Blue Fire Papandayan: Pesona yang Menyimpan Gas Beracun, Badan Geologi Keluarkan Peringatan
Baca dalam 60 detik
- Badan Geologi memperingatkan bahwa fenomena blue fire di Gunung Papandayan disertai risiko semburan gas vulkanik beracun yang bisa melampaui ambang batas aman.
- Masyarakat dilarang beraktivitas dan bermalam di sekitar kawah aktif, terutama dalam radius 500 meter, saat cuaca mendung atau hujan.
- Pemantauan 24 jam oleh PVMBG akan terus dilakukan dan status aktivitas gunung akan dievaluasi berkala untuk mengantisipasi letusan tiba-tiba.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengeluarkan peringatan serius terkait fenomena nyala api biru atau blue fire yang terlihat di kompleks Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat. Menurutnya, kilatan api yang memukau itu bukan sekadar atraksi alam, melainkan indikasi pelepasan panas vulkanik ekstrem yang mampu membakar material di permukaan sekaligus membawa ancaman gas beracun bagi siapa pun yang berada di dekatnya.
Dalam keterangan resmi pada Minggu (27/9), Lana menegaskan bahwa potensi bahaya utama bukan berasal dari apinya, melainkan dari semburan dan paparan gas vulkanik yang konsentrasinya dapat melampaui ambang batas aman. Gas-gas tersebut, seperti karbon dioksida dan hidrogen sulfida, tidak berwarna dan bisa mematikan jika terhirup dalam jumlah besar tanpa peringatan.
Badan Geologi tidak hanya mengimbau, tetapi juga melarang masyarakat untuk beraktivitas maupun menginap di kawasan bukaan kawah aktif. Larangan itu berlaku ketat, terutama saat cuaca mendung atau hujan yang dapat mempercepat akumulasi gas beracun di cekungan kawah. Selain itu, warga diminta mewaspadai potensi longsor di dinding kawah yang labil, serta letusan freatik yang bisa terjadi tanpa gejala vulkanik yang jelas.
"Potensi bahaya yang dapat terjadi dengan kemunculan sinar api/blue-fire ini adalah semburan dan paparan gas vulkanik beracun/di atas ambang batas," ujar Lana Saria.
Fenomena blue fire di Papandayan sejatinya bukan hal baru. Gunung api bertipe stratovolcano ini memang dikenal memiliki kawah aktif dengan manifestasi vulkanik seperti solfatara dan fumarol. Namun, kemunculan api biru dalam beberapa waktu terakhir menarik perhatian karena intensitasnya yang tidak biasa. Sejumlah pendaki dan wisatawan sempat mengabadikan momen tersebut, sebelum akhirnya pihak berwenang mengambil langkah preventif.
Bagi Indonesia yang berada di Cincin Api Pasifik, ancaman gas vulkanik menjadi perhatian serius. Papandayan terakhir kali mengalami erupsi besar pada 2002, yang menyebabkan perubahan lanskap kawah dan memaksa evakuasi ribuan warga. Sejak itu, status gunung ini relatif normal, tetapi potensi bahaya tetap ada. Badan Geologi menekankan bahwa pemantauan intensif 24 jam oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) akan terus dilakukan, dan tingkat aktivitas akan dievaluasi secara berkala atau jika terjadi perubahan signifikan.
Kepala PVMBG menambahkan bahwa masyarakat di sekitar gunung, termasuk para pelaku wisata, perlu memahami bahwa blue fire bukan sekadar objek foto. Edukasi mengenai jalur evakuasi dan tanda-tanda peningkatan aktivitas vulkanik harus terus disosialisasikan. "Kami tidak ingin ada korban jiwa hanya karena ketidaktahuan," ujarnya dalam kesempatan terpisah.
Dengan posisi Papandayan sebagai salah satu tujuan wisata alam unggulan di Jawa Barat, larangan ini berpotensi memukul sektor pariwisata lokal. Namun, keselamatan tetap menjadi prioritas. Pemerintah daerah diminta menyiapkan skenario pembatasan akses dan alternatif destinasi bagi wisatawan. Sementara itu, bagi warga yang tinggal di lereng gunung, kesiapsiagaan menghadapi evakuasi mendadak menjadi kunci.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah blue fire akan muncul lagi, melainkan seberapa siap kita menghadapi risiko yang menyertainya. Apakah sistem peringatan dini dan edukasi publik sudah cukup mumpuni untuk mencegah tragedi? Waktu yang akan menjawab, tetapi langkah Badan Geologi setidaknya telah menjadi alarm awal.



