Petrobras Uji Cardano untuk Lacak Jejak Karbon Bahan Bakar, Sinyal Adopsi Blockchain di Sektor Energi
Baca dalam 60 detik
- Petrobras menjajaki Cardano guna mencatat asal-usul klaim karbon pada sustainable aviation fuel dan Diesel R dalam dua proyek riset.
- Teknologi ini berpotensi mencegah penghitungan ganda insentif hijau dan mempermudah pelaporan emisi Scope 3.
- Keberhasilan uji coba dapat mendorong perusahaan energi lain di kawasan, termasuk Indonesia, melirik blockchain untuk transparansi rantai pasok.

Perusahaan minyak negara Brasil, Petrobras, tengah menguji blockchain Cardano untuk memverifikasi klaim lingkungan atas bahan bakar rendah karbon. Dua proyek riset yang diumumkan Rabu lalu oleh Cardano Foundation ini menyasar sustainable aviation fuel (SAF) dan Diesel R, varian diesel yang sebagian berasal dari bahan nabati atau lemak hewani.
Langkah tersebut menandai penetrasi blockchain ke jantung industri energi, sektor yang selama ini dikenal konservatif terhadap teknologi baru. Bagi Cardano, keterlibatan perusahaan dengan kapitalisasi pasar ratusan miliar dolar itu menjadi validasi bahwa jaringan mereka mampu menangani kebutuhan traceability skala industri, bukan sekadar aplikasi keuangan terdesentralisasi.
Proyek SAF menyoroti celah dalam perdagangan bahan bakar hijau. Lewat skema book-and-claim, maskapai dapat membeli manfaat lingkungan dari SAF meski bahan bakarnya dipakai di tempat lain. Model ini memerlukan pencatatan kepemilikan manfaat agar dua entitas tidak mengklaim pengurangan emisi yang sama. Cardano menawarkan solusi dengan merekam asal klaim, penerima, dan waktu klaim, sehingga potensi double counting bisa ditekan. Dalam praktiknya, penumpang dapat memasukkan bandara asal dan tujuan, menghitung manfaat bahan bakar, lalu menerima sertifikat yang tertaut ke sertifikat bahan bakar asli.
Sementara itu, proyek Diesel R akan mendokumentasikan informasi di setiap tahap produksi, transportasi, dan penggunaan, lalu merangkainya menjadi riwayat perjalanan bahan bakar. Data semacam ini krusial untuk pelaporan Scope 3, yakni emisi tidak langsung dari rantai pasok dan pelanggan, yang selama ini sulit dihimpun karena tersebar di banyak perusahaan.
CEO Cardano Foundation, Frederik Gregaard, menilai Brasil konsisten mengadopsi Cardano, mulai dari SERPRO di pemerintahan hingga SENAI di industri. Menurutnya, minat institusi terhadap Cardano terus tumbuh, terlebih dengan kehadiran x402 dan dukungan Fireblocks untuk Cardano Native Tokens. Ia menyebut momentum ini sebagai waktu yang tepat bagi perusahaan untuk mempertimbangkan teknologi tersebut.
"Brasil telah menjadi salah satu pengadopsi Cardano paling konsisten, dari SERPRO di pemerintah hingga SENAI di industri. Sangat menyenangkan melihat Petrobras, salah satu perusahaan terbesar di kawasan, terus melihat nilai dalam provenance dan traceability on-chain," ujar Gregaard.
Meski demikian, kedua inisiatif ini belum memasuki tahap produksi. Model Diesel R masih berstatus usulan, dan pengumuman tersebut tidak menyertakan volume bahan bakar yang dicakup maupun jadwal perluasan penggunaan. Cardano juga baru bergabung dengan x402 bulan ini, standar pembayaran yang memungkinkan aplikasi dan agen AI membayar data atau layanan komputasi saat diminta. Perangkat lunak pemrosesan pembayaran awalnya diuji di jaringan pra-produksi Cardano, sementara penggunaan komersial di blockchain utama masih harus dibuktikan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan perspektif baru. Sebagai produsen minyak sawit dan energi terbarukan, Indonesia menghadapi tantangan serupa dalam melacak asal-usul bahan bakar hijau dan memenuhi standar keberlanjutan global. Regulasi seperti Perpres 98/2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon dan Bursa Karbon IDXCarbon membuka ruang bagi teknologi ledger untuk meningkatkan transparansi. Jika Petrobras berhasil, perusahaan energi nasional seperti Pertamina dapat mempertimbangkan blockchain sebagai alat verifikasi klaim karbon, terutama untuk ekspor yang kian ketat oleh aturan Uni Eropa.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah blockchain akan masuk ke sektor energi, melainkan seberapa cepat adopsi itu terwujud dan siapa yang akan memimpin. Keberhasilan uji coba Petrobras bisa menjadi katalis bagi perusahaan energi lain di kawasan untuk mengadopsi solusi serupa, sekaligus menguji ketahanan Cardano dalam menangani data industri berskala besar.



