Justin Hubner Tantang Suporter Penuhi SUGBK di Final ASEAN Cup: Jangan Hanya 30 Ribu!
Baca dalam 60 detik
- Justin Hubner menuntut kehadiran penuh suporter di SUGBK saat Timnas Indonesia menghadapi Thailand di final FIFA ASEAN Cup 2026, Senin (5/10/2026).
- Bek Fortuna Sittard itu menyayangkan atmosfer setengah kosong ketika Garuda menjamu Bangladesh, meski menang 9-2, dan menilai dukungan tribun harus konsisten tanpa memandang nama lawan.
- Laga puncak menjadi peluang emas Indonesia mengakhiri paceklik gelar di turnamen regional, sekaligus ujian mental bagi skuad asuhan John Herdman.

Bek Timnas Indonesia, Justin Hubner, melontarkan seruan tegas kepada suporter menjelang partai puncak FIFA ASEAN Cup 2026 melawan Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin (5/10/2026) malam WIB. Pemain Fortuna Sittard itu tidak ingin melihat tribun kembali lengang seperti saat Garuda menjamu Bangladesh pada laga pamungkas Grup A, Kamis (1/10/2026) malam.
Dalam pertandingan yang berakhir 9-2 untuk kemenangan Indonesia tersebut, Hubner mengaku kecewa dengan jumlah penonton yang hanya sekitar 30 ribu. Baginya, dukungan suporter seharusnya tidak ditentukan oleh kualitas lawan. Ia menuntut standar yang sama ketika menghadapi tim besar maupun kecil.
"Sejujurnya, saya berharap stadion penuh. Bukan karena kami bermain melawan Bangladesh lalu hanya ada 30 ribu penonton, dengan segala hormat," ujar Hubner, dikutip dari Bola.com.
Pemain kelahiran Den Bosch, 14 September 2003, itu menegaskan bahwa atmosfer stadion yang bergemuruh adalah senjata tambahan bagi para pemain. Ia berharap suporter memberikan "intimidasi positif" yang bisa membakar semangat skuad asuhan John Herdman sejak menit pertama. "Bila kami bermain melawan Bangladesh, Argentina, Brasil, atau siapa pun, saya berharap stadion penuh," tegasnya.
Kritik Hubner menyentuh persoalan klasik sepak bola Indonesia: konsistensi dukungan. Selama ini, SUGBK kerap penuh saat menghadapi tim besar seperti Argentina atau Brasil, tetapi lengang ketika lawan dianggap kurang bergengsi. Padahal, dalam turnamen seperti ASEAN Cup, setiap pertandingan memiliki bobot yang sama, terutama di fase gugur.
Partai final nanti bukan sekadar ajang pembuktian bagi Indonesia untuk mengakhiri paceklik gelar di level regional. Ini juga menjadi ujian mental bagi para pemain muda yang belum terbiasa tampil di bawah tekanan besar. Dukungan penuh dari tribun bisa menjadi faktor pembeda, terutama jika pertandingan berjalan ketat.
Thailand, yang lolos sebagai juara Grup B, jelas bukan lawan mudah. Mereka mengalahkan Pakistan 4-0 dan Vietnam 2-0, menunjukkan efektivitas lini serang dan disiplin pertahanan. Indonesia harus waspada terhadap serangan balik cepat dan penguasaan bola ala Thailand yang sering menyulitkan Garuda di laga-laga sebelumnya.
Di sisi lain, Hubner dan rekan-rekannya perlu menjaga fokus. Seruan untuk memadati stadion bisa menjadi bumerang jika tidak diimbangi dengan performa apik di lapangan. Tekanan dari ekspektasi tinggi justru sering membuat pemain kaku, terutama di babak pertama.
Masyarakat Indonesia tentu berharap momen ini tidak disia-siakan. Gelar ASEAN Cup akan menjadi obat rindu setelah sekian lama menanti trofi di level senior. Namun, pertanyaan besarnya: apakah suporter akan benar-benar memenuhi SUGBK seperti yang diminta Hubner, ataukah sejarah lengang akan terulang? Jawabannya akan terlihat pada Senin malam nanti.



