Tuna Sirip Biru Kembali ke Perairan Inggris Setelah Hampir Punah, Ilmuwan Sebut Bukti Pengelolaan Efektif
Baca dalam 60 detik
- Tuna sirip biru Atlantik kembali terlihat dalam jumlah besar di lepas pantai Devon, Inggris, setelah sempat dinyatakan hampir punah pada awal 2000-an.
- Regulasi penangkapan ketat sejak awal 2000-an menjadi kunci pemulihan populasi, meski perubahan iklim turut mengubah pola migrasi ikan ini.
- Keberhasilan konservasi ini menawarkan pelajaran bagi Indonesia dalam mengelola stok tuna yang menjadi komoditas ekspor utama.

Setelah nyaris lenyap dari perairan Inggris selama lebih dari setengah abad, tuna sirip biru Atlantik (Thunnus thynnus) kembali menampakkan diri dalam jumlah besar di lepas pantai Devon. Pengamatan terbaru seorang penulis alam di South Hams, Devon, mencatat sekawanan tuna sedang berburu di permukaan laut—pemandangan yang terakhir umum terlihat pada 1950-an. Kemunculan ini menjadi indikasi kuat bahwa upaya konservasi selama dua dekade terakhir membuahkan hasil nyata.
Ikan raksasa yang dapat tumbuh hingga tiga meter dan berenang lebih dari 64 kilometer per jam itu sempat terpuruk akibat penangkapan berlebihan. Populasinya di perairan Inggris merosot tajam hingga hampir punah pada akhir abad ke-20. Baru pada awal 2000-an, serangkaian regulasi ketat diberlakukan, termasuk kuota tangkap dan pengawasan ketat terhadap kapal penangkap. Sejak itu, jumlahnya perlahan pulih. Pada 2021, Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) merevisi status tuna sirip biru Atlantik dari "kritis terancam punah" menjadi "risiko rendah"—sebuah lompatan besar dalam dunia konservasi laut.
Chris Graham dari Marine Conservation Society menilai pemulihan ini sebagai bukti "kekuatan pengelolaan yang efektif". Namun ia juga menyoroti "masalah latar belakang" yang tak bisa diabaikan: pemanasan global. Suhu laut yang menghangat mengubah pola migrasi tuna dan ikan-ikan kecil yang menjadi mangsanya. Setelah gelombang panas yang melanda Eropa tahun ini, perairan Devon menjadi habitat yang semakin nyaman bagi tuna—sebuah paradoks, karena perubahan iklim yang mengancam banyak spesies justru membuka jalan baru bagi si raksasa laut.
"Ini menunjukkan kekuatan pengelolaan yang efektif, tetapi pemanasan global tetap menjadi masalah latar belakang yang mengubah pola migrasi tuna dan mangsanya," ujar Chris Graham, seperti dikutip dari Marine Conservation Society.
Kisah sukses ini bukan tanpa catatan. Meskipun populasi tuna sirip biru Atlantik membaik, tekanan terhadap ekosistem laut global terus meningkat. Di sisi lain, pemulihan ini juga memicu perdebatan baru di kalangan nelayan dan pembuat kebijakan: seberapa besar kuota tangkap yang aman untuk mempertahankan tren positif tanpa merusak keseimbangan ekosistem yang rapuh?
Bagi Indonesia, fenomena ini menyimpan pelajaran berharga. Sebagai salah satu produsen tuna terbesar dunia, Indonesia menghadapi tantangan serupa: menyeimbangkan eksploitasi ekonomi dengan keberlanjutan stok. Kebijakan kuota tangkap dan pengawasan ketat di perairan Inggris menunjukkan bahwa intervensi pemerintah dapat membalikkan nasib spesies yang hampir punah—asalkan konsisten dan berbasis data. Namun, perubahan iklim menambah lapisan kerumitan: pola migrasi tuna di perairan tropis seperti Indonesia juga diprediksi bergeser, yang bisa memengaruhi hasil tangkapan nelayan tradisional dan industri perikanan nasional.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah tuna bisa pulih, melainkan seberapa lama pemulihan ini bertahan di tengah laut yang terus menghangat. Jika pengelolaan yang ketat mampu mengembalikan predator puncak ini ke perairan Inggris, mampukah negara-negara lain—termasuk Indonesia—meniru keberhasilan tersebut tanpa mengorbankan mata pencaharian nelayan? Jawabannya akan menentukan apakah kisah sukses ini hanya jeda sementara atau awal dari era baru konservasi laut.



