ASN Kemenekraf Tewas di Latsarmil Komcad, Komisi I DPR Desak Evaluasi Menyeluruh
Baca dalam 60 detik
- Komisi I DPR menuntut TNI dan Kemenhan membenahi prosedur kesehatan serta standar keselamatan pelatihan Komcad setelah seorang ASN Kemenekraf meninggal dunia.
- Insiden diduga akibat heatstroke saat latihan di Lanud Halim Perdanakusuma; korban sempat mengeluh pusing dan pandangan gelap sebelum tak sadarkan diri.
- Anggota dewan menekankan pentingnya skrining kesehatan yang tidak sekadar formalitas dan mekanisme tanggap darurat yang mumpuni untuk mencegah kejadian serupa.

Kematian Vanreko Varkas Bagaskara, aparatur sipil negara (ASN) di Kementerian Ekonomi Kreatif, saat mengikuti Latihan Dasar Militer Komponen Cadangan (Latsarmil Komcad) di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, memicu desakan evaluasi dari Komisi I DPR. Politikus senior TB Hasanuddin meminta Kementerian Pertahanan tidak menganggap remeh insiden yang terjadi pada Sabtu (26/9) tersebut.
Hasanuddin menegaskan bahwa kejadian ini harus diselidiki secara terbuka dan tuntas, bukan sekadar menjadi catatan administratif. Menurutnya, ada tiga aspek yang perlu dibenahi: prosedur pemeriksaan kesehatan, standar keselamatan selama pelatihan, serta mekanisme penanganan keadaan darurat. "Pemeriksaan kesehatan tidak boleh hanya menjadi formalitas," ujarnya saat dihubungi, Minggu (27/9).
Senada dengan itu, Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono menyoroti pentingnya kesiapan fisik dan mental peserta. Ia menilai dukungan medis yang memadai merupakan prasyarat mutlak dalam program Komcad. Dave mengaku mendapat informasi bahwa korban telah menerima perawatan intensif setelah mengalami gangguan kesehatan. "Kita perlu menghormati proses evaluasi yang sedang berjalan agar fakta yang sebenarnya dapat terungkap," katanya.
Kepala RSAU dr. Esnawan Antariksa, Kolonel Kes dr. Iman Fathurrohman, memaparkan kronologi kejadian. Vanreko baru saja menuntaskan sesi pertama penutupan Latsarmil. Ketika akan memulai sesi kedua, ia mengeluhkan pandangan gelap dan pusing, lalu tidak sadarkan diri. Tim kesehatan Pusdikkes yang bersiaga di lokasi segera memberikan pertolongan pertama. "Tim di bawah pimpinan dr. Iriane Dewi langsung melakukan tindakan pertolongan pertama di tempat," jelas Iman dalam keterangan tertulis, Minggu (27/9).
Insiden ini menyoroti celah dalam program Komcad yang menyasar ASN. Sejak digulirkan, program ini menuntut peserta menjalani pelatihan fisik setara dasar militer. Namun, tidak semua ASN memiliki kebugaran yang sama. Kondisi cuaca ekstrem dan intensitas latihan menjadi faktor risiko yang kerap terabaikan. Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa negara memperketat protokol kesehatan dalam pelatihan serupa, termasuk pemantauan suhu tubuh dan hidrasi berkala.
Bagi Indonesia, kasus ini bisa menjadi momentum untuk menata ulang tata kelola Komcad. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap peserta melewati tes kesehatan yang ketat dan berlapis, bukan hanya surat keterangan sehat. Selain itu, keberadaan tim medis dengan peralatan memadai di setiap sesi latihan harus menjadi standar baku. Tanpa pembenahan, kepercayaan publik terhadap program bela negara bisa tergerus.
"Kondisi fisik setiap peserta harus benar-benar dipastikan mampu mengikuti latihan. Apabila dinyatakan tidak siap, peserta tidak perlu dipaksakan," tegas TB Hasanuddin.
Ke depan, Komisi I DPR berencana memanggil pihak-pihak terkait untuk meminta penjelasan rinci. Publik menanti apakah evaluasi ini akan menghasilkan perubahan prosedural yang signifikan atau hanya menjadi rekomendasi tanpa tindak lanjut. Yang jelas, nyawa peserta tidak boleh menjadi taruhan dalam upaya memperkuat pertahanan negara.



