Starship SpaceX Siap Mengorbit, Uji Terbesar Menuju Dominasi Internet Global
Baca dalam 60 detik
- SpaceX menjadwalkan peluncuran Starship ke orbit Bumi untuk pertama kalinya pada Senin dini hari waktu setempat.
- Otoritas Penerbangan Federal AS telah mengeluarkan izin peluncuran dan masuk kembali untuk misi ke-14 ini.
- Keberhasilan misi ini akan mempercepat ekspansi bisnis Starlink dan membuka jalan bagi ambisi komputasi AI di ruang angkasa.

SpaceX dijadwalkan meluncurkan roket raksasa Starship menuju orbit Bumi pada Senin (28/9) dini hari waktu setempat, sebuah tonggak yang selama bertahun-tahun dinanti dalam program antariksa komersial. Jendela peluncuran selama 75 menit dibuka pukul 08.15 ET dari fasilitas Starbase di Texas, menurut situs resmi perusahaan. Ini akan menjadi kali pertama Starship—kendaraan terbesar yang pernah dibangun—benar-benar mengelilingi planet, bukan sekadar uji terbang suborbital.
Langkah tersebut mendapat restu regulator setelah Administrasi Penerbangan Federal (FAA) menerbitkan izin operasi peluncuran dan masuk kembali untuk misi ke-14 pada 26 September. Selain menguji kemampuan orbit, SpaceX juga berencana menempatkan 26 satelit Starlink generasi V3 yang diproduksi di fasilitas Redmond, Washington. Satelit anyar ini diklaim memiliki panel surya dengan daya dua kali lipat generasi sebelumnya, ukuran lebih besar, dan kecepatan transmisi data yang lebih tinggi bagi pelanggan.
Bagi SpaceX, Starship bukan sekadar proyek prestise. Roket ini menjadi tulang punggung strategi ekspansi bisnis konektivitas Starlink, satu-satunya segmen yang mencetak laba pada kuartal kedua. Saat ini perusahaan mengoperasikan sekitar 11.000 satelit aktif, jauh melampaui sekitar 650 satelit milik pesaing Eutelsat OneWeb. Dalam panggilan pendapatan Agustus, CEO Elon Musk menyatakan bahwa bukan hal mustahil jika suatu saat Starlink memasok mayoritas internet dunia di negara-negara yang mengizinkan operasinya.
Ambisi perusahaan tidak berhenti pada internet. Chief Operating Officer Gwynne Shotwell dalam forum All-In Summit awal bulan ini mengungkapkan rencana menempatkan "superkomputasi di ruang angkasa" melalui peluncuran satelit komputasi AI pada 2027. Jika terwujud, ini akan membuka babak baru persaingan infrastruktur digital yang selama ini bertumpu pada pusat data di darat. SpaceX juga tengah menyiapkan Starship untuk misi besar NASA tahun depan, termasuk mengembalikan astronot AS ke permukaan bulan.
"Bukan hal yang mustahil jika pada suatu titik Starlink akan menyediakan mayoritas internet dunia, setidaknya di negara-negara tempat kami diizinkan beroperasi," ujar Musk dalam panggilan pendapatan Agustus.
Konteks Indonesia menjadi relevan mengingat posisi strategis Starlink dalam peta konektivitas nasional. Sejak mendapat izin operasi beberapa tahun lalu, layanan ini telah menjangkau wilayah terpencil yang sulit dijangkau serat optik. Keberhasilan Starship mengangkut satelit V3 dalam jumlah besar berpotensi menekan biaya bandwidth dan mempercepat pemerataan internet, terutama di kawasan timur Indonesia. Namun, ketergantungan pada satu penyedia asing juga memunculkan pertanyaan tentang kedaulatan data dan peran operator lokal.
Dari sisi industri, peluncuran ini menjadi ujian bagi klaim SpaceX bahwa Starship dapat digunakan ulang sepenuhnya dan mengangkut kargo lebih murah dibanding kendaraan sebelumnya. Tiga belas uji terbang sebelumnya tidak dirancang mencapai orbit, sehingga misi ke-14 ini menjadi pembuktian sesungguhnya. Jika berhasil, tekanan terhadap pesaing seperti Blue Origin dan United Launch Alliance akan meningkat, sekaligus memperkuat posisi SpaceX sebagai pemain dominan dalam ekonomi antariksa global.
Pertanyaannya kini, apakah orbit pertama Starship akan membuka jalan bagi monopoli infrastruktur internet global—atau justru memicu perlombaan regulasi di berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk memastikan ruang angkasa tetap menjadi domain bersama?



