Ben Affleck Bela Penggunaan AI di Film Animals, Sebutnya Sekadar Komputasi Baru
Baca dalam 60 detik
- Ben Affleck mengakui memakai AI dalam produksi film Animals, tetapi enggan merinci karena ingin menjaga ilusi realitas.
- Ia menilai AI hanyalah bentuk komputasi lanjutan yang sejajar dengan inovasi teknologi sebelumnya di industri film.
- Langkah ini menyusul akuisisi perusahaannya, InterPositive, oleh Netflix senilai sekitar 600 juta dolar AS.

Aktor sekaligus sutradara Hollywood Ben Affleck secara terbuka membela keputusannya memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dalam film terbarunya, Animals, yang diproduksi untuk Netflix. Ia menegaskan teknologi itu tidak lebih dari "bentuk komputasi lain" yang sejalan dengan evolusi perfilman modern.
Dalam wawancara dengan Bloomberg, Affleck mengungkapkan bahwa AI digunakan "untuk banyak hal" dalam film bergenre thriller kriminal tersebut. Ia juga menulis naskah dan membintangi film itu bersama Gillian Anderson dan Kerry Washington. Meski demikian, ia enggan menyebut secara spesifik bagian mana yang melibatkan AI. "Saya agak ragu untuk menunjukkan apa saja penggunaannya, atau bahkan membicarakannya, karena dalam bisnis ini kami berusaha memelihara ilusi realitas," ujarnya.
Affleck menganalogikan pengungkapan penggunaan AI seperti membocorkan trik sulap. "Bayangkan Anda menonton pertunjukan sulap, lalu pesulapnya berkata, 'Sebelum mulai, perlu Anda tahu ada kelinci lain di bawah sini, dan orang ini adalah kaki tangan.' Tentu saja itu merusak semuanya," katanya. Meski begitu, ia menilai film Animals sebagai contoh penggunaan AI yang etis karena ceritanya sangat manusiawi.
Menurut Affleck, begitu para pembuat film memiliki "rasa kendali" atas teknologi ini, kekhawatiran mereka akan mereda. "AI berubah dari sesuatu yang abstrak, menakutkan, seperti alien yang akan membunuh kita semua, menjadi sesuatu yang bisa dipahami," jelasnya. Ia menambahkan bahwa AI adalah "kemajuan teknologi yang sejalan dengan serangkaian peningkatan teknis yang sudah lama terjadi di industri film dan televisi."
Namun, Affleck menegaskan bahwa sutradara tidak akan pernah bisa hanya mengetik perintah di komputer lalu menghasilkan film yang layak ditonton. "Ini bukan tentang mengetik prompt atau menciptakan sesuatu dari nol. Orang mengira AI itu membuat sesuatu dari ketiadaan: 'Saya akan mengetik sesuatu, lalu komputer memberi saya film.' Bukan itu maksudnya," tegasnya.
"Saya menggunakan AI untuk banyak hal dalam film itu. Saya ragu menyebutkannya karena kami berusaha menjaga ilusi realitas. Tapi ya, kami memakainya, dan menurut saya itu contoh baik penggunaan AI secara etis karena filmnya sangat manusiawi." โ Ben Affleck
Pernyataan Affleck muncul setelah ia menjual perusahaan AI-nya, InterPositive, kepada Netflix dengan nilai yang dilaporkan mencapai 600 juta dolar AS. Perusahaan yang berbasis di Los Angeles itu ia dirikan pada 2022 untuk mengembangkan perangkat berbasis AI yang dirancang membantu pembuat film dalam tahap produksi dan pascaproduksi. Akuisisi tersebut rampung awal tahun ini, dan Affleck akan tetap menjadi penasihat senior Netflix untuk pengembangan teknologi tersebut.
Dalam video yang dibagikan Netflix bersamaan dengan pengumuman akuisisi, Affleck menekankan bahwa teknologi ini bertujuan mendukung pembuat film, bukan menggantikan proses kreatif. "Ini bukan tentang text-prompting atau menghasilkan sesuatu dari nol. AI, orang kebanyakan menganggapnya sebagai membuat sesuatu dari ketiadaan. Itu bukan yang dimaksud," ujarnya.
Langkah Affleck mencerminkan pergeseran sikap di Hollywood terhadap AI. Jika sebelumnya teknologi ini sering dipandang sebagai ancaman bagi pekerja kreatif, kini sejumlah figur industri mulai melihatnya sebagai alat bantu yang dapat mempercepat dan mempermudah produksi. Namun, perdebatan soal etika, hak cipta, dan dampak terhadap tenaga kerja film masih terus berlangsung.
Di Indonesia, industri film nasional juga mulai bersinggungan dengan teknologi AI, terutama dalam efek visual dan pascaproduksi. Meski adopsinya belum sebesar di Hollywood, pelaku industri dalam negeri perlu mencermati bagaimana AI dapat meningkatkan efisiensi tanpa mengorbankan nilai artistik dan hak pekerja kreatif. Regulasi yang jelas mengenai penggunaan AI di sektor kreatif menjadi semakin relevan.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan digunakan dalam produksi film, melainkan sejauh mana batas etis dan kreatifnya. Apakah penonton akan tetap menghargai karya yang sebagian dihasilkan mesin, atau justru menuntut transparansi lebih besar dari para pembuat film? Waktu yang akan menjawab, tetapi arah angin sudah terlihat.



