Hasil Tes Darah Warga Blackpool: 70% Terpapar 'Forever Chemicals' di Atas Ambang Risiko
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 49 warga di sekitar pabrik AGC Chemicals, Thornton-Cleveleys, menjalani tes darah dan 70% di antaranya memiliki total PFAS melebihi 20 ng/ml, ambang batas risiko menurut pedoman AS.
- Satu remaja putra warga setempat mencatat kadar PFAS 111 ng/ml, sementara ibunya 25 ng/ml; keduanya mengonsumsi telur bebek dari pekarangan sendiri selama puluhan tahun.
- Pemerintah Inggris dinilai lambat merespons; para ahli mendesak biomonitoring nasional dan kompensasi kesehatan, sementara pabrik dijadwalkan tutup.

Hasil uji darah terhadap 49 penduduk di sekitar pabrik kimia AGC Chemicals Europe di Thornton-Cleveleys, utara Blackpool, Inggris, menunjukkan 70% di antaranya memiliki akumulasi senyawa per- dan polifluoroalkil (PFAS) melampaui ambang batas risiko yang ditetapkan badan kesehatan Amerika Serikat. Temuan ini mencuat setelah penyelidikan bersama firma hukum Leigh Day, ilmuwan forensik lingkungan Dave Megson dari Manchester Metropolitan University, dan Watershed Investigations, yang dirilis pekan lalu.
PFAS, yang sering disebut "bahan kimia selamanya" karena sulit terurai di alam, telah mencemari lingkungan sekitar pabrik sejak puluhan tahun. Salah satu jenisnya, PFOAโyang digolongkan karsinogen Grup 1 dan dilarang global pada 2020โdilepaskan dalam jumlah besar dari fasilitas tersebut hingga 2012. Otoritas setempat dan Environment Agency baru memulai investigasi pada 2024, tetapi dampak pada tubuh warga baru terungkap sekarang.
Angka yang paling mencolok datang dari seorang remaja putra berusia 20-an yang kadar PFAS-nya mencapai 111 ng/ml, jauh di atas ambang 20 ng/ml. Ibunya, Sam Hammond, mencatat 25 ng/ml. Selama puluhan tahun keluarga ini mengonsumsi telur bebek peliharaan sendiri setiap hari. "Saya merasa mual memikirkan hasil anak saya. Kami pindah ke sini, memilih rumah ini, dan saya merasa bersalah telah membuat mereka terpapar, meski saya tahu ini bukan salah saya," ujarnya.
Seorang wanita yang memilih anonim memiliki kadar PFAS 436 ng/ml. Ia baru saja menjalani pengangkatan tumor di punggungnya dan kini mempertanyakan apakah masalah kesehatannya berkaitan dengan paparan kimia. "Saya pikir saya hanya kurang beruntung, tapi setelah tahu hasilnya, saya yakin ini ada hubungannya. Bagaimana cara mengeluarkan zat ini dari tubuh saya? Siapa yang bisa membantu? Saya hanya ingin ini keluar," katanya.
Di Inggris, tidak ada pedoman resmi mengenai kadar PFAS yang aman dalam darah, maupun protokol penanganan bagi mereka yang terpapar. Dewan setempat hanya mengimbau warga dalam radius 1 km dari pabrik untuk mencuci dan mengupas hasil kebun, serta tidak mengonsumsi telur dari unggas peliharaan. Dua lahan allotment (kebun komunitas) dekat pabrik akan ditutup. Alan Hodson, yang selama lima tahun menggarap kebun di salah satu lahan tersebut, menerima surat bahwa bitnya mengandung PFOA tertinggi dari semua sampel. Kini darahnya mengandung 43 ng/ml PFAS. "Saya pikir, semua waktu yang saya habiskan di sini sia-sia. Saya khawatir, tapi harus tetap melangkah. Kalau terus dipikirkan, hidup ini akan dikuasai rasa cemas," tuturnya.
Studi yang dikomisioner pemerintah pada Juni lalu menemukan angka kanker ginjal yang "lebih tinggi dari perkiraan" di dua wilayah, namun menyimpulkan tidak ada bukti signifikan adanya klaster kanker atau kaitan lingkungan, dan menilai investigasi lebih lanjut tidak diperlukan. Kesimpulan ini langsung dipertanyakan para ahli. Megson, yang tidak terlibat dalam studi tersebut, menilai kesimpulan itu "sangat kontradiktif" dan "cenderung meremehkan temuan alih-alih menilai secara objektif." Ia menambahkan, "Saya khawatir data ini justru bukti kuat bahwa kerusakan signifikan telah terjadi."
"Di berbagai belahan dunia selama 50 tahun terakhir, ketika bencana pencemaran kimia seperti ini terungkap, biomonitoring luas segera ditawarkan kepada warga. Ini membantu menetapkan seberapa lokal masalahnya," ujar Dave Megson, ilmuwan forensik lingkungan.
AGC Chemicals Europe, dalam pernyataannya, menyatakan memahami kekhawatiran warga namun menegaskan bahwa tes darah PFAS tidak dapat memprediksi masalah kesehatan di masa depan dan dapat menimbulkan kecemasan yang tidak perlu. Perusahaan juga menyebut bahwa lokasi Hillhouse telah menjadi kawasan industri kimia selama lebih dari satu abad, jauh sebelum AGC berdiri pada 1999, dan investigasi multi-lembaga masih berlangsung. "Kesehatan, kesejahteraan, dan keselamatan karyawan serta komunitas lokal tetap menjadi prioritas kami," ujar juru bicara perusahaan.
Meski pabrik AGC Chemicals dijadwalkan tutup, Megson mendesak pemerintah pusat untuk turun tangan memberikan dukungan lebih besar kepada warga, termasuk biomonitoring dan layanan kesehatan. Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Inggris belum memberikan komentar.
Konteks Indonesia
Kasus Blackpool menjadi cermin bagi Indonesia yang hingga kini belum memiliki regulasi spesifik mengenai PFAS. Senyawa ini banyak digunakan dalam produk konsumen seperti kemasan makanan anti-minyak, tekstil tahan air, dan busa pemadam kebakaran. Beberapa laporan internasional menemukan kontaminasi PFAS di perairan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, meski data pemantauan nasional sangat minim. Tanpa standar baku mutu dan kewajiban uji darah, masyarakat berisiko mengalami paparan kronis tanpa disadari. Regulasi seperti Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang baku mutu air limbah belum secara eksplisit mengatur PFAS. Ke depan, Indonesia perlu memperkuat kerangka pemantauan dan mempertimbangkan biomonitoring bagi komunitas di sekitar kawasan industri kimia, terutama di wilayah padat seperti Jawa Timur dan Banten.
Pertanyaannya, akankah pemerintah Indonesia belajar dari kasus Blackpool dan mengambil langkah preventif sebelum muncul korban serupa?



