iPhone 18 Pro Rp19 Juta Dikeluhkan: Warna Memudar di Cincin Kamera, Pengguna Ramai-ramai Kembalikan
Baca dalam 60 detik
- Sejumlah pembeli iPhone 18 Pro melaporkan perubahan warna pada area sekitar lensa kamera, terutama pada varian Burgundy.
- Keluhan menyebar di forum daring, dengan sebagian pengguna memilih mengembalikan perangkat ke Apple alih-alih mencoba pembersihan mandiri.
- Kasus ini menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi kontrol kualitas pada lini ponsel premium Apple yang dibanderol mulai 1.199 dolar AS.

Apple menghadapi gelombang keluhan dari pembeli iPhone 18 Pro terkait dugaan cacat produksi berupa perubahan warna di sekitar cincin lensa kamera. Perangkat yang baru dirilis awal bulan ini disebut mengalami pemudaran warna, dengan keluhan pertama muncul di forum komunitas iphone18pro di Reddit.
Seorang pengguna mengunggah foto ponsel varian Burgundy miliknya yang memperlihatkan area sekitar lensa tampak lebih terang dan cenderung merah muda dibandingkan bodi kamera di sekitarnya. Ia menegaskan tidak ada minyak, residu, atau kotoran yang menempel, dan telah membersihkan bagian tersebut dengan hati-hati. "Saya juga tidak melihat goresan, penyok, atau kerusakan fisik. Perbedaan warna ini terlihat jelas secara langsung," tulisnya, seraya mempertanyakan apakah kondisi itu normal atau termasuk cacat produksi.
Tanggapan dari sesama pengguna pun beragam, namun mayoritas menyatakan hal itu tidak wajar. "Itu tidak normal. Pakai casing atau kembalikan saja," ujar satu pengguna. Pengguna lain mengaku mengalami hal serupa pada varian Burgundy Pro Max dan membantah saran bahwa masalahnya bisa hilang hanya dengan dilap. "Ini perubahan warna pada unitnya, bukan kotoran yang bisa dibersihkan," katanya. Sebagian lagi bahkan sudah mengirim perangkat mereka kembali ke Apple karena menganggap cacat tersebut mengganggu.
Di sisi lain, beberapa penghuni forum menyarankan penggunaan alkohol gosok sebagai solusi, dengan klaim bahwa cara itu berhasil mengatasi masalah. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari Apple mengenai penyebab pasti maupun langkah penanganan yang akan diambil.
Dalam siaran pers 9 September lalu, Senior Vice President Worldwide Marketing Apple, Greg Joswiak, menyatakan bahwa iPhone 18 Pro membawa kemajuan di area yang paling dianggap penting oleh pengguna: kamera, performa, baterai, dan kecerdasan buatan. Ia menegaskan perusahaan tidak sekadar melakukan peningkatan bertahap, melainkan lompatan besar untuk menciptakan iPhone Pro terbaik yang pernah dibuat. Klaim tersebut kini diuji oleh realitas di lapangan, di mana sejumlah pengguna justru mempersoalkan kualitas finishing perangkat.
Bagi konsumen di Indonesia, isu ini relevan mengingat iPhone 18 Pro termasuk perangkat yang dinanti dan biasanya masuk pasar domestik melalui jalur distribusi resmi maupun ritel daring. Harga premium yang setara puluhan juta rupiah membuat toleransi terhadap cacat kosmetik sangat rendah. Jika masalah serupa muncul pada unit yang dijual di Indonesia, pembeli berhak menuntut garansi resmi, namun proses klaim bisa memakan waktu dan tenaga, terutama jika Apple belum mengakui cacat tersebut secara global.
Kasus ini juga menyoroti tekanan yang dihadapi Apple dalam menjaga standar kontrol kualitas di tengah persaingan ponsel flagship yang semakin ketat. Produsen seperti Samsung dan Google gencar menawarkan alternatif dengan harga bersaing, sehingga keluhan semacam ini berpotensi menggerus kepercayaan konsumen terhadap lini Pro. Di sisi lain, forum daring menjadi kanal cepat bagi penyebaran keluhan, yang dalam hitungan jam bisa memengaruhi persepsi publik sebelum perusahaan sempat merespons.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa cepat Apple mengakui dan menangani keluhan ini. Jika terbukti sebagai cacat produksi massal, perusahaan mungkin perlu menyiapkan program penggantian atau perbaikan gratis. Namun jika hanya terjadi pada sekelompok unit, komunikasi yang jelas tetap diperlukan untuk meredam spekulasi. Tanpa langkah tersebut, isu pemudaran warna bisa menjadi batu sandungan bagi reputasi iPhone 18 Pro di pasar global, termasuk Indonesia.



