sentuhan permainan serta mematangkan detail menjelang laga melawan PSM. Huistra mengakui beban latihan dua pekan terasa berat bagi Cleberson dkk., tetapi respons skuad dinilainya tetap positif.
Meski demikian, Huistra menegaskan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Ia menilai timnya belum konsisten di setiap momen pertandingan. "Kami masih harus meningkatkan banyak hal, bahkan di setiap aspek permainan. Secara umum kami harus mengejar ketertinggalan dan terus berkembang," katanya.
Kondisi PSS memang menuntut perhatian serius. Dari tiga pertandingan awal, Laskar Sembada selalu pulang dengan tangan kosong. Kekalahan dari Bali United, Madura United, dan Dewa United membuat mereka terpuruk di posisi ke-15, hanya terpaut tipis dari zona degradasi. Laga melawan PSM menjadi kesempatan emas untuk bangkit sekaligus menjauh dari tekanan.
PSM Makassar bukan lawan yang mudah. Tim Juku Eja dikenal memiliki organisasi permainan rapi dan pengalaman di kompetisi domestik. Namun, bermain di hadapan pendukung sendiri di Maguwoharjo bisa menjadi suntikan moral bagi PSS. Pengembalian ritme permainan menjadi kunci; pemain perlu cepat beradaptasi setelah jeda panjang.
Huistra menyadari waktu persiapan kurang dari sepekan setelah fase fisik. Ia berharap para pemain mampu menerjemahkan program latihan ke dalam pertandingan. "Kami harus memperbaiki setiap momen. Tidak ada waktu untuk bersantai," tegasnya.
Dukungan suporter juga menjadi faktor penting. Selama ini, Sleman dikenal memiliki basis fanatik yang mampu mendorong tim di saat kritis. Kehadiran mereka di stadion diharapkan membangkitkan semangat juang pemain.
Jika PSS gagal meraih hasil positif melawan PSM, tekanan akan semakin besar. Manajemen dan tim pelatih tentu ingin menghindari krisis yang berkepanjangan. Sebaliknya, kemenangan bisa menjadi titik balik untuk mengarungi musim yang masih panjang.
Pertanyaannya, mampukah PSS Sleman memanfaatkan momentum jeda ini untuk bangkit, atau justru semakin terpuruk? Jawabannya akan terlihat di lapangan hijau Maguwoharjo akhir pekan nanti.



