For Revenge Sentil Krisis Iklim dan Bencana di Panggung Pestapora: 'Indonesia Tidak Baik-Baik Saja'
Baca dalam 60 detik
- Vokalis Bonix menyatakan keprihatinan atas bencana asap di Kalimantan dan gempa di NTT saat tampil di Pestapora 2026.
- Aksi panggung ini menyoroti peran musisi sebagai suara kritis di tengah situasi darurat lingkungan dan bencana.
- Seruan doa dan kesadaran publik dinilai penting untuk mendorong respons kebijakan yang lebih tanggap.

Grup band for Revenge menyita perhatian penonton Pestapora 2026 bukan hanya karena aksi panggungnya, tetapi juga karena pesan sosial yang disampaikan di tengah penampilan. Di hadapan ribuan penggemar di Gambir Expo dan Hall D2 JIEXPO, Jakarta, Minggu (27/9/2026), vokalis Bonix menyatakan bahwa Indonesia sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja, merujuk pada bencana asap di Kalimantan dan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pernyataan itu keluar sebelum band membawakan lagu "Pulang". "Indonesia tidak baik-baik saja, yang bahkan untuk pulang pun tidak bisa teman-teman di Kalimantan banyak asap, di NTT ada gempa," ujar Bonix dari atas panggung, seperti dikutip dari Kompas.com. Ia lantas mengajak penonton untuk memanjatkan doa bagi para korban. "Mari simpan doa baik," tambahnya.
Momen tersebut menjadi cermin bagaimana panggung musik tak lagi sekadar ruang hiburan, melainkan juga kanal untuk menyuarakan kegelisahan kolektif. for Revenge, yang dikenal dengan lagu-lagu bernuansa emosional seperti "Jentaka" dan "Serana", membuktikan bahwa musisi dapat berperan sebagai penyambung lidah masyarakat di tengah situasi darurat.
Dalam penampilan tersebut, for Revenge juga membawakan lagu baru berjudul "Museum Duka" bersama Reza Arap, serta "I Miss You Every Brand New Day" yang merupakan original soundtrack film Spider-Man, berkolaborasi dengan Romanssa. Penampilan ditutup dengan lagu "Penyangkalan" yang juga menampilkan Reza Arap.
Bagi pembaca di Indonesia, aksi for Revenge ini mengingatkan bahwa krisis lingkungan dan bencana alam kerap luput dari perhatian publik di tengah hiruk-pikuk hiburan. Kabut asap di Kalimantan, yang biasanya disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan, berdampak pada kesehatan pernapasan dan aktivitas ekonomi warga. Sementara gempa di NTT menyisakan kerusakan infrastruktur dan trauma bagi korban. Seruan dari panggung musik seperti ini dapat menjadi pemicu kesadaran kolektif, terutama bagi generasi muda yang menjadi mayoritas penonton Pestapora.
Lebih jauh, keterlibatan musisi dalam isu sosial bukan hal baru. Namun, menyampaikannya di acara musik berskala besar seperti Pestapora memberi bobot tersendiri. Pesan tersebut tidak hanya sampai kepada penggemar, tetapi juga menyebar melalui liputan media dan media sosial, memperluas jangkauan advokasi. Hal ini sejalan dengan tren global di mana artis semakin vokal menyuarakan perubahan iklim dan keadilan sosial.
"Indonesia tidak baik-baik saja, yang bahkan untuk pulang pun tidak bisa teman-teman di Kalimantan banyak asap, di NTT ada gempa." โ Bonix, vokalis for Revenge
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah seruan semacam ini akan diikuti dengan tindakan nyata dari para pemangku kepentingan, atau hanya menjadi momen emosional sesaat. Publik berharap agar pemerintah dan lembaga terkait lebih responsif dalam menangani bencana dan krisis lingkungan, sementara musisi terus menggunakan panggung mereka untuk mengingatkan bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah besar.



