Wabah Bluetongue Terburuk di Inggris: Krisis Iklim Dorong Virus Afrika ke Peternakan Skotlandia
Baca dalam 60 detik
- Inggris mencatat 2.201 kasus bluetongue pada musim 2026-2027, melampaui total tiga musim sebelumnya hanya dalam tiga bulan.
- Virus yang ditularkan midge ini pertama kali masuk Skotlandia dan mencapai Aberdeenshire, menandai pergeseran geografis patogen akibat pemanasan global.
- Peternak menghadapi tekanan ganda: kelangkaan vaksin dan biaya operasional yang membengkak, sementara para ahli memperingatkan ancaman serupa akan terus berulang.

Inggris tengah menghadapi musim bluetongue paling parah sepanjang sejarah, dengan jumlah kasus yang dalam tiga bulan pertama telah melampaui akumulasi tiga tahun sebelumnya. Departemen Lingkungan, Pangan, dan Urusan Pedesaan (Defra) melaporkan 2.201 kasus per 30 September 2026, di mana 1.103 di antaranya terdeteksi sepanjang bulan tersebut. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa perubahan iklim tidak lagi sekadar proyeksi masa depan, melainkan telah mengubah peta penyebaran penyakit hewan secara nyata.
Bluetongue adalah penyakit viral yang menyerang domba, sapi, dan ruminansia lain. Gejalanya mencakup demam tinggi, luka pada mulut, pembengkakan kepala, serta kelumpuhan. Pada kasus ekstrem, lidah hewan dapat membiru dan menjulur keluar—ciri khas yang memberi nama penyakit ini. Virus tidak menular ke manusia dan tidak mencemari rantai pangan, namun dampaknya terhadap produktivitas ternak dan keberlanjutan usaha peternakan sangat besar.
Serotipe 3 (BTV-3) pertama kali terdeteksi di Inggris pada 2023. Sejak itu, virus yang berasal dari Afrika ini menyebar melalui gigitan midge—serangga kecil yang berkembang biak optimal pada suhu hangat. Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) mengaitkan ekspansi ini dengan kerusakan iklim. Para akademisi menegaskan bahwa transmisi virus sangat bergantung pada suhu lingkungan; semakin panas, semakin luas wilayah yang cocok bagi midge untuk menularkan patogen.
Musim bluetongue 2026-2027 berlangsung sejak 1 Juli 2026 hingga 30 Juni 2027. Meski baru berjalan seperempat periode, jumlah kasus telah melampaui total tiga musim sebelumnya. Karena Defra menghitung satu kasus per lokasi peternakan, jumlah hewan yang benar-benar terinfeksi diperkirakan jauh lebih tinggi. Ini menimbulkan kekhawatiran tentang underreporting dan kemampuan sistem pengawasan veteriner dalam mendeteksi wabah secara dini.
"Peternak harus waspada terus-menerus dan memeriksa ternak mereka setiap saat," ujar Robyn Munt, wakil presiden National Farmers' Union. Ia menambahkan bahwa proses vaksinasi sangat menantang karena pasokan vaksin bersifat demand-led, sehingga peternak kesulitan mendapatkan dosis tepat waktu.
Munt juga menyoroti beban ganda yang dialami peternak: biaya operasional membengkak akibat kekeringan yang dipicu perubahan iklim, ditambah tekanan tenaga kerja dan stres tambahan untuk vaksinasi serta pengobatan hewan yang sakit. "Ini bukan sekadar masalah kesehatan hewan, tetapi ancaman terhadap kelangsungan hidup usaha peternakan keluarga," tegasnya.
Yang paling mengejutkan, penyakit ini kini telah menyeberang ke Skotlandia untuk pertama kalinya. Kasus ditemukan hingga Aberdeenshire, wilayah paling utara yang pernah tercatat. Tom Cantillon, analis senior di Energy and Climate Intelligence Unit, menilai wabah rekor tahun ini sebagai "pertanda hal-hal yang akan datang." Menurutnya, perubahan iklim meningkatkan kemungkinan musim dingin yang lebih sejuk dan musim panas yang lebih panas, sehingga hama dan patogen yang dulunya tidak dapat bertahan hidup kini dapat berkembang biak di Inggris.
"Ini akan berdampak mendalam tidak hanya pada peternak, tetapi juga masyarakat luas," kata Cantillon. Ia menambahkan bahwa persiapan memadai—termasuk vaksinasi hewan ternak—sangat diperlukan, namun pada akhirnya tidak ada vaksin yang mampu melawan jenis iklim yang memicu wabah ini. "Wabah akan semakin sering terjadi sampai kita mengurangi emisi hingga nol bersih dan menghentikan pemanasan global," ujarnya.
Fenomena ini bukan isolasi. Awal musim panas lalu, nyamuk yang mampu menularkan virus Zika dan dengue ditemukan berkembang biak di rumah-rumah di London timur. Para ahli memprediksi pemanasan cepat akan memicu gelombang masuknya nyamuk invasif. Pola ini menunjukkan bahwa krisis iklim tidak hanya memanaskan suhu, tetapi juga merombak ekosistem penyakit secara fundamental.
Bagi Indonesia, peringatan ini relevan. Sebagai negara tropis dengan keanekaragaman hayati tinggi dan sektor peternakan yang signifikan, Indonesia rentan terhadap masuknya patogen baru. Perubahan pola curah hujan dan suhu dapat memperluas habitat vektor penyakit, termasuk midge dan nyamuk. Kesiapsiagaan surveilans, penguatan laboratorium veteriner, serta riset vaksin menjadi investasi strategis yang tidak bisa ditunda.
Pertanyaannya kini: apakah pemerintah dan industri peternakan global akan mempercepat adaptasi, atau menunggu wabah berikutnya yang lebih dahsyat? Tanpa aksi iklim yang serius, bluetongue hanyalah awal dari serangkaian krisis kesehatan hewan yang akan menguji ketahanan pangan dunia.



