Kelaparan di Oleshky: 2.000 Warga Terkepung, Makan Rumput demi Bertahan Hidup
Baca dalam 60 detik
- Sekitar 2.000 warga sipil, termasuk 50 anak, terperangkap di Oleshky tanpa pasokan pangan sejak Mei akibat perluasan ranjau dan drone Rusia.
- Ukraina melancarkan operasi udara terbesar dengan menjatuhkan empat ton bantuan ke 100 titik, tetapi sebagian besar diduga disita militer Rusia.
- Dugaan penggunaan warga sebagai tameng manusia dan penjarahan pangan sistematis memperkuat indikasi kejahatan perang di wilayah pendudukan.

Oleshky, kota berusia hampir seribu tahun di tepi timur Sungai Dnipro, kini menjelma menjadi neraka bagi sekitar 2.000 warga sipil yang masih bertahan. Sejak Mei 2026, pasokan makanan ke kota yang pernah berpenduduk 24.000 jiwa itu terputus total setelah militer Rusia memperluas ladang ranjau dan memperketat pengawasan drone. Warga yang tersisa—termasuk 50 anak—kini hanya mampu makan sekali sehari berupa sup tanpa kentang, terkadang ditambah rumput purslane yang dipetik dari sela-sela beton.
Krisis ini bukan sekadar dampak perang, melainkan buah dari kebijakan pendudukan yang secara sistematis mengekang akses kemanusiaan. Ukraina menuduh Rusia sengaja membiarkan warga kelaparan sebagai bagian dari strategi mempertahankan wilayah. Sebaliknya, Kremlin menyangkal dan menuduh pasukan Ukraina menghalangi bantuan. Namun, kesaksian warga yang diperoleh The Guardian menggambarkan penderitaan yang tak terbantahkan: seorang perempuan mengaku berat badannya turun dari 110 kg menjadi 67 kg, dan rumah yang ia tinggali musim dingin lalu hangus terbakar.
Pada akhir pekan lalu, otoritas militer Kherson meluncurkan operasi udara skala besar menggunakan drone untuk menjatuhkan sekitar empat ton makanan, air, dan obat-obatan ke 100 titik distribusi. Gubernur militer Kherson, Oleksandr Prokudin, menyebutnya sebagai operasi terbesar sejauh ini. Namun, ia mengakui tidak tahu berapa banyak bantuan yang berhasil disita pasukan Rusia. Sejumlah laporan menyebut tentara Rusia merampas kiriman tersebut, bahkan menangkap salah satu penerima.
Kepala administrasi militer Oleshky, Tetiana Hasanenko, mengungkapkan bahwa kepadatan ranjau meningkat drastis sejak Desember 2025. Kendaraan pengangkut bantuan menjadi sasaran empuk drone dan ranjau, sehingga pengiriman darat nyaris mustahil. "Tidak ada listrik, tidak ada ATM, tidak ada uang tunai. Oleshky tidak berfungsi," ujarnya. Warga yang dulu menanam sayuran untuk dijual ke Krimea dan Kherson kini bahkan tidak bisa menanam untuk diri sendiri.
Yang lebih memilukan, Hasanenko melaporkan seorang pria berusia 74 tahun tewas dibunuh tentara Rusia saat menggali ruang bawah tanah yang tertimbun lumpur—sisa kehancuran Bendungan Kakhovka 2023—untuk mencari makanan kaleng. Mayat-mayat bergelimpangan di seluruh kota karena tidak ada yang berani mengambilnya; drone terus melintas, dan anjing-anjing liar memakan jasad tersebut. "Rusia takut serangan balik akan dimulai dari Kherson, jadi mereka menahan warga sipil sebagai tameng manusia," tuduhnya.
"Rusia dengan sengaja membuat hidup di sana mustahil. Mereka membuat orang-orang kelaparan sampai mati," kata Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha dalam sidang Majelis Umum PBB.
Sybiha menyerukan evakuasi segera dan menyebut Rusia sebagai "satu-satunya penghalang". Isu ini juga diangkat dalam pertandingan Liga Negara Ukraina melawan Hungaria pada Jumat lalu, di mana spanduk "Save Oleshky" dibentangkan. Sementara itu, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengakui adanya "situasi kritis" tetapi menuduh Ukraina memblokir bantuan kemanusiaan.
Bagi Indonesia, krisis Oleshky adalah pengingat keras bahwa konflik bersenjata selalu menempatkan warga sipil sebagai pihak yang paling menderita. Sebagai negara yang menganut politik luar negeri bebas aktif dan aktif mendorong perdamaian, Indonesia memiliki kepentingan moral untuk mendesak penghormatan terhadap hukum humaniter internasional. Ketika pasokan pangan menjadi senjata dan evakuasi dihalangi, dunia—termasuk negara-negara non-blok—harus bersuara. Dampak jangka panjangnya juga terasa pada stabilitas harga pangan global dan rantai pasok, yang bisa memukul negara-negara berkembang.
Pertanyaannya kini: akankah komunitas internasional mampu menembus kebuntuan diplomasi untuk menghentikan penderitaan di Oleshky, ataukah kota itu akan menjadi monumen kelam betapa hukum perang bisa diabaikan begitu saja?



