Skor Bull Bitcoin Sentuh 90, Tapi Permintaan Spot Menipis: Sinyal Puncak?
Baca dalam 60 detik
- CryptoQuant mencatat Bull Score Bitcoin mencapai 90 dari 100, memicu ekspektasi pasar bullish.
- Permintaan spot justru menyusut 170.000 BTC dalam sebulan, sementara pertumbuhan futures anjlok 90%.
- Tekanan jual dari altcoin dan profit taking memperbesar risiko koreksi jangka pendek.

Bitcoin kembali menarik perhatian setelah reli yang membawanya ke level tertinggi delapan bulan, namun indikator permintaan mulai menunjukkan retakan. Harga aset kripto utama ini diperdagangkan di kisaran $83.300 pada Rabu pagi waktu Asia, turun dari puncak $87.400, meski masih mencatat kenaikan tipis 0,4%. Di balik angka tersebut, sebuah ukuran sentimen pasar justru mendekati skor sempurna—sebuah paradoks yang kerap menandai fase puncak siklus.
CryptoQuant, firma analitik on-chain, menempatkan Bull Score Bitcoin di angka 90 dari 100. Skor ini menggabungkan berbagai indikator on-chain dan pasar menjadi satu bacaan tunggal, dan melonjak setelah bitcoin menembus moving average 365-hari pekan lalu—sebuah sinyal yang oleh firma tersebut dianggap sebagai konfirmasi pasar bullish. Namun, lonjakan skor ini tidak diiringi oleh fondasi permintaan yang kokoh. Data CryptoQuant menunjukkan permintaan spot telah menyusut sekitar 170.000 BTC selama 30 hari terakhir, menandakan bahwa pasar menyerap lebih sedikit koin dibandingkan yang tersedia.
Tekanan jual tidak hanya datang dari pasar spot. Permintaan futures spekulatif merosot tajam, dari sekitar 164.000 BTC pada 14 September menjadi hanya 16.000 BTC pada 29 September—penurunan 90% dalam 15 hari. Sementara itu, pembeli jangka pendek kini menikmati keuntungan belum terealisasi rata-rata 33%, yang terlebar sejak Desember 2024. Mereka pun mulai mengunci profit, dengan aksi jual 25.700 BTC pada 22 September, menjadi hari terbesar profit taking sepanjang tahun ini.
"Tanpa permintaan segar, reli akan sulit berlanjut," ujar Julio Moreno, Head of Research CryptoQuant, dalam laporannya. "Dengan permintaan spot yang masih berkontraksi dan pertumbuhan futures yang mandek, kenaikan jangka pendek menjadi lebih sulit dipertahankan."
Pasar altcoin juga menunjukkan gejala serupa. CryptoQuant mencatat 76.000 deposit altcoin ke bursa dalam tujuh hari, terbanyak sejak Oktober 2025, yang berasal dari 51.000 alamat berbeda. Koin yang berada di bursa dapat dijual dalam hitungan detik, sehingga pasokan ini siap menekan setiap kenaikan harga. Di antara altcoin utama, SOL dan ZEC memimpin dengan kenaikan hampir 2% ke sekitar $119 dan $1.400, sementara XRP naik sekitar 1% ke bawah $1,50. Ether, BNB, dan TRX masing-masing hanya menambah kurang dari 1%.
Sentimen pasar global turut mempengaruhi pergerakan bitcoin. Indeks MSCI Asia Pacific naik 0,9%, dengan 10 dari 11 sektor menguat, dan obligasi stabil setelah aksi jual. Saham SoftBank Group melonjak lebih dari 6% setelah Bloomberg melaporkan OpenAI tengah mencari pendanaan segar minimal $30 miliar dengan valuasi $1,4 triliun. Futures indeks ekuitas juga mengindikasikan kenaikan di Eropa dan Wall Street. Pelaku pasar kini menantikan data inflasi AS yang akan dirilis hari ini, yang dapat memberikan petunjuk arah suku bunga. Inflasi tinggi cenderung meningkatkan peluang kenaikan suku bunga, yang menguatkan dolar dan menekan aset berisiko seperti bitcoin, sedangkan inflasi rendah mendorong ekspektasi pemangkasan suku bunga dan menguntungkan kripto.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini menjadi cermin penting. Bitcoin masih menjadi aset kripto paling dominan di bursa domestik, dan fluktuasi harganya sering memicu reaksi berantai pada altcoin lain. Penurunan permintaan spot dan lonjakan pasokan altcoin di bursa dapat memperbesar volatilitas, terutama bagi trader ritel yang masuk saat euforia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bappebti terus mengawasi perdagangan aset kripto, namun literasi risiko tetap menjadi kunci. Momen seperti ini mengingatkan bahwa reli yang didorong sentimen sering kali rapuh tanpa dukungan permintaan organik.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah bitcoin mampu menyerap pasokan yang ada dan membangun basis permintaan baru, atau justru memasuki fase koreksi lebih dalam. Data inflasi AS dan kebijakan suku bunga The Fed akan menjadi katalis jangka pendek. Sementara itu, investor disarankan mencermati metrik on-chain seperti apparent demand dan aliran dana ke bursa untuk mengukur kekuatan reli berikutnya. Tanpa lonjakan permintaan yang signifikan, skor bull yang nyaris sempurna bisa jadi justru menandai puncak sementara, bukan awal dari reli berkelanjutan.



