Prabowo Takziah ke Megawati, Sampaikan Penghormatan Terakhir untuk Guruh Soekarnoputra
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto mendatangi kediaman Megawati Soekarnoputri pada Senin malam untuk menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Guruh Soekarnoputra.
- Guruh, adik Megawati dan putra bungsu Sukarno, meninggal Sabtu lalu dalam usia 73 tahun dan dimakamkan di TPU Karet Bivak.
- Kepergian Guruh menutup babak penting keluarga Soekarnoputra, sekaligus mengingatkan publik pada warisan seni dan politik sang tokoh.

Presiden RI Prabowo Subianto bertakziah ke rumah duka Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri di Jakarta, Senin (28/9) malam, guna menyampaikan rasa duka atas berpulangnya Guruh Soekarnoputra, adik kandung Megawati sekaligus putra bungsu Presiden pertama RI Sukarno.
Kedatangan Prabowo disambut langsung oleh Megawati dan keluarga. Menurut Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dalam kunjungan itu Prabowo menyampaikan penghormatan terakhir serta doa bagi almarhum dan keluarga yang ditinggalkan. "Presiden menyampaikan dukacita dan penghormatan kepada keluarga," ujar Teddy melalui unggahan di akun Instagram @sekretariat.kabinet.
Prabowo tidak datang sendirian. Ia didampingi Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Teddy sendiri. Kehadiran sejumlah pejabat tinggi di rumah Megawati menjadi sinyal bahwa hubungan politik antara kedua tokoh tetap terjaga, meski keduanya sempat berada di kubu berbeda dalam beberapa kontestasi elektoral.
Guruh menghembuskan napas terakhir pada Sabtu (26/9) di usia 73 tahun. Pria bernama lengkap Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra itu dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Ia lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953 dari rahim Fatmawati, istri Sukarno.
Selain dikenal sebagai anggota keluarga Presiden pertama, Guruh meninggalkan jejak di dunia seni. Sejak muda ia menekuni tari dan musik, mendirikan kelompok kesenian Swara Mahardika serta GSP Production. Namanya juga melekat pada Guruh Gipsy dan Gank Pegangsaan, dua proyek musik yang digawangi bersama Keenan Nasution, Abadi Soesman, dan mendiang Chrisye.
Di jalur pendidikan, Guruh sempat menempuh studi Arkeologi di University of Amsterdam, Belanda, selama tiga tahun hingga 1974. Ia kemudian merampungkan sarjana Ilmu Administrasi Negara di STIAMI pada 2008 dan meraih gelar Magister Manajemen dengan konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia pada 2010.
"Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan," tulis Teddy dalam unggahan resmi Sekretariat Kabinet.
Kepergian Guruh menambah daftar panjang tokoh bangsa yang berpulang dalam beberapa tahun terakhir. Bagi publik Indonesia, sosoknya kerap dikenang bukan hanya karena garis keturunan politik, tetapi juga karena kontribusinya di panggung seni yang melampaui batas generasi.
Kunjungan Prabowo ke kediaman Megawati juga dapat dibaca sebagai isyarat rekonsiliasi di tingkat elite. Meski tidak selalu sejalan secara politik, kedua figur itu memiliki akar historis yang sama: sama-sama tumbuh dalam lingkaran kekuasaan Orde Lama dan melewati dinamika politik nasional yang panjang.
Ke depan, pertanyaannya bukan sekadar siapa yang akan meneruskan warisan seni dan politik Guruh, melainkan bagaimana keluarga besar Soekarnoputra menjaga relevansi di tengah lanskap politik yang terus berubah. Publik menanti apakah momen duka ini juga menjadi pintu bagi kerja sama yang lebih erat antar-kekuatan politik nasional.



