Jeremy Clarkson Siapkan Proyek TV Ambisius Usai Clarkson's Farm, Usul Merger Raksasa Penyiaran Inggris
Baca dalam 60 detik
- Jeremy Clarkson mengungkap tengah merancang program baru berskala besar untuk menyaingi The Traitors setelah menuntaskan musim keenam Clarkson's Farm.
- Ia menilai industri televisi Inggris hanya bisa bertahan jika BBC, ITV, Sky, Channel 4, dan Channel 5 bergabung dalam satu entitas raksasa yang ia juluki 'Britflix'.
- Kritiknya terhadap tren pemilihan presenter yang mengedepankan karakter ketimbang kompetensi memicu perdebatan tentang arah produksi konten di era platform digital.

Jeremy Clarkson, ikon televisi otomotif yang kini dikenal lewat Clarkson's Farm, mengonfirmasi bahwa ia sedang menggarap program baru yang disebutnya "luar biasa ambisius" untuk menantang dominasi The Traitors. Pengumuman ini disampaikan setelah ia merampungkan syuting musim keenam acara Amazon Prime Video tersebut, menandai babak baru dalam karier presenter berusia 66 tahun itu.
Berbicara dalam sebuah sesi panel di RTS Convention di London bersama presenter Jane Moore dan putrinya, blogger Emily Clarkson, Clarkson menyatakan bahwa proyek berikutnya harus memiliki skala yang jauh lebih besar. Menurutnya, tayangan tersebut dirancang untuk membedakan diri di tengah banjir konten dari media baru. "Kami sedang memikirkan apa yang akan dilakukan setelah Clarkson's Farm, dan itu harus sesuatu yang lebih besar—untuk menonjol, melindungi kami dari gempuran dari bawah," ujarnya, seperti dikutip dari pernyataannya di forum tersebut.
Ia menyebut The Traitors sebagai contoh ideal: acara realitas yang mampu menarik selebritas papan atas dan memikat penonton luas. Ambisi Clarkson ini muncul di tengah lanskap penyiaran Inggris yang sedang bergejolak, dengan audiens tradisional terus tergerus oleh layanan streaming global. Data Ofcom menunjukkan bahwa pangsa tontonan televisi linear di Inggris terus menurun dalam lima tahun terakhir, sementara platform digital seperti Netflix dan YouTube mencatat pertumbuhan signifikan.
Lebih jauh, Clarkson melontarkan gagasan kontroversial: kelangsungan hidup televisi Inggris hanya mungkin jika lima penyiar utama—BBC, ITV, Sky, Channel 4, dan Channel 5—melebur menjadi satu kekuatan. Ia bahkan menyebut nama "Britflix" sebagai gambaran entitas raksasa yang dapat memproduksi program lebih baik dengan volume lebih sedikit. "Televisi harus menjadi lebih besar, meninggalkan jadwal siaran kaku, dan menjadi lebih baik," tegasnya. Menurutnya, talenta industri terus mengalir keluar, dan penggabungan akan menyatukan kekuatan untuk menciptakan tayangan berkualitas.
"Saya pikir TV di negara ini hanya bisa bertahan—dan seharusnya melakukan ini—jika semuanya bergabung. BBC, ITV, Sky, Channel 4, dan 5. Kita bisa bersama-sama membuat program bagus. Tapi lebih besar, lebih baik, dan lebih sedikit," ujar Clarkson.
Pandangan ini bukan tanpa dasar. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah penyiar Inggris menghadapi tekanan finansial akibat kenaikan biaya produksi dan persaingan ketat dari platform streaming. BBC, misalnya, telah melakukan efisiensi besar-besaran, sementara ITV dan Channel 4 merestrukturisasi model bisnis mereka. Namun, usulan merger semacam itu akan menghadapi rintangan regulasi yang berat, mengingat otoritas persaingan usaha Inggris (CMA) cenderung menjaga pluralitas media.
Clarkson juga menyoroti tren pemilihan presenter yang menurutnya semakin mengabaikan keahlian. Ia mengaku prihatin dengan keputusan Monty Don meninggalkan Gardeners' World setelah 23 tahun. Dalam kolomnya di The Sunday Times, ia menulis bahwa pengganti Don kemungkinan besar bukan sosok yang benar-benar memahami dunia berkebun. Sebagai perbandingan, ia memuji The Grand Tour yang menghadirkan tiga pembawa acara—Francis Bourgeois, James Engelsman, dan Thomas Holland—yang dinilainya kompeten di bidang otomotif. "Ada tren untuk mempekerjakan orang yang sama sekali tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Itu salah satu hal yang membuat host baru The Grand Tour bekerja dengan baik: mereka tahu," sindirnya.
Kritik Clarkson ini menggambarkan ketegangan yang lebih luas di industri kreatif: antara tuntutan hiburan yang mengedepankan kepribadian dan kebutuhan akan otoritas pengetahuan. Di Indonesia, fenomena serupa juga terlihat, dengan munculnya berbagai program yang mengandalkan popularitas figur ketimbang keahlian substantif. Bagi pasar media Tanah Air, perdebatan ini relevan mengingat konsolidasi platform dan perubahan perilaku konsumen yang kian cepat.
Jika usulan Clarkson terwujud—meski kecil kemungkinannya dalam waktu dekat—dampaknya bisa terasa hingga ke Asia, termasuk Indonesia, karena konten Inggris merupakan salah satu pengekspor budaya populer utama. Namun, yang lebih mungkin terjadi adalah gelombang akuisisi dan kemitraan lintas batas. Pertanyaannya, akankah industri penyiaran tradisional mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya, atau justru tergerus oleh raksasa digital yang bergerak lebih lincah?



