Khloe Kardashian Dituntut Anak Sulung soal Adik Perempuan, Embrio Beku Jadi Opsi
Baca dalam 60 detik
- True, putri sulung Khloe Kardashian, terus meminta adik perempuan hingga membuat ibunya mempertimbangkan embrio beku sisa program IVF.
- Khloe mengaku belum siap menambah anak karena belum menikah dan ingin punya suami sebelum memperbesar keluarga.
- Diskusi di podcast terbarunya membuka perdebatan soal batas antara keinginan anak dan kesiapan psikologis orang tua.

Khloe Kardashian kembali menjadi sorotan setelah mengungkap bahwa putri sulungnya, True, terus mendesak dirinya untuk memiliki anak ketiga. Dalam episode terbaru podcast Khloe in Wonder Land, ia mengaku sang anak berharap mendapat adik perempuan, bahkan mendorong penggunaan embrio beku yang masih tersimpan dari program bayi tabung bersama mantan pasangannya, Tristan Thompson.
Kepada tamunya, Paige DeSorbo, Khloe menyebut True yang berusia delapan tahun kerap melontarkan permintaan itu. "Yang dilakukan True hanya satu: dia ingin saudara perempuan," ujarnya, seperti dikutip dari percakapan podcast tersebut. Khloe, yang kini berusia 42 tahun, memiliki dua anak dari hubungannya dengan Tristan: True dan Tatum yang lahir melalui surogasi pada 2022.
Ia mengungkapkan masih menyimpan satu embrio hasil fertilisasi in vitro (IVF) dengan Tristan. "Dia masih dalam pendinginan, tapi aku belum tahu," kata Khloe, menggambarkan embrio tersebut sebagai opsi yang belum diputuskan. Pernyataan ini memunculkan kembali diskusi tentang bagaimana perempuan memaknai keinginan memiliki anak di tengah dinamika keluarga modern.
Dalam perbincangan itu, Khloe juga merenungkan apakah keinginannya memiliki anak perempuan lahir dari pengalaman pribadi sebagai salah satu dari lima bersaudari Kardashian-Jenner. "Apakah aku hanya diprogram untuk berpikir seperti itu?" tanyanya, menyiratkan keraguan apakah anggapan bahwa anak perempuan membutuhkan saudari perempuan merupakan konstruksi sosial atau kebutuhan emosional.
Paige DeSorbo, yang tidak memiliki saudari kandung tetapi dekat dengan saudara laki-lakinya, menawarkan perspektif berbeda. Menurutnya, kedekatan antar saudara lebih ditentukan oleh pola asuh orang tua ketimbang jenis kelamin. Ia mencontohkan hubungannya dengan calon ipar perempuannya yang ia anggap seperti saudari sendiri. "Itu saudari barumu. True tetap bisa merasakannya—tanpa bayi dari freezer," timpal Khloe menanggapi cerita Paige.
"Aku tidak tahu apakah aku punya kapasitas untuk anak ketiga. Dan aku juga belum menikah, sementara aku ingin menikah untuk memiliki lebih banyak anak." — Khloe Kardashian
Pernyataan itu bukan pertama kali. Pada Maret lalu, Khloe sempat mengatakan siap menggunakan salah satu embrio terakhirnya untuk memiliki anak "sendiri" jika itu berarti True mendapatkan saudari. Namun sebulan sebelumnya, ia menegaskan ingin menikah terlebih dahulu sebelum memperbesar keluarga. Dua pernyataan yang tampak bertolak belakang ini menunjukkan tarik-menarik antara keinginan pribadi, tekanan emosional dari anak, dan kesiapan mental yang ia akui belum sepenuhnya tercapai.
Fenomena ini tidak asing di kalangan perempuan urban, termasuk di Indonesia. Keputusan menambah anak kerap dipengaruhi oleh ekspektasi sosial, permintaan anak, hingga pertimbangan finansial dan psikologis. Teknologi reproduksi seperti IVF dan surogasi memang membuka opsi baru, tetapi juga menghadirkan dilema etis dan emosional. Bagi figur publik seperti Khloe, setiap pernyataan di podcast menjadi konsumsi publik yang bisa memicu perdebatan tentang batas privasi dan tanggung jawab sebagai orang tua.
Ke depan, publik masih akan menantikan apakah Khloe benar-benar mengambil langkah menggunakan embrio beku tersebut atau memilih jalur lain. Yang jelas, diskusi ini memperlihatkan bahwa keputusan memiliki anak bukan sekadar soal biologis, melainkan juga soal kesiapan mental, dukungan pasangan, dan dinamika keluarga yang terus berubah.



