Megawati dan Prabowo Dijadwalkan Bertemu Lagi pada 17 Oktober, Sinyal Rekonsiliasi atau Manuver Politik?
Baca dalam 60 detik
- PDIP mengonfirmasi rencana pertemuan lanjutan antara Megawati Soekarnoputri dan Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober, bertepatan dengan ulang tahun ke-75 Prabowo.
- Kunjungan Prabowo ke kediaman Megawati pada 28 September disebut sebagai pertemuan personal tanpa agenda politik, hanya menyampaikan bela sungkawa atas wafatnya Guruh Soekarnoputra.
- Publik menanti apakah pertemuan berikutnya akan membahas isu strategis seperti RUU Pemilu atau justru memperkuat poros kekuasaan menjelang tahun politik.

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Presiden Prabowo Subianto diisukan akan menggelar pertemuan lanjutan pada 17 Oktober mendatang, bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-75 Prabowo. Kabar ini mencuat setelah kunjungan Prabowo ke kediaman Megawati di Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (28/9) petang, yang disebut-sebut sebagai langkah awal mencairkan hubungan kedua tokoh.
Ketua DPP PDIP Said Abdullah mengungkapkan harapan agar pertemuan berikutnya dapat terlaksana pada tanggal tersebut. "Memang akan ada pertemuan lanjutan, insyaAllah. Mudah-mudahan pertemuan lanjutan itu bisa di tanggal 17 Oktober ketika Bapak Presiden kita ulang tahun," ujar Said di kompleks parlemen, Selasa (29/9). Pernyataan ini menegaskan bahwa komunikasi antara kedua kubu terus berjalan, meski detail agenda masih belum dipastikan.
Kunjungan Prabowo berlangsung singkat, sekitar 40 menit, dan menurut Said tidak membahas urusan politik praktis. Presiden hanya menyampaikan bela sungkawa atas berpulangnya adik Megawati, Guruh Soekarnoputra. "Memang singkat karena Bapak Presiden itu kan meluangkan waktu di antara kesibukan beliau," kata Said. Ia juga menepis isu bahwa RUU Pemilu menjadi topik pembicaraan, dengan menegaskan bahwa pembahasan regulasi tersebut berada di ranah DPR dan melibatkan para ketua partai.
Dalam pertemuan tersebut, Megawati dikatakan mendoakan agar Prabowo dapat menyelesaikan masa jabatannya hingga lima tahun penuh. Said menekankan pentingnya tradisi ketaatan pada konstitusi. "Tradisi ketaatan terhadap konstitusi bahwa pemerintahan itu kalau memang dipilih 5 tahun ya kita 5 tahun jaga," ujarnya. Doa ini dinilai sebagai sinyal dukungan politik yang halus, meski PDIP selama ini dikenal sebagai partai oposisi.
"Pertemuan ini sangat personal, dan beliau berdua sama sekali tidak ada pembicaraan lainnya, apalagi bicara politik. Pertemuan ini sangat baik, menjaga silaturahmi satu sama lain," kata Said Abdullah.
Pertemuan ini menjadi sorotan karena menandai interaksi publik pertama antara Megawati dan Prabowo setelah sekian lama hubungan keduanya renggang pasca Pilpres 2024. Kehadiran sejumlah elite Gerindra dan PDIP dalam pertemuan tersebut memperkuat kesan bahwa ada upaya membangun jembatan komunikasi antarpartai. Meski demikian, Said menegaskan bahwa pertemuan itu murni bersifat silaturahmi dan tidak ada negosiasi politik.
Bagi publik Indonesia, pertemuan lanjutan pada 17 Oktober nanti berpotensi menjadi momen penting untuk membaca arah koalisi ke depan. Jika benar terjadi, momen ulang tahun Prabowo bisa dimanfaatkan sebagai ajang konsolidasi politik, atau justru sekadar acara keagamaan dan kekeluargaan. Yang jelas, dinamika hubungan Megawati-Prabowo akan terus dipantau, terutama menjelang pembahasan RUU Pemilu yang saat ini bergulir di DPR. Apakah pertemuan berikutnya akan menghasilkan kesepakatan politik, atau tetap sebatas pertemuan personal? Publik menanti jawabannya.



