Kartu Merah Thom Haye: John Herdman Sebut Bisa Jadi Berkah atau Kutukan untuk Timnas Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Thom Haye menerima kartu merah langsung pada menit ke-37 saat Timnas Indonesia imbang 0-0 melawan Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026.
- Pelatih John Herdman menilai insiden tersebut bisa mempererat solidaritas pemain, namun juga berpotensi menjadi pukulan jika tidak dikelola dengan baik.
- Haye dipastikan absen saat Indonesia menghadapi Bangladesh pada 1 Oktober 2026, menjadi ujian kedalaman skuad di lini tengah.

Thom Haye harus meninggalkan lapangan lebih cepat setelah menerima kartu merah langsung pada menit ke-37 dalam laga Timnas Indonesia melawan Malaysia di Grup A FIFA ASEAN Cup 2026, Senin (28/9/2026) malam WIB. Bermain dengan sepuluh orang sejak awal babak pertama, Indonesia hanya mampu menahan imbang Malaysia 0-0 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
Keputusan wasit berubah setelah pengecekan VAR. Semula Haye diberi kartu kuning karena melanggar winger Malaysia, Arif Aiman. Namun, setelah wasit meninjau ulang insiden tersebut, hukuman dinaikkan menjadi kartu merah langsung. Akibatnya, Haye dipastikan absen saat Indonesia menghadapi Bangladesh pada Kamis (1/10/2026).
Pelatih John Herdman memilih tidak menyalahkan siapa pun. Dalam konferensi pers usai pertandingan, ia menyatakan telah melalui banyak situasi serupa selama 25 tahun berkecimpung di dunia sepak bola. "Saya sudah sering berurusan dengan keputusan wasit, dan saya juga pernah mengalami nasib sial," ujarnya, seperti dikutip dari sesi jumpa pers.
Herdman melihat ada dua kemungkinan dari kartu merah tersebut. Menurutnya, insiden itu bisa menjadi berkah jika para pemain menjadikannya sebagai momentum untuk memperkuat ikatan tim. "Kartu merah itu justru memberi kesempatan bagi para pemain untuk mempererat rasa persaudaraan, belajar berjuang bersama demi negara di saat-saat krusial," tuturnya.
Namun, ia juga tidak menutup mata bahwa keputusan tersebut bisa menjadi kutukan jika tim gagal merespons dengan tepat. "Segala sesuatunya akan seimbang dengan sendirinya dalam jangka panjang," kata Herdman, menegaskan bahwa sikap mental pemain akan menentukan dampak akhirnya.
"Mereka datang dan berjuang karena mereka sungguh peduli. Mereka ingin menang dan mengangkat trofi dengan cara yang belum pernah dilakukan siapa pun sebelumnya." โ John Herdman
Bagi Indonesia, kehilangan Haye di lini tengah menjadi ujian kedalaman skuad. Pemain naturalisasi itu kerap menjadi penghubung antara lini belakang dan depan. Tanpa kehadirannya, Herdman harus mencari opsi lain untuk menjaga keseimbangan permainan, terutama saat menghadapi Bangladesh yang dikenal disiplin dalam bertahan.
Kartu merah ini juga menyoroti pentingnya adaptasi taktik dalam situasi darurat. Bermain dengan sepuluh orang sejak menit ke-37 memaksa Indonesia mengubah pendekatan, dari menyerang menjadi lebih bertahan. Meski demikian, hasil imbang tetap menjaga peluang Indonesia untuk melaju ke final, asalkan mampu meraih kemenangan di laga tersisa.
Dari perspektif regulasi, keputusan wasit setelah VAR memang kerap memicu perdebatan. Namun, Herdman menegaskan bahwa timnya tidak boleh larut dalam kekecewaan. "Kami membutuhkan momen-momen seperti itu. Kami perlu melihat bukti bahwa mereka mampu berjuang demi negara ini," ujarnya, menambahkan bahwa pengalaman pahit bisa menjadi pelajaran berharga.
Ke depan, fokus Timnas Indonesia tertuju pada laga melawan Bangladesh. Hasil pertandingan itu akan menentukan apakah kartu merah Haye benar-benar menjadi berkah atau justru kutukan. Herdman dituntut untuk meracik strategi tanpa salah satu gelandang kuncinya, sekaligus menjaga moral tim tetap tinggi. Mampukah Indonesia membuktikan bahwa mereka bisa bangkit tanpa Haye?



