Miranda Lambert: Bertahan di Country Musik 2010-an Layak Dapat 'Pita Penghargaan'
Baca dalam 60 detik
- Miranda Lambert menilai dekade 2010-an sebagai periode paling sulit bagi penyanyi perempuan di industri country musik Amerika Serikat.
- Ia menyebut hanya dirinya dan Carrie Underwood yang mampu bertahan selama sekitar tujuh tahun di tengah dominasi penyanyi pria.
- Pengalaman itu membentuk solidaritas antara keduanya, sekaligus membuka refleksi soal tekanan industri terhadap kesehatan mental dan citra tubuh artis perempuan.

Penyanyi country Miranda Lambert mengungkapkan bahwa bertahan di industri musik country sepanjang dekade 2010-an adalah pencapaian yang menurutnya layak diganjar semacam penghargaan simbolis. Pelantun "The House That Built Me" itu menilai periode tersebut sebagai masa paling tidak seimbang bagi penyanyi perempuan di genre yang ia geluti sejak awal 2000-an.
Dalam wawancara di podcast Popcast, Lambert mengenang bahwa sepanjang dekade lalu hampir tidak ada penyanyi perempuan yang menembus arus utama country. Ia menyebut hanya dirinya dan Carrie Underwood yang mampu mempertahankan karier secara konsisten selama kurang lebih tujuh tahun, sementara sebagian besar nama baru yang muncul adalah penyanyi pria. "Kami seharusnya dapat pita penghargaan karena bisa melewati masa itu," ujarnya, seraya menambahkan bahwa periode tersebut benar-benar berat secara profesional.
Menariknya, meski sama-sama menjadi ikon country pada periode itu, Lambert dan Underwood hampir tidak pernah bersinggungan secara profesional. Keduanya jarang tampil di panggung yang sama karena industri lebih sering memasangkan mereka dengan penyanyi pria. Lambert mengaku baru benar-benar melihat aksi panggung Underwood ketika keduanya saling mengunjungi residensi masing-masing di Las Vegas. Momen itu ia gambarkan sebagai titik kedekatan yang jarang terjadi.
"Selama bertahun-tahun hanya ada dua perempuan. Kami tidak pernah tampil di acara yang sama. Aneh rasanya baru tiga tahun lalu kami akhirnya melihat pertunjukan satu sama lain," kata Lambert.
Refleksi Lambert menyoroti persoalan struktural yang lebih luas di industri musik country Amerika Serikat. Selama bertahun-tahun, stasiun radio dan label besar dinilai lebih memprioritaskan penyanyi pria karena dianggap lebih mudah dipasarkan. Sejumlah riset industri musik AS bahkan pernah menunjukkan bahwa porsi lagu penyanyi perempuan di radio country sempat menyusut drastis pada pertengahan 2010-an. Kondisi itu memaksa artis perempuan seperti Lambert dan Underwood membangun basis penggemar sendiri, termasuk lewat tur dan residensi di Las Vegas yang tidak bergantung pada rotasi radio.
Tekanan industri tidak hanya berdampak pada karier, tetapi juga pada kesehatan fisik dan mental. Lambert pernah mengakui bahwa lonjakan popularitasnya memengaruhi cara ia memandang berat badan dan citra tubuh. Dalam buku masaknya, Y'all Eat Yet?, ia menuturkan bahwa rutinitas tur membuatnya sulit menjaga pola makan dan olahraga. Namun, ia merasa dukungan penggemar membantunya melewati keraguan tersebut. Banyak penggemar perempuan, katanya, berterima kasih karena Lambert tampil percaya diri tanpa harus menyesuaikan diri dengan standar tubuh tertentu.
Pernyataan Lambert ini muncul di tengah perdebatan yang masih berlangsung soal representasi gender di industri musik. Di Indonesia, persoalan serupa juga mengemuka di genre seperti pop dan dangdut, di mana penyanyi perempuan kerap menghadapi tuntutan penampilan sekaligus persaingan yang tidak setara dengan rekan pria. Pengalaman Lambert bisa menjadi cermin bahwa perubahan tidak datang otomatis; dibutuhkan keberanian artis untuk bersuara dan ekosistem yang mau mendengarkan.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah penyanyi perempuan bisa bertahan, melainkan seberapa cepat industri country—dan industri musik secara umum—mau membongkar pola lama yang membatasi ruang gerak mereka. Jika Lambert dan Underwood butuh lebih dari satu dekade hanya untuk bertemu di panggung yang sama, masih ada banyak pekerjaan rumah yang menanti di balik sorotan panggung.



