Retakan di Kubu MAGA: Pendukung Setia Trump Mulai Berbalik Arah Jelang Pemilu Tengah Periode
Baca dalam 60 detik
- Sejumlah pendukung garis keras Trump, termasuk anggota Front Row Joes, menyatakan kekecewaan akibat Perang Iran dan penanganan berkas Epstein.
- Podcaster Joe Rogan yang berperan besar dalam kemenangan 2024 kini menjauh dan menyebut basis pendukung Trump 'gila'.
- Gelombang ketidakpuasan ini berpotensi menjadi pukulan telak bagi Partai Republik pada pemilu sela November mendatang.

Kepercayaan para pendukung paling loyal Donald Trump mulai retak menjelang pemilu sela November. Setelah bertahun-tahun menjadi benteng terakhir elektabilitasnya, sejumlah pengikut fanatik kini secara terbuka mempertanyakan kepemimpinan presiden ke-47 Amerika Serikat itu, dipicu oleh dua isu yang selama ini dianggap tabu: perang dengan Iran dan dokumen Epstein.
Trisha Hope, yang pernah menjadi bagian dari Front Row Joes—kelompok penggemar yang rela berkeliling negeri demi menghadiri rapat umum Trump—menjadi salah satu suara pembelot. Dalam wawancara dengan Politico, ia menyatakan tidak akan lagi membela Trump jika Partai Republik kalah di pemilu sela dan presiden kembali dimakzulkan. “Jika kami kalah dan dia dimakzulkan lagi, saya akan berjalan di lorong Kongres untuk mendukung pemakzulan itu,” ujarnya, seperti dikutip dari wawancara tersebut.
Alasan di balik perubahan sikap Hope dan sesama pendukung, Rick Frazier, bukanlah kebijakan ekonomi atau retorika politik biasa. Keduanya menyoroti keterlibatan Amerika dalam perang melawan Iran serta penanganan berkas Epstein sebagai pemicu utama. Frazier bahkan menyebut kombinasi “kejahatan Epstein dan pemberian makan kepada kompleks industri militer” sebagai hal yang tidak bisa ia toleransi.
Pergeseran tidak hanya terjadi di kalangan akar rumput. Joe Rogan, podcaster dengan jutaan pendengar yang endorsement-nya disebut-sebut membantu kemenangan Trump pada 2024, bulan ini secara terbuka menjauh. Dalam episodenya, Rogan menyebut pendukung Trump “benar-benar gila” dan mengakui bahwa ia “sedikit membantu Trump” karena berharap presiden itu akan membersihkan rawa politik. “Jelas, itu tidak berjalan ideal,” tambahnya.
Bagi Partai Republik, sinyal ini jauh lebih mengkhawatirkan daripada sekadar kehilangan beberapa simpatisan. Pemilu sela November akan menjadi referendum atas kepemimpinan Trump, dan gelombang kekecewaan di basis sendiri bisa memperbesar peluang Demokrat merebut kembali DPR maupun Senat. Trump sendiri telah meminta pemilih untuk “menganggap saya ada di surat suara”, sebuah strategi yang menurut sejumlah analis justru mempertegas posisinya sebagai pusat kontestasi.
Kekhawatiran juga merembet ke lingkaran dalam Partai Republik. Katie Miller, istri dari penasihat senior Trump, Stephen Miller, mengungkapkan kekhawatiran bahwa investigasi politik akan kembali menghantui keluarga mereka setelah pemerintahan berakhir. “Setelah pemerintahan Trump pertama, keluarga saya menghabiskan uang yang tidak kami miliki untuk pengacara karena berbagai investigasi partisan,” tulisnya di media sosial. “Anda tidak bisa meyakinkan saya bahwa Demokrat tidak akan melakukannya lagi.”
Meski demikian, dampak jangka panjang dari pembelotan ini masih menjadi perdebatan. Trump saat ini berstatus lame duck—presiden yang masa jabatannya akan segera berakhir—sehingga sebagian pengamat menilai perubahan sikap para pendukungnya tidak akan serta-merta mengubah lanskap politik. Namun, bagi pemilih di Indonesia, dinamika ini tetap relevan: Amerika Serikat adalah mitra dagang utama dan penentu arah kebijakan global, termasuk di kawasan Indo-Pasifik. Ketidakstabilan politik di Washington dapat memengaruhi negosiasi perdagangan, kebijakan iklim, hingga posisi AS dalam rivalitas dengan Tiongkok.
Yang lebih penting, retaknya basis MAGA menyoroti pola yang kerap terjadi dalam politik populisme: kekecewaan terhadap sistem yang dianggap melindungi elite. Para pembelot seperti Hope dan Frazier tidak hanya marah pada Trump, tetapi juga pada tatanan yang membiarkan orang berkuasa lolos dari pertanggungjawaban. Jika kemarahan itu tidak disalurkan melalui mekanisme demokrasi yang sehat, bukan tidak mungkin akan muncul figur baru yang lebih ekstrem di masa depan.
Dengan pemilu sela yang semakin dekat, pertanyaannya bukan lagi apakah Trump masih memiliki pendukung setia, melainkan seberapa besar keretakan di basisnya akan memengaruhi hasil di bilik suara—dan apakah Partai Republik mampu menahan guncangan yang lebih besar setelah era Trump berakhir.



