KM Virgo Transport 8: Korban Tewas Bertambah Jadi 71, 64 Orang Masih Dicari di Laut Jawa
Baca dalam 60 detik
- Tim SAR gabungan menemukan lima jenazah tambahan dari bangkai KM Virgo Transport 8, sehingga total korban tewas mencapai 71 orang.
- Operasi penyisiran terkendala visibilitas bawah laut yang minim dan ruang sempit di dalam kapal yang terbalik.
- Sebanyak 64 penumpang dari manifest 243 orang belum ditemukan, sementara 108 lainnya dinyatakan selamat.

Jumlah korban tewas akibat tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di Perairan Masalembo, Laut Jawa, terus bertambah. Hingga Senin (28/9), tim penyelam gabungan mengevakuasi lima jenazah dari dalam bangkai kapal, menambah total korban meninggal menjadi 71 orang. Sementara itu, 64 orang dari total manifest 243 penumpang masih dalam pencarian.
Operasi penyisiran difokuskan pada anjungan dan kamar-kamar kapal yang diduga masih menyimpan korban. Menurut keterangan tertulis Basarnas, penyelam dari Basarnas, TNI AL, dan potensi SAR lainnya menyisir secara bertahap dengan kehati-hatian tinggi. Kondisi bangkai kapal yang terbalik di bawah permukaan laut, ditambah jarak pandang terbatas dan ruang sempit, menjadi tantangan utama. "Setiap korban yang berhasil ditemukan adalah hasil dari kerja keras, ketelitian, dan sinergi seluruh unsur SAR. Kami akan terus melakukan pencarian secara maksimal dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia," ujar Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii.
Lima korban yang ditemukan pada Senin dievakuasi menggunakan dua jalur: empat jenazah dibawa ke KRI Gusti Ngurah Rai, sedangkan satu lainnya ke KN SAR Purworejo. Selanjutnya, empat korban diterbangkan ke Banjarmasin dengan Helikopter HS 1331 TNI AL, dan satu korban menggunakan Helikopter HR 3601 Basarnas. Seluruh jenazah kemudian diserahkan ke RS Bhayangkara Banjarmasin untuk proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut.
KM Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak pada Minggu (13/9) pukul 02.00 Wita saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin. Kapal diduga menghadapi cuaca buruk dan ditemukan pada hari yang sama dalam kondisi terbalik. Insiden ini menambah daftar panjang kecelakaan pelayaran di perairan Indonesia yang kerap dipicu oleh cuaca ekstrem dan lemahnya pengawasan keselamatan.
Bagi publik Indonesia, peristiwa ini menyoroti urgensi peningkatan standar keselamatan transportasi laut, terutama pada rute-rute padat seperti Surabaya–Banjarmasin. Pemerintah dan operator kapal dituntut untuk memperketat protokol navigasi, memastikan kelaikan armada, serta memperkuat sistem peringatan dini cuaca. Selain itu, transparansi manifest penumpang menjadi krusial agar proses pencarian dan identifikasi korban dapat berjalan lebih cepat.
Ke depan, fokus operasi SAR akan beralih pada pencarian 64 korban yang belum ditemukan, sembari mempercepat identifikasi jenazah di RS Bhayangkara. Apakah tragedi ini akan mendorong revisi regulasi keselamatan pelayaran nasional, atau kembali tenggelam dalam rutinitas birokrasi? Publik menanti langkah konkret dari otoritas terkait.



