Esther Rantzen, Pendiri Childline dan Ikon Televisi Inggris, Tutup Usia di 86 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Esther Rantzen, jurnalis televisi peraih Bafta dan pendiri layanan konseling anak Childline, meninggal dunia pada usia 86 tahun setelah berjuang melawan kanker paru stadium empat.
- Ia dikenal sebagai pembawa acara That's Life! yang mencapai puncak popularitas dengan lebih dari 20 juta penonton, serta menginisiasi Childline dan The Silver Line yang memberi perlindungan bagi anak dan lansia.
- Kampanye terakhirnya untuk melegalkan bantuan kematian di Inggris memicu debat publik tentang hak menentukan akhir hidup, meski ia sendiri gagal mewujudkannya karena kondisi fisik yang lemah.

Dunia penyiaran Inggris kehilangan salah satu tokoh paling berpengaruhnya. Esther Rantzen, jurnalis televisi peraih penghargaan Bafta yang mendirikan layanan bantuan anak Childline, menghembuskan napas terakhir pada usia 86 tahun. Kabar duka ini disampaikan langsung oleh keluarganya melalui pernyataan resmi, menandai berakhirnya perjalanan seorang tokoh yang selama lebih dari lima dekade mengabdikan hidupnya untuk mengangkat isu-isu sosial yang sering terabaikan.
Rantzen bukan sekadar wajah layar kaca. Ia adalah arsitek perubahan sosial yang memanfaatkan platform televisi untuk menyuarakan kepentingan kelompok rentan. Pada 1986, ia mendirikan Childline, layanan telepon gratis yang memungkinkan anak-anak melaporkan kekerasan dan pelecehan secara anonim. Gagasan ini lahir dari keberaniannya membahas topik tabu tentang kekerasan anak dalam program That's Life!, yang ia pandu selama 21 tahun. Respons luar biasa dari pemirsa membuat saluran telepon sementara berubah menjadi lembaga permanen yang hingga kini menyelamatkan jutaan nyawa.
Karier Rantzen dimulai pada 1963 sebagai manajer studio radio BBC sebelum beralih ke televisi sebagai peneliti. Pada 1973, ia dipercaya menjadi pembawa acara utama That's Life!, program majalah yang memadukan investigasi konsumen, humor, dan sentuhan humanis. Di bawah kepemimpinannya, acara itu mencapai puncak kejayaan dengan lebih dari 20 juta penonton—sebuah angka yang nyaris mustahil diraih program televisi era modern. Kesuksesan ini memberinya pengaruh besar untuk menggulirkan inisiatif sosial lainnya, termasuk Hearts of Gold pada 1988 yang menyoroti tindakan kebaikan luar biasa, serta The Silver Line pada 2010, layanan konseling rahasia untuk lansia.
Pada 2023, Rantzen mengumumkan diagnosis kanker paru stadium empat. Sejak saat itu, ia menjadi juru bicara vokal untuk legalisasi bantuan kematian di Inggris. Ia bahkan sempat berencana mengakhiri hidupnya di klinik Dignitas, Swiss, namun urung karena kondisi fisiknya yang semakin lemah. "Ketika saya cukup kuat untuk terbang dan menjalani proses di Dignitas, hidup saya belum terasa tak tertahankan. Namun saat penderitaan benar-benar tak tertahankan, tubuh saya sudah terlalu rapuh untuk melakukan perjalanan," ujarnya dalam pernyataan yang dikutip media Inggris. Pengakuan ini memicu refleksi publik tentang dilema etis dan praktis di akhir hidup.
"Esther adalah wanita yang kuat, hangat, dan penuh belas kasih, seorang pejuang hingga akhir. Kegigihannya memberi saya kekuatan, tetapi yang lebih penting, ia membantu mereka yang menghadapi penyakit terminal untuk terus melangkah dengan keyakinan bahwa mereka tidak sendiri," kata Kim Leadbeater, anggota parlemen Partai Buruh yang mengajukan RUU legalisasi bantuan kematian.
Perdana Menteri Andy Burnham juga menyampaikan penghormatan. Menurutnya, Rantzen telah mengubah hidup banyak orang dan memberikan suara bagi mereka yang sering tidak didengar. "Saya akan selalu mengagumi keberanian dan keterbukaannya dalam berbicara tentang penyakitnya, membuat kita semua berpikir tentang pertanyaan sulit yang kita hadapi di akhir hidup," ujarnya. Pernyataan senada datang dari sesama presenter, Lorraine Kelly, yang menyebut Rantzen sebagai "perintis dan kekuatan alam yang membantu banyak orang—lucu, tegas, dan luar biasa."
Di luar dunia televisi, Rantzen sempat mencalonkan diri sebagai kandidat independen di Luton South pada pemilu 2010 dan meraih 4,4% suara. Ia juga menulis sejumlah buku, termasuk novel misteri pembunuhan, serta aktif sebagai kontributor The One Show dan podcast bersama mantan koleganya, Adrian Mills. Suamiya, Desmond Wilcox, meninggal pada 2000. Ia meninggalkan tiga anak—Miriam, Rebecca, dan Joshua—serta lima cucu.
Warisan Rantzen tidak hanya terletak pada layar kaca, tetapi pada institusi yang ia bangun untuk melindungi mereka yang paling rentan. Childline dan The Silver Line kini menjadi tulang punggung layanan sosial di Inggris, membuktikan bahwa kekuatan media dapat diubah menjadi perubahan nyata. Namun, pertanyaan yang ia tinggalkan tentang hak menentukan akhir hidup masih menjadi perdebatan hangat di parlemen dan masyarakat. Akankah perjuangan terakhirnya menjadi katalis perubahan hukum, atau justru memudar bersama kepergiannya? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi jejak Rantzen telah tertanam kuat dalam lanskap sosial Inggris.



