Bir Ramah Lingkungan dari Australia: Ketika Produksi Bir Ikut Menekan Emisi
Baca dalam 60 detik
- Konsumsi bir Australia mencapai 69 juta liter per tahun, memicu timbulan sampah kemasan yang signifikan.
- Sejumlah pabrik bir lokal beralih ke energi terbarukan, kemasan isi ulang, dan inovasi barley untuk menekan jejak karbon.
- Riset kolaboratif dengan universitas menghasilkan terobosan, termasuk pemanfaatan alga untuk menyerap CO2 fermentasi.

Industri bir Australia menghadapi tekanan besar untuk mengurangi dampak lingkungannya. Data menunjukkan warga Negeri Kanguru mengonsumsi 69 juta liter bir setiap tahun, sementara 17 miliar botol dan kaleng dibuang, dengan tingkat daur ulang di bawah 50 persen. Kondisi ini mendorong sejumlah pabrik bir lokal untuk mengadopsi praktik produksi yang lebih berkelanjutan, mulai dari energi terbarukan hingga kemasan isi ulang.
Sejumlah merek bir ikonik Australia kini dimiliki korporasi asing. Asahi Group Holdings asal Jepang menguasai Carlton Draught, Victoria Bitter, Great Northern, Balter, dan Mountain Goat. Sementara Kirin Holdings memiliki XXXX, Tooheys, Hahn, James Boag, Little Creatures, dan Stone and Wood. Meski demikian, kedua perusahaan menargetkan penggunaan listrik 100 persen terbarukan pada 2040, dengan target nol emisi bersih pada 2040โ2050.
Namun, pabrik bir lokal justru menunjukkan langkah lebih maju. Bodriggy Brewing Company di Melbourne menjadi pabrik bir kedua di Australia dan pertama di Victoria yang meraih sertifikasi karbon netral melalui program Climate Active. Mereka membeli kredit karbon untuk mengimbangi emisi, meski metode ini masih kontroversial, dan berencana memangkas emisi hingga 30 persen lagi pada 2030. Langkah lain termasuk membeli silo gandum sendiri untuk mengurangi frekuensi pengiriman serta mendesain tutup tong yang dapat digunakan ulang bersama Pactec.
Andrew Joseph, senior brewer Bodriggy, menilai bahwa "sustainable brewing is the future of brewing in Australia". Ia berharap permintaan konsumen dapat mendorong industri lebih jauh. "Jika konsumen mendorong produk berkelanjutan dan menyuarakan praktik ramah lingkungan, itu akan menginspirasi pabrik bir lain untuk lebih hijau," ujarnya.
Selain kemasan, proses produksi barley dan malt menjadi penyumbang emisi besar. Peneliti dari Adelaide University bekerja sama dengan Coopers Brewery mengkaji varietas barley yang lebih cepat kering sehingga mengurangi energi pada tahap kilning yang biasanya menggunakan gas. Prof Matthew Tucker, Direktur Waite Research Institute, menyatakan, "Energi termurah dan terhijau adalah energi yang tidak perlu kita gunakan." Menurutnya, perbaikan kultivar barley dapat menekan kebutuhan energi dan sumber daya, membuat produksi lebih berkelanjutan dan ekonomis.
Di Sydney, Young Henrys, pabrik bir kerajinan di Newtown, memasang panel surya 30kW pada 2016 dan membeli listrik terbarukan 100 persen. Kini mereka berkolaborasi dengan University of Technology Sydney merancang reaktor kecil untuk menangkap emisi karbon dari fermentasi bir. CO2 dialirkan ke bioreaktor berisi alga yang mengubahnya menjadi oksigen melalui fotosintesis. Alga kaya protein kemudian dicampur dengan spent grain, produk sampingan pembuatan bir, untuk pakan ternak bergizi. Uji coba pada 80 ekor domba menunjukkan hasil positif; panel penguji menilai daging domba memiliki rasa lebih baik dan kandungan omega-3 lebih tinggi.
"Jika kita bisa mengurangi metana baik dalam proses pembuatan bir maupun pada hewan, sekaligus meningkatkan omega-3, kita benar-benar menemukan sesuatu yang sangat layak," kata Richard Adamson, direktur Young Henrys.
Selain inovasi produksi, pabrik bir dan pub di Australia menyediakan opsi growlerโwadah 1,89 liter yang dapat diisi ulang dengan bir tap, setara enam kaleng. Ada pula squealer berukuran 900 ml. Direktori seperti Beer Crawl memudahkan konsumen mencari tempat yang menyediakan isi ulang growler.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa industri bir Australia tidak hanya sekadar menghasilkan minuman, tetapi juga berupaya menekan jejak karbon. Namun, tantangan tetap ada: apakah praktik berkelanjutan ini akan diadopsi secara luas oleh pemain besar, atau hanya menjadi ceruk bagi pabrik bir kerajinan? Waktu yang akan menjawab, tetapi tekanan konsumen dan regulasi tampaknya akan menjadi kunci.



