Pegulat PAC Meninggal di Usia 40: Ditemukan Tak Sadarkan Diri di Mobil Sehari Setelah Laga Terakhir
Baca dalam 60 detik
- Benjamin Satterley, dikenal sebagai PAC, ditemukan tidak responsif di dalam kendaraan di area parkir restoran CAVA dekat Bandara O'Hare Chicago pada Minggu (27/09/26).
- Kematiannya terjadi hanya sehari setelah tampil di AEW All Out melawan Andrade El Idolo, memicu spekulasi tentang tekanan jadwal kompetisi gulat profesional.
- Industri hiburan dan penggemar di Indonesia menyoroti perlunya perhatian lebih pada kesehatan mental dan fisik atlet, serta potensi dampak pada jadwal tur global AEW.

Dunia gulat profesional kembali berduka. Benjamin Satterley, yang dikenal luas dengan nama panggung PAC, ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di dalam sebuah mobil di tempat parkir restoran Mediterania CAVA, tak jauh dari Bandara Internasional O'Hare Chicago, pada Minggu (27/09/26). Pria berusia 40 tahun itu dinyatakan meninggal di lokasi kejadian, sehari setelah menjalani pertarungan terakhirnya di ajang AEW All Out melawan Andrade El Idolo.
Menurut laporan yang beredar, petugas medis yang dipanggil ke lokasi menerima laporan adanya seseorang yang tak responsif di dalam kendaraan. Rekaman komunikasi darurat mengindikasikan bahwa korban sudah tidak menunjukkan tanda-tanda pernapasan saat petugas tiba. Hingga kini, penyebab resmi kematian belum diumumkan oleh pihak berwenang maupun keluarga.
Insiden ini mencuatkan pertanyaan tentang beban fisik dan mental yang dihadapi para pegulat profesional, terutama mereka yang tampil di panggung internasional dengan jadwal padat. PAC, yang memulai karier pada 2004, dikenal karena gaya bertarung akrobatik dan kemampuan teknis di atas ring. Namanya melambung saat bergabung dengan WWE (2012โ2018) sebagai Adrian Neville, sebelum akhirnya pindah ke All Elite Wrestling (AEW) pada 2019.
Dalam pernyataan resminya, AEW menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam. Mereka mengenang Satterley sebagai sosok yang memukau penonton dengan gerakan high-flying inovatif dan kemampuan di atas ring yang luar biasa. "Kami menyampaikan belasungkawa kepada keluarga, teman, dan penggemar Satterley," tulis manajemen AEW.
"Saya sangat sedih mendengar kepergian Ben Satterley. Saya berkesempatan bekerja dengannya di awal WWE NXT. Dia adalah talenta luar biasa dan manusia yang lebih baik lagi," ujar Paul 'Triple H' Levesque, legenda WWE.
Kepergian PAC juga menyita perhatian penggemar gulat di Indonesia. Komunitas penggemar di Tanah Air, yang selama ini mengikuti perkembangan AEW dan WWE melalui platform streaming, menyampaikan duka cita mendalam di media sosial. Beberapa pegulat Indonesia yang pernah berlatih bersama PAC mengenangnya sebagai mentor yang inspiratif.
Dari kacamata industri, insiden ini dapat memicu diskusi lebih serius tentang perlunya protokol kesehatan dan dukungan psikologis bagi atlet hiburan. Federasi gulat di berbagai negara, termasuk Indonesia, mungkin akan meninjau kembali kebijakan jadwal pertandingan dan akses layanan kesehatan bagi para pegulat. Selain itu, turnamen atau acara yang melibatkan bintang internasional bisa terdampak, terutama jika ada penundaan atau pembatalan penampilan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi mengenai rencana autopsi atau upacara penghormatan terakhir. Pihak keluarga meminta privasi selama masa berkabung. Penggemar di seluruh dunia terus mengalirkan ucapan melalui tagar #RIPPAC.
Ke depan, kasus ini bisa menjadi titik balik bagi industri gulat untuk lebih memperhatikan kesejahteraan para pegulat, tidak hanya saat bertanding tetapi juga di luar ring. Apakah AEW dan promotor lain akan mengadopsi kebijakan baru? Bagaimana dampaknya bagi para atlet yang tampil di Indonesia? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi warisan PAC sebagai inovator di atas ring akan terus dikenang.



