Roy Keane: Buang Medali Manchester City ke Tempat Sampah
Baca dalam 60 detik
- Roy Keane menilai trofi Manchester City periode 2009-2018 tidak sah karena praktik kecurangan finansial.
- Micah Richards mengaku hancur dan marah atas vonis Premier League terhadap klub masa kecilnya.
- Kasus ini memicu pertanyaan tentang integritas kompetisi dan pengawasan finansial klub di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Mantan kapten Manchester United, Roy Keane, melontarkan pernyataan pedas menanggapi vonis Premier League yang menyatakan Manchester City bersalah atas seluruh tuduhan pelanggaran aturan finansial. Keane menegaskan bahwa jika dirinya adalah pemain City, ia akan membuang semua medali yang diraih selama periode 2009โ2018 ke tempat sampah. "Itu curang. Mereka menang di lapangan karena kecurangan terjadi," ujarnya saat menjadi komentator di ITV.
Vonis tersebut mengungkap bahwa City melakukan skema senilai hampir ยฃ1 miliar untuk menggelembungkan pendapatan atau menekan biaya melalui serangkaian "kontrak palsu" dengan mitra komersial. Klub yang berbasis di Etihad Stadium itu memenangkan delapan trofi, termasuk tiga gelar Premier League, dalam rentang waktu yang diselidiki. City sendiri konsisten membantah semua tuduhan dan berencana mengajukan banding.
Keane, yang dikenal vokal, menambahkan bahwa para pemain City seharusnya menyadari dampak dari tindakan tersebut. "Mereka tahu ini akan melukai banyak orang, tapi tetap dilakukan," katanya. Pernyataan ini memperkuat narasi bahwa kesuksesan City di lapangan kini dipertanyakan secara moral, bukan hanya legal.
Di sisi lain, mantan bek City, Micah Richards, mengungkapkan perasaan hancur dan marah. Dalam podcast The Rest is Football, Richards mengatakan, "Saya sudah bersama klub ini sejak usia 14 tahun. Saya akan mati untuk klub ini. Tapi mendengar laporan ini, bukan hanya sebagai mantan pemain, tapi juga para penggemar, sungguh menghancurkan." Ia bahkan menceritakan seorang fans yang pernah menjadi induk semangnya semasa muda menelepon sambil menangis, meminta penjelasan yang tidak bisa ia berikan.
"Saya merasa sedih, marah, dan sedikit bingung karena di sisi lain ada versi cerita City," ujar Richards.
Kasus ini bukan hanya mengguncang Inggris, tetapi juga mengirim sinyal kuat ke seluruh dunia sepak bola bahwa pelanggaran finansial tidak akan ditoleransi. Bagi Indonesia, ini menjadi cermin pentingnya tata kelola keuangan yang transparan di liga domestik. Liga 1 Indonesia kerap menghadapi masalah serupa, seperti tunggakan gaji pemain dan pelanggaran batas anggaran, yang dapat merusak kredibilitas kompetisi. Regulator sepak bola nasional perlu memperkuat pengawasan dan penegakan aturan agar kepercayaan publik tetap terjaga.
Ke depan, banding City akan menjadi ujian bagi kredibilitas Premier League. Jika vonis dikuatkan, sanksi berat seperti pengurangan poin, pencabutan gelar, atau degradasi bisa mengubah peta persaingan. Sementara itu, para pemain dan penggemar City harus menghadapi kenyataan pahit bahwa warisan kesuksesan mereka mungkin ternoda. Akankah sepak bola modern belajar dari kasus ini, atau justru mengulanginya dengan modus berbeda?



