Sony Rilis QSSR: AI Upscaling PS5 Base Tingkatkan Kualitas Gambar, Digital Foundry Sebut 'Luar Biasa'
Baca dalam 60 detik
- Sony memperkenalkan Quick Spectral Super Resolution (QSSR), teknologi AI upscaling untuk PS5 standar, yang diklaim mampu mendongkrak ketajaman visual secara signifikan.
- Analis Digital Foundry menguji QSSR pada Marvel's Wolverine dan Ghost of Yotei, menemukan peningkatan stabilitas temporal dan detail yang mencolok, terutama di Wolverine.
- Meski ada penurunan frame rate sekitar 8-10 fps pada mode uncapped, QSSR hanya memakan 1,5-1,8 ms per frame, sehingga performa 60fps tetap terjaga.

Sony secara resmi memperkenalkan Quick Spectral Super Resolution (QSSR), teknologi upscaling berbasis kecerdasan buatan yang dirancang khusus untuk konsol PS5 standar. Langkah ini menandai babak baru dalam upaya perusahaan meningkatkan kualitas visual tanpa harus merilis perangkat keras baru, sekaligus menjawab keluhan gamer soal resolusi rendah yang kerap menghantui banyak judul generasi ini.
Berbeda dari PlayStation Spectral Super Resolution (PSSR) yang menjadi standar emas di PS5 Pro, QSSR disebut Sony sebagai "evolusi cepat dari PSSR" yang dibangun di atas dua inovasi utama: arsitektur jaringan saraf yang lebih ramping dan implementasi yang disetel secara manual untuk memaksimalkan performa di PS5. Menurut Sony, QSSR memberikan peningkatan pada detail dan stabilitas gambar di PS5, dengan Marvel's Wolverine dan Ghost of Yลtei menjadi judul pertama yang mengadopsinya.
Analis teknologi dari Digital Foundry (DF) yang sempat mencoba langsung teknologi ini menilai potensinya "luar biasa". Mereka menyoroti bahwa masalah resolusi rendah dan upscaling buruk telah memengaruhi banyak judul di generasi ini, dan QSSR bisa menjadi pembeda besar. "Di Marvel's Wolverine khususnya, peningkatan kualitasnya bisa dibilang sangat istimewa," tulis DF. Mereka mencatat stabilitas temporal meningkat pesat, level detail bertambah, integritas sub-piksel jauh lebih baik, dan artefak dari elemen seperti dedaunan bergerak berkurang drastis.
Dalam analisis videonya, pendiri DF Richard Leadbetter membandingkan QSSR aktif dan nonaktif pada kedua game. Ia menguji cutscene Wolverine dalam Performance Mode uncapped dan menemukan peningkatan visual yang jelas saat teknologi dinyalakan. "Frame rate-nya lebih rendah. Angka utamanya memang tidak terlihat bagus, sekitar 8 hingga 10 fps lebih rendah. Tapi yang penting adalah biaya frame time QSSR. Menurut perhitungan saya, antara 1,5 hingga 1,8 milidetik, dan itu wajar untuk upscaler berbasis machine learning yang menghasilkan gambar seperti ini dari resolusi dasar rendah pada perangkat keras tanpa akselerasi ML," ujar Leadbetter.
Leadbetter juga menyimpulkan bahwa semakin tinggi resolusi output/input, semakin besar dampak penurunan frame rate. Namun, pada mode grafis 60fps yang menggunakan dynamic resolution scaling, ia menyebut "kita mendapatkan yang terbaik dari kedua dunia" karena performa praktis identik dengan atau tanpa QSSR. "Sisi QSSR 'on' akan memiliki resolusi lebih rendah untuk menjaga frame rate, tetapi kualitas upscaler-nya jauh lebih baik sehingga pengalaman keseluruhan lebih memuaskan," jelasnya.
"Saya harus memeriksa ulang apakah QSSR benar-benar aktif karena hasilnya tampak terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Tidak ada penurunan performa yang berarti." โ Richard Leadbetter, Digital Foundry
Pada Ghost of Yลtei yang sudah memiliki kualitas gambar memukau, DF melihat peningkatan yang tidak sedramatis Wolverine. Bahkan, dalam mode Performance uncapped VRR 120 Hz, penurunan frame rate saat QSSR aktif disebut "sedikit" dan "hampir tidak terasa". Leadbetter menegaskan bahwa perbedaan dengan Wolverine sangat kontras, hingga ia sempat ragu apakah QSSR benar-benar menyala.
Seperti PSSR, QSSR diperkirakan akan ditambahkan ke lebih banyak game melalui patch dan digunakan pada judul-judul PS5 mendatang. Namun, belum jelas apakah Rockstar Games berencana memanfaatkan teknologi ini di Grand Theft Auto 6. Sony tampaknya ingin memperpanjang siklus hidup PS5 standar dengan peningkatan berbasis perangkat lunak, alih-alih mendorong pemain untuk beralih ke PS5 Pro.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran QSSR bisa menjadi angin segar. Harga PS5 Pro yang masih tinggi membuat basis pengguna PS5 standar jauh lebih besar. Teknologi ini berpotensi membuat gamer Tanah Air tetap mendapatkan pengalaman visual kompetitif tanpa harus merogoh kocek tambahan. Pertanyaannya, seberapa cepat pengembang lokal dan global mengadopsi QSSR, dan apakah Sony akan membuka aksesnya secara lebih luas ke semua pengembang?



