Lensa Brightin Star MF 50mm f/2.0 Tri-Sight: Slider Bokeh, Harga Rp6 Jutaan, Siap Guncang Pasar Optik
Baca dalam 60 detik
- Brightin Star MF 50mm f/2.0 Tri-Sight menawarkan kontrol bokeh tiga mode lewat slider mekanis, plus disk penyaring bentuk khusus.
- Lensa full-frame ini hadir untuk mount Sony E, Nikon Z, Canon RF, dan L-Mount dengan harga US$399, jauh lebih murah dari lensa sejenis.
- Kehadirannya berpotensi mengubah lanskap lensa manual third-party dan membuka peluang bagi fotografer Indonesia yang mencari alternatif kreatif.

Brightin Star resmi meluncurkan lensa manual full-frame MF 50mm f/2.0 Tri-Sight yang menawarkan kontrol bokeh melalui slider mekanis—sebuah terobosan di segmen lensa third-party. Lensa ini memungkinkan pengguna memilih tiga karakter bokeh berbeda hanya dengan menggeser tuas di barrel, tanpa perlu mengganti lensa atau menambahkan filter.
Slider Tri-Sight mengatur posisi grup lensa secara internal, yang kemudian mengoreksi spherical aberration secara berlebihan atau kurang. Hasilnya, fotografer bisa mendapatkan efek bokeh yang berbeda: mode Prime menghasilkan bokeh bulat tajam, mode Foams menciptakan tepi tegas dengan efek ‘onion ring’ dan flare dreamy, sedangkan mode Smooth memberikan bokeh lembut dan besar seperti menggunakan diffusion filter. Pendekatan ini jarang ditemui pada lensa sekelasnya, di mana biasanya kreativitas bokeh hanya bisa diubah lewat teknik pasca-produksi atau filter tambahan.
Selain slider, Brightin Star menyertakan satu set drop-in disc yang dapat dipasang di bagian belakang lensa untuk menciptakan bentuk bokeh khusus. Disk ini menawarkan bentuk segitiga yang terinspirasi lensa sinema klasik, bintang, kupu-kupu, dan semanggi berdaun empat—sebuah fitur yang biasanya hanya bisa didapat dengan teknik cut-out manual. Dengan menyertakan aksesori ini, pabrikan asal Tiongkok tersebut menyasar kreator yang ingin eksperimen visual tanpa repot.
Dari sisi build quality, lensa ini menggunakan barrel logam dengan hood retractable built-in, focus ring yang dilengkapi tuas opsional, serta aperture ring bergaya de-clicked yang ideal untuk perekaman video. Meski tergolong kompak, lensa ini tetap memberikan cakupan full-frame. Brightin Star mengklaim panjangnya bervariasi tergantung mount, yakni antara 7 cm hingga 7,4 cm.
“Lensa ini dirancang untuk mereka yang ingin kebebasan kreatif tanpa harus membeli beberapa lensa berbeda. Slider bokeh adalah jawaban atas kebutuhan estetika yang berubah-ubah,” ujar perwakilan Brightin Star dalam pengumuman resminya.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran lensa ini bisa menjadi angin segar. Selama ini, fotografer Tanah Air yang menginginkan efek bokeh unik harus mengandalkan lensa vintage atau filter kreatif yang harganya tidak murah. Dengan banderol sekitar Rp6,2 juta, Tri-Sight menawarkan alternatif yang lebih terjangkau dan praktis. Lensa manual ini juga cocok untuk konten kreator yang sering menggunakan teknik focus pulling dan bokeh sebagai elemen estetika.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Lensa manual tanpa autofokus mungkin kurang diminati oleh pengguna kamera mirrorless pemula yang terbiasa dengan kemudahan. Namun, bagi videografer dan fotografer portrait, kontrol manual justru menjadi nilai tambah. Distribusi resmi di Indonesia juga belum diumumkan, sehingga calon pembeli kemungkinan harus mengimpor sendiri atau menunggu masuknya stok dari retailer internasional.
Peluncuran Tri-Sight menandai pergeseran menarik di industri optik: produsen third-party semakin berani menghadirkan fitur unik yang sebelumnya hanya ada di lensa high-end. Jika respons pasar positif, bukan tidak mungkin pemain besar seperti Sigma atau Tamron akan mengadopsi ide serupa. Pertanyaannya, apakah inovasi semacam ini akan menjadi standar baru atau sekadar ceruk pasar bagi para antusias bokeh?



