Catatan Alam 1926: Ngengat Menari Mengikuti Irama Piano di New Forest
Baca dalam 60 detik
- Pengamatan tahun 1926 di New Forest merekam ngengat yang terbang naik-turun seolah mengikuti irama piano dari rumah tetangga.
- Fenomena ini menunjukkan kepekaan serangga terhadap getaran dan suara, meski belum ada penelitian lanjutan saat itu.
- Catatan ini menjadi pengingat bahwa interaksi manusia-alam telah lama memikat, dan relevan dengan riset bioakustik modern.

Pada 29 September 1926, sebuah catatan harian dari New Forest, Inggris, mengabadikan pemandangan tak biasa: seekor ngengat beterbangan di antara bunga geranium sambil seolah menyesuaikan gerakannya dengan alunan piano dari rumah sebelah. Pengamat duduk di taman bergaya Prancis, menunggu taksi, ketika tiba-tiba hamparan bunga merah tembus pandang itu dipenuhi gerakan cepat sayap ngengat berbadan gelap dengan tanda biru samar.
Ngengat itu melesat naik-turun, mendekati bunga untuk menghisap nektar, lalu mundur tanpa henti. Setiap gerakan tampak selaras dengan irama musik yang mengalir dari kejauhan. Penulis catatan menggambarkannya sebagai ballerina ulung yang menari di udara. Momen itu berlangsung singkat, tetapi cukup untuk meninggalkan kesan mendalam tentang kepekaan makhluk kecil terhadap rangsangan di sekitarnya.
Tak lama kemudian, seekor capung melintas dan menghilang. Namun ngengat itu tetap bertahan, terus berputar-putar dengan kecepatan memusingkan. Dari pohon plane, suara burung chiffchaff terdengar bersahutan, seolah menemani gerak ngengat. Di rumah, burung robin dan wren juga berkicau, sementara goldfinch bernyanyi di pohon apel. Catatan itu juga menyebut bahwa pemotongan pakis dijadwalkan mulai 26 September, meski saat itu masih hijau dan belum tersentuh embun beku.
Pengamatan ini bukanlah penelitian ilmiah formal, melainkan catatan alam yang bersifat personal. Namun, kisah ini menyiratkan bahwa serangga seperti ngengat mungkin memiliki kemampuan merespons rangsangan akustik, meskipun mekanismenya belum dipahami pada masa itu. Baru beberapa dekade kemudian, studi bioakustik mengungkap bahwa banyak serangga memang peka terhadap getaran dan suara, termasuk untuk komunikasi dan navigasi.
"Anda akan mengatakan ngengat itu menyelaraskan gerakannya dengan irama lagu," tulis pengamat dalam catatan hariannya.
Bagi pembaca Indonesia, catatan ini mungkin terasa jauh dari konteks lokal. Namun, fenomena serupa dapat ditemui di taman-taman kota atau pekarangan rumah, terutama saat senja. Kepekaan serangga terhadap suara dan getaran juga relevan dengan upaya konservasi di Indonesia, misalnya dalam memahami dampak kebisingan terhadap penyerbuk. Penelitian di berbagai negara menunjukkan bahwa polusi suara dapat mengganggu perilaku kawin dan mencari makan pada serangga.
Selain itu, catatan ini mengingatkan kita bahwa interaksi antara manusia dan alam telah lama menjadi sumber inspirasi. Di tengah laju pembangunan dan perubahan iklim, momen sederhana seperti ngengat menari diiringi piano bisa menjadi pengingat akan keragaman hayati yang rapuh. Apakah generasi mendatang masih bisa menyaksikan tarian serupa di alam liar? Jawabannya bergantung pada seberapa serius kita menjaga ekosistem.



