Johnny Marr Belajar dari Damon Albarn: Jangan Paksakan Proses Kreatif
Baca dalam 60 detik
- Gitaris eks The Smiths, Johnny Marr, mengungkap pelajaran berharga dari kolaborasinya dengan Damon Albarn di proyek Gorillaz.
- Ia menekankan pentingnya sikap terbuka dan tidak memaksakan ide dalam menciptakan lagu, sebuah prinsip yang juga ia terapkan di album solo barunya.
- Album kelima Marr, The Age of Everything, akan segera dirilis dengan pendekatan unik: delapan dari sepuluh lagu telah dimainkan live sebelum masuk studio.

Johnny Marr, gitaris legendaris yang pernah memperkuat The Smiths, mengaku mendapat pelajaran penting dari Damon Albarn saat keduanya bekerja sama dalam album terbaru Gorillaz, The Mountain. Pelajaran tersebut kemudian ia bawa ke album solo kelimanya, The Age of Everything, yang akan dirilis pekan ini.
Dalam wawancara dengan NME, Marr mengungkapkan bahwa Albarn mengajarkannya untuk bersikap terbuka dan tidak memaksakan kehendak dalam proses penciptaan lagu. "Saya belajar untuk berpikiran terbuka, membiarkan beberapa hal terjadi secara alami, menjaga etos kerja, tidak hanya menunggu sesuatu terjadi. Jangan memaksakan apa pun – santai saja," ujarnya menirukan pesan Albarn.
Pendekatan ini rupanya membekas pada Marr, yang selama ini dikenal sebagai musisi yang metodis. Ia mengaku memiliki 'rasa tujuan yang nyata' untuk sepuluh lagu di album barunya, dan merasa terbantu dengan memainkannya secara langsung sebelum proses rekaman di studio. "Ada semangat: 'Jika kau punya suaramu sendiri, lakukan dan lakukan dengan lantang'. Ada waktu untuk itu," jelasnya.
Marr juga menyoroti pentingnya tantangan dalam menulis lagu upbeat. Menurutnya, menulis lagu introspektif itu terlalu mudah, sementara menciptakan sesuatu yang ceria adalah tantangan tersendiri. "Dengan album saya sendiri, saya mulai dengan agenda untuk memiliki energi. Menulis lagu introspektif dan reflektif hampir terlalu mudah, dan menulis sesuatu yang upbeat adalah tantangan. Tantangan itu cocok untuk saya," tuturnya.
Ia bahkan merasa setiap albumnya terdengar seperti album pertama. "Itu bukan pujian, dan bagi sebagian orang mungkin terdengar seperti kritik. Seorang teman mengatakannya tentang album ini, dan saya menganggapnya sebagai pujian karena saya tahu artinya: ada energi, ada banyak yang dipertaruhkan, dan lagu-lagunya catchy," tambahnya.
"Saya mampu menulis lagu-lagu yang catchy, dan tidak ada yang salah dengan itu. Akan ada saatnya saya menulis opus akustik di mana saya merasa sedih."
— Johnny Marr
Bagi industri musik Indonesia, kisah Marr ini bisa menjadi cermin. Di tengah derasnya arus digital dan tuntutan produktivitas, musisi sering kali terjebak dalam tekanan untuk terus berkarya tanpa jeda. Prinsip yang ditekankan Marr—tidak memaksakan proses kreatif—menjadi pengingat bahwa kualitas sering kali lahir dari keleluasaan dan keberanian untuk bereksperimen, bukan sekadar mengejar target.
Kolaborasi lintas generasi dan genre seperti yang dilakukan Marr dan Albarn juga menunjukkan bahwa pertukaran ide antar musisi dapat memperkaya karya. Di Indonesia, kolaborasi semacam ini mulai marak, misalnya antara musisi senior dan junior di panggung festival atau proyek bersama. Hal ini tidak hanya memperluas jangkauan audiens tetapi juga memperkaya khazanah musik nasional.
Ke depan, apakah pendekatan 'santai namun fokus' ala Marr ini akan menjadi tren di kalangan musisi global? Atau justru sebaliknya, industri yang semakin kompetitif akan menuntut output yang lebih cepat? Yang jelas, Marr telah membuktikan bahwa pengalaman dari kolaborasi dengan seniman besar seperti Damon Albarn dapat menjadi modal berharga untuk terus berinovasi tanpa kehilangan jati diri.



