Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick Laporkan Pendapatan Rp4 Triliun, Mayoritas dari Bisnis yang Ditinggalkan
Baca dalam 60 detik
- Howard Lutnick mengungkap penghasilan dan hasil divestasi senilai total lebih dari 250 juta dolar AS selama 2025, dengan komponen terbesar berasal dari distribusi Cantor Fitzgerald.
- Laporan setebal 74 halaman itu memperlihatkan proses pelepasan kepemilikan di Cantor, BGC, dan Newmark yang dilakukan setelah ia masuk kabinet, sekaligus menegaskan posisinya sebagai salah satu pejabat terkaya di pemerintahan Trump.
- Transparansi kekayaan pejabat menjadi sorotan karena berpotensi memengaruhi persepsi publik terhadap independensi kebijakan perdagangan dan investasi Amerika Serikat.

Menteri Perdagangan Amerika Serikat Howard Lutnick melaporkan penerimaan dan hasil transaksi senilai lebih dari 250 juta dolar AS sepanjang 2025, menurut dokumen pengungkapan keuangan tahunan yang dirilis Office of Government Ethics dan diolah CNBC. Angka itu menjadikannya salah satu anggota kabinet terkaya pada pemerintahan Presiden Donald Trump, meski masih jauh di bawah penghasilan kepala negara yang dilaporkan melewati 2 miliar dolar AS.
Komponen terbesar berasal dari distribusi senilai 192 juta dolar AS dari Cantor Fitzgerald, perusahaan jasa keuangan global yang ia pimpin selama puluhan tahun. Dalam berkas setebal 74 halaman itu, pembayaran tersebut dijelaskan sebagai distribusi pajak yang dilakukan sesuai perjanjian etika yang ia tanda tangani sebelum dilantik pada Februari 2025. Karena format laporan federal menggunakan rentang nilai yang lebar, dokumen ini tidak memberi angka kekayaan bersih secara presisi.
Selain Cantor, Lutnick mencatat gaji dan bonus 4,2 juta dolar AS dari Newmark, perusahaan jasa real estat komersial, serta 19,6 juta dolar AS dari penukaran unit kemitraan Newmark. Ia juga menerima 14,1 juta dolar AS dari BGC Group, perusahaan pialang dan teknologi keuangan yang sebelumnya ia pimpin, plus lebih dari 5 juta dolar AS dari unit saham terbatas BGC. Sebagai bagian dari pelepasan kepemilikan, ia melaporkan penjualan aset sedikitnya 259 juta dolar AS, termasuk saham di Newmark, BGC, Cantor Fitzgerald, dan CF Group Management yang masing-masing bernilai lebih dari 50 juta dolar AS.
Dana hasil penjualan itu sebagian besar dialihkan ke instrumen yang lebih netral, dengan pembelian kembali mencapai sedikitnya 166 juta dolar AS. Lutnick membeli lebih dari 50 juta dolar AS exchange-traded fund yang melacak indeks S&P 500 dan dua kali melakukan pembelian masing-masing di atas 50 juta dolar AS pada dana Treasury Fidelity. Langkah ini mencerminkan strategi melepas kepemilikan saham perusahaan yang ia dirikan agar tidak berbenturan dengan jabatan publiknya. Cantor Fitzgerald kini dijalankan oleh dua putra tertuanya.
Meski telah mundur dari ratusan posisi di entitas bisnisnya, Lutnick masih mencatat sekitar 40 jabatan eksternal yang berstatus aktif, umumnya terkait trust, perusahaan properti, dan badan usaha berbentuk LLC. Keberadaan posisi-posisi tersebut dapat menjadi bahan pertanyaan publik mengenai sejauh mana pemisahan antara kepentingan bisnis dan tugas kenegaraan benar-benar terjadi. Sejumlah pengamat etika pemerintahan menilai laporan kekayaan pejabat tinggi adalah uji transparansi, terutama ketika yang bersangkutan memegang portofolio kebijakan perdagangan yang berdampak langsung pada perusahaan-perusahaan tempat ia pernah berkecimpung.
"Pembayaran itu merupakan distribusi pajak yang ditangani sesuai perjanjian etika," demikian bunyi penjelasan dalam laporan pengungkapan tahunan Lutnick, seperti dikutip dari dokumen yang diperoleh CNBC.
Bagi Indonesia, laporan ini lebih dari sekadar catatan kekayaan pejabat asing. Amerika Serikat adalah mitra dagang utama dan sumber investasi signifikan, sehingga setiap sinyal mengenai potensi konflik kepentingan di jajaran pembuat kebijakan Negeri Paman Sam dapat memengaruhi cara pelaku usaha Indonesia membaca arah kebijakan tarif, ekspor-impor, dan iklim investasi. Ketika seorang menteri perdagangan memiliki jejak kepemilikan di sektor jasa keuangan global, pertanyaan tentang netralitas kebijakan menjadi relevan, terutama jika muncul kebijakan yang menyentuh industri keuangan atau perdagangan internasional.
Ke depan, publik akan menantikan apakah dokumen serupa pada tahun berikutnya menunjukkan penurunan keterlibatan bisnis Lutnick atau justru sebaliknya. Jika posisi eksternal yang masih aktif tidak berkurang signifikan, tekanan untuk memperketat aturan pemisahan kepentingan di kabinet AS diperkirakan menguat. Pertanyaannya, sejauh mana transparansi kekayaan pejabat cukup untuk meredam kekhawatiran akan benturan kepentingan dalam pengambilan kebijakan strategis?



