Slipknot Siapkan Album Eksperimental, Jim Root: Ini Akan Melukai Perasaan
Baca dalam 60 detik
- Gitaris Jim Root menegaskan album anyar Slipknot bukan kelanjutan dari The End, So Far dan akan mengejutkan penggemar dengan pendekatan yang sama sekali berbeda.
- Proses rekaman dilakukan secara live di lantai studio dengan peralatan analog, melibatkan drummer Eloy Casagrande serta produser Matt Wallace.
- Slipknot juga mengumumkan tur stadion terbesar mereka, (sic)est Stadium Tour, yang akan menyambangi tiga benua mulai Juli mendatang.

Jim Root, gitaris Slipknot, memperingatkan bahwa album studio mendatang tidak akan terdengar seperti apa pun yang pernah dirilis band asal Iowa tersebut. Dalam interaksi langsung dengan penggemar melalui unggahan video pedalboard pada Senin (28/09/26), Root menegaskan bahwa formasi yang kini diperkuat Eloy Casagrande sengaja menghindari pengulangan formula lama. โIni akan melukai perasaan sebagian orang,โ ujarnya, seraya menambahkan bahwa band tengah bereksperimen dengan berbagai pendekatan baru.
Pernyataan itu muncul setelah singel mandiri berjudul Arsenal memecah opini publik. Sebagian penggemar menyambut baik arah baru tersebut, sebagian lain menganggapnya terlalu jauh dari karakter khas Slipknot. Root menegaskan Arsenal bukanlah singel utama dari album yang akan datang, melainkan sekadar materi yang bisa diselesaikan lebih cepat untuk memberi gambaran awal kepada pendengar. โItu bukan representasi dari lagu-lagu lainnya,โ tegasnya.
Menurut Root, album baru ini tidak akan menjadi sekuel dari Slipknot (1999) maupun Iowa (2001). Ia menyebut suasana rekaman kali ini terasa jujur dan gelisah, mengingatkannya pada masa-masa awal band berdiri. Namun ia juga menekankan bahwa atmosfer tersebut tidak otomatis berarti musiknya akan identik dengan era tersebut. โRekaman awal punya getaran itu. Anda tidak bisa melewatkannya bersama Ross [Robinson],โ katanya, merujuk pada produser yang terlibat dalam beberapa album sebelumnya.
Salah satu perubahan signifikan terletak pada metode perekaman. Root mengungkapkan bahwa untuk pertama kalinya dalam waktu lama, band merekam secara live di lantai studio bersama Eloy Casagrande. Seluruh proses menggunakan peralatan analog, tanpa tambahan polesan berlebihan. Ia bahkan mengkritik sebagian output terbaru Slipknot yang dinilainya terlalu halus. โBukan yang paling bagus secara bunyi, tapi yang paling hidup dan menggairahkan,โ ujarnya. Produser Matt Wallace, yang dikenal lewat karyanya bersama Faith No More dan Maroon 5, dipercaya mengawal arah baru ini.
Di sisi lain, Slipknot baru saja mengumumkan (sic)est Stadium Tour, tur stadion terbesar mereka dalam beberapa tahun terakhir. Rencana ini mencuat setelah kemunculan poster merah misterius bergambar logo โSโ di berbagai kota dunia, memicu spekulasi penggemar. Tur akan menyeberangi tiga benua: Eropa, Amerika Utara, dan Amerika Selatan, dengan desain panggung baru serta setlist yang merangkum perjalanan karier band.
Untuk pertunjukan di Wembley, Slipknot akan didampingi Marilyn Manson, Lorna Shore, dan Hatebreed. Manson dan Hatebreed juga dijadwalkan tampil di leg Amerika Selatan pada September, sementara Bring Me The Horizon menjadi penampil pendukung utama di Amerika Utara. Sejumlah nama lain seperti Acid Bath, Lamb of God, Motionless In White, Kublai Khan TX, Polyphia, Loathe, dan Vended melengkapi daftar pembuka di berbagai kota.
Setelah London, tur berlanjut ke sejumlah stadion ikonik di Amerika Serikat, termasuk Nationals Park (Washington, D.C.), Citi Field (New York), Soldier Field (Chicago), Fenway Park (Boston), SoFi Stadium (Los Angeles), dan Golden Gate Park (San Francisco). Leg Amerika Selatan akan menyambangi Brasil, Argentina, Chile, Peru, dan Kolombia. Sebelum tiket dijual, band menggelar (sic)est Stadium Tour Launch Experiences di Wembley dan SoFi Stadium, menawarkan akses awal, merchandise eksklusif, serta poster edisi terbatas bagi 500 pembeli pertama.
Bagi penggemar di Indonesia, pengumuman ini memunculkan harapan akan kemungkinan masuknya Slipknot dalam daftar tur Asia-Pasifik. Meski belum ada konfirmasi resmi, besarnya skala tur dan antusiasme pasar Asia Tenggara kerap menjadi pertimbangan promotor. Jika terealisasi, ini akan menjadi momen langka bagi basis penggemar metal Tanah Air yang selama ini lebih sering menyaksikan band-band internasional tampil di negara tetangga seperti Singapura atau Australia.
Dengan arah musikal yang makin eksperimental dan tur raksasa yang sudah di depan mata, Slipknot berada di persimpangan antara mempertahankan loyalitas penggemar lama dan menjangkau pendengar baru. Akankah keberanian mereka meninggalkan zona nyaman berbuah pujian, atau justru memperlebar jurang di antara basis penggemar? Jawabannya akan mulai terlihat saat album dirilis dan panggung-panggung stadion menyala.



